Sebuah Taman di Austria Dirancang untuk Social Distancing Pandemi COVID-19 membuat gerakan sangat terbatas. (Foto: aufeminin)

BANYAK taman umum telah ditutup selama masa pandemi ini dengan kekhawatiran bahwa aturan jarak sosial tidak akan dijalankan secara maksimal. Namun para ahli rancang eksterior di Austria menemukan cara untuk membuat orang terpisah jarak namun mendapatkan manfaat dari alam.

Di Wina, taman-taman terkenal seperti Schönbrunn atau Belvedere ditutup karena pandemi COVID-19. Jelas membuat orang sulit mendapatkan tempat untuk berolahraga atau sekedar mencari udara segar. Pembatasan semacam itu membuat satu tim desainer berpikir untuk membuat sebuah taman yang menerapkan aturan jarak fisik sebagai dasar rancangan.

Baca juga:

Pulau Kecil di Tengah Atlantik Ini Memiliki Hydrangea Terindah Dunia

1
Taman ini disebut 'Parc de la Distance' (Foto: igenyesferfi)

Studio Precht datang dengan proposal desain untuk bidang tanah kosong di Wina yang diubah menjadi taman yang tetap menerapkan aturan jarak sosial yang disebut 'Parc de la Distance'. Ditata dengan pola berputar-putar, seperti labirin, simpang siur, yang desainnya terinspirasi dari sidik jari.

"Seperti sidik jari, jalur paralel memandu pengunjung melalui lanskap bergelombang. Setiap jalur memiliki pintu gerbang di pintu masuk dan pintu keluar, yang menunjukkan apakah jalur tersebut terisi atau bebas untuk dilalui. Jalur tersebut memiliki jarak 240 cm satu sama lain dan memiliki lebar 90 cm pagar pembatas, "jelas desainer Chris Precht.

Pengunjung berjalan di sepanjang jalan kerikil granit yang alkan menimbulkan bunyi-bunyiaan ketika diinjak. Bunyi-bunyian yang berada di jalur sebelah yang membuat orang akan merasa tetap bersosialisasi meskipun tidak melihat orang lain.

Pengunjung akan dapat larut dengan alam, di waktu lain mereka bisa melongokkan kepala melihat ke seberang taman. Namun, mereka tetap selalu menjaga jarak fisik yang aman dari satu dengan yang lain. Studio Precht mengatakan, jalan setapak mengikuti pola bergelombang taman zen Jepang menuju pusat dengan air mancur. Dari sana, pengunjung terus berputar ke arah keluar.

Baca juga:

Labirin Lavender, Salah Satu Tempat Paling Santai di Bumi

2
Jalan setapaknya mengikuti pola bergelombang taman zen Jepang (Foto: dezeen)

"Perjalanan akan memakan waktu sekitar 20 menit dan menawarkan sesuatu yang sangat unik untuk ukuran daerah perkotaan yang ramai. Mereka memiliki waktu singkat sendiri, mengucilkan diri sementara dari publik. Saat untuk berpikir, bermeditasi atau hanya berjalan sendirian di alam," tambah Chris.

Meskipun proposal itu dirancang dengan dasar pertimbangan bagi Wina, Studio Precht mengatakan konsep ini dapat diadaptasi dimana saja dan akan bertahan seiring waktu. Bahkan ketika kita bisa berjalan berdampingan lagi. (lgi)

Baca juga:

Spektakuler! Pertunjukan Seni Unik di Lereng Perbukitan Ini Menghipnotis

Kredit : leonard

Tags Artikel Ini

Leonard

LAINNYA DARI MERAH PUTIH