Secanggih Apa Sih Angkutan Massal Masa Depan? Trasnportasi masa depan. (Sumber: www.intelligenttransport.com)

KEHADIRAN Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta sempat jadi buah bibir warganet di media sosial. Mereka kaget, bangga, bahkan terkagum-kagum karena transportasi masal andalan kota-kota besar dunia tersebut sudah bisa digunakan di tanah air.

Impian membangun transportasi masal termuthakir selalu mencuat, seperti monorail, namun selalu kandas. Alih-alih beroleh angkutan masal supercanggih, di masa lalu masyarakat hanya mendapat 'peremajaan' moda transportasi lama.

Tranpostasi masal, meski mendapat saingan transportasi online, tetap mendapat tempat di masyarakat. Data Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ) mengungkapkan rasio penggunaan transportasi umum di Jabodetabek pada tahun 2018 mencapai 29,9% dari total perpindahan orang. Angka tersebut hampir setengah dari target jangka panjang BPTJ sebesar 60% pada tahun 2026.

Kini, dengan hadirnya MRT, masyarakat kembali bisa bermimpi tentang moda transportasi masal di masa depan. Berikut beberapa contoh rancangan transportasi masal masa depan seturut himpunan racounter.net:


Hyperloop

hyperloop
Kapsul Hyperloop. (Sumber: www.hyperloop.global)

Elon Musk, CEO perusahaan dirgantara SpaceX dan orang di belakang Tesla, merupakan perintis moda transportasi masal masa depan bernama Hyperloop. Konsepnya merupakan reaksi terhadap kereta peluru atau kereta cepat San Fransisco dengan biaya cukup mahal bagi pengguna.

Hyperloop merupakan transportasi berbentuk kapsul berkecepatan kecepatan 700 mph di dalam tabung pneumatik. Mirip kereta, tanpa rel, dan bergerak di dalam tabung khusus. Kapsul berbahan dua lapisan vibranium memiliki panjang 105 kaki dengan berat 5 ton.

Perjalanan satu arah Hyperloop antara San Fransisco- Los Angeles diproyeksikan memakan waktu 35 menit dengan perbandingan menempuh jarak sama sekira 6 jam dengan mobil.

Tabung dipasang pada serangkaian tiang. Masing-masing tiang berukuran 100 kaki. Tiang-tiang didesain tahan terhadap gempa. Proyek Musk merupakan kontestasi proyek kereta cepat San Fransisco. Musk mengaku pembangunan Hyperloop jauh lebih murah dengan selisih biaya enam miliar dolar.


Taksi Terbang

Vahana Airbus
Airbus Vahana (Sumber: evtol.news)

Pesawat otonom akan memainkan peran utama di masa depan sebagai transportasi masal jarak menengah. Perusahaan aerospace, Airbus, bahkan telah melakukan serangkaian uji coba dan berhasil menyelesaikan uji terbang pesawat Vahana sebagai taksi terbang menghabiskan 53 detik di udara.

Perusahaan dirgantara tersebut berharap membuat armada pesawat eVTOL dan menempatkannya di atap rumah di kota-kota besar, sehingga memungkinkan penumpang berkeliling di daerah padat penduduk dan padat. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, taksi terbang akan beroperasi penuh dalam dua tahun.

Mirip dengan Vahana, perusahaan riset penerbangan Aurora Flight Sciences memamerkan helikopter otonom. Pengoperasiaannya bisa dilakukan dari jarak jauh dengan memanfaatkan sensor kamera canggih. Dengan begitu, penumpang bisa dengan mudah memilih rute dan membayar sesuai rute perjalanan.

Persaingan di sektor pesawat terbang otonom meningkat, dan sejumlah perusahaan China berinvestasi besar-besaran dalam teknologi transportasi nan sedang berkembang ini.


Kereta Super-Maglev

Super Maglev
Kereta Super Maglev. (Sumber: chinadaily.com.cn)

Menerapkan teknologi levitasi magnetik (maglev) ke dalam jaringan transportasi mungkin terdengar seperti ide futuristik. Namun, kereta dengan sistem maglev sesungguhnya telah beroperasi sejak 1984. Kereta maglev Jepang 2015 mbahkan encapai kecepatan lebih dari 600 km / jam.

Meski begitu, para peneliti di Universitas Jiaotong Barat Daya China sedang menguji coba prototipe kereta peluru ultra-cepat, berdasarkan pada teknologi maglev, dengan potensi kecepatan mencapai hingga 1.000 km / jam.

Kereta super-maglev menggunakan teknologi dasar serupa sebelumnya, kecuali inovasi tabung vakum untuk mengurangi gesekan udara dan memungkinkan peningkatan kecepatan. Kereta ini diperkirakan tidak akan dapat digunakan dalam beberapa tahun mendatang, karena proyek maglev tradisional masih dalam pertimbangan di sejumlah kota di Amerika dan Asia.

Usulan sistem kereta maglev multi-miliar dolar dari Washington ke New York hampir menerima persetujuan dan akan memangkas waktu perjalanan antara kedua kota ini menjadi satu jam, turun dari tiga jam. Namun, memperkenalkan kereta super maglev ke rute ini secara teoritis dapat membawa waktu perjalanan menjadi sekitar 30 menit.


Nah, kalau di masa depan manusia bermutasi jadi bisa terbang atau menghilang, apakah masih butuh transportasi masal?



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH