Sebelum Berkembang Prasmanan, Masyarakat Palembang Muliakan Tamu dengan dengan Tradisi Ngidang Tradisi ngidang cara masyarakat Palembang menghormati tamu. (Foto: instagram.com/her_window)

MASYRAKAT Palembang memiliki banyak tradisi warisan leluhur. Salah satunya ngidang yang merupakan penyajian makanan biasanya dilakukan kala menyabut atau menghormati tamu dalam sebuah acara.

Dalam budaya Melayu menghormati dan memuliakan tamu menjadi sesuatu yang sangat dianjurkan. Nah, ngidang atau sering juga disebut “ngobeng” ini merupakan peninggalan masa Kesultanan Palembang .

1. Setiap ngidang disediakan untuk porsi delapan orang

Setiap ngidang disediakan untuk porsi delapan orang. (Foto: instagram.com/eva_wahyu)
Setiap ngidang disediakan untuk porsi delapan orang. (Foto: instagram.com/eva_wahyu)

Ngidang merupakan tata cara penyajian makanan saat ada acara sedekahan (kendurian) dan pernikahan, yang dilakukan secara lesehan dengan membagi setiap hidangan atau kelompok hanya terdiri atas delapan orang.

Hidangan digelar pada selembar kain dengan tempat nasi berupa nampan ditempatkan pada bagian tengah.

Dalam tiap hidangan itu terdapat beberapa komponen penting selain nasi putih atau nasi minyak yang berada di tengah hidangan, ada “iwak” atau lauk seperti rendang, malbi, opor, ayam kecap, kemudian “pulur” terdiri dari buah-buahan dan sayuran seperti nanas, acar, dan sambal.

Lalu juga disediakan piring dan cangkir. Sementara untuk mencuci tangan, ada petugas khusus yang disebut “ngobeng” yang akan melayani langsung para tamu. Ia membawa ceret air berserta wadah sisa air bilasan.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Fakta-Fakta Unik Hubungan Warga Lampung dengan Gajah Sumatera

2. Selama ngidang para tamu dilayani kebuhutannya

  Selama ngidang para tamu dilayani kebuhutannya. (Foto: instagram.com/irintiko)
Selama ngidang para tamu dilayani kebuhutannya. (Foto: instagram.com/irintiko)

Dalam penataan makanan ini dilakukan secara silang, yakni iwak diharuskan berdampingan dengan pulur agar tata krama ketika bersantap benar-benar Islami. Para tamu udangan tidak perlu menggerakkan tangan terlalu jauh untuk menjangkau piring lauk pauk.

Uniknya selama proses ini berlangsung, tak henti-hentinya para tamu undangan dilayani oleh ngobeng. Mereka benar-benar akan diperhatikan kebutuhannya, semisal ingin meminta tambahan nasi atau lauk pauk.

Namun, asal tahu saja ketika berada di dalam satu kelompok hidangan maka dengan sendirinya para tamu undangan menjaga perilakunya. Pada umumnya tidak akan mengambil makanan secara berlebihan, karena toh bisa minta ditambah jika masih ingin.


3. Tidak ada antrean dalam budaya ngidang

Tidak ada antrean dalam budaya ngidang. (Foto: instagram.com/dinamerani)
Tidak ada antrean dalam budaya ngidang. (Foto: instagram.com/dinamerani)


Tradisi ngidang sungguh berbeda dengan tata cara prasmanan ala “prancisan” yang terkadang membuat makanan terbuang percuma (mubazir) lantaran tamu undangan mengambil terlalu banyak.

Belum lagi adanya ketentuan harus mengantre, yang dipandang dalam tradisi Palembang kurang elok dalam memperlakukan tamu.

Memang dalam tradisi ini ada kesan repot karena diperlukan banyak “ngobeng” dan peralatan makan. Namun jika ditelisik lebih dalam, maka di sinilah letaknya membangun budaya gotong royong dan kebersamaan di kalangan umat karena umumnya jiron dan tetangga akan bahu membahu membantu empu rumah.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Rileks di Borobudur, Yuk Coba Yoga dari Dagi Abhinaya


4. Penghormatan bagi para orang tua saat ngidang selalu diutamakan

  Penghormatan bagi para orang tua saat ngidang selalu diutamakan. (Foto: Instagram @akbarwaskita)
Penghormatan bagi para orang tua saat ngidang selalu diutamakan. (Foto: Instagram @akbarwaskita)

Pada masa silam, dipastikan anak-anak muda terutama laki-laki dan kalangan orangtua di sekitar kendur akan sigap membantu tuan rumah untuk melayani tamu. Mereka berdiri berjajar secara estapet mengoper pirim-piring kecil makanan yang berisikan lauk pauk. Belum lagi, ada yang sigap membantu mencucikan tangan dan memberikan gelas berisikan air minum.

Kesibukan yang terjadi ini dikenal dengan istilah "besaji" dan "beringkes" atau menghidangkan makanan dan sekaligus merapikan semua kebutuhan.

Saat bersantap bersama dalam satu hidangan ini sudah barang tentu akan muncul suasana akrab karena anggota keluarga yang jarang berjumpa akan bertegur sapa melepaskan kangen.

Tata cara bersantap secara islami tentunya akan benar-benar terasa dalam tradisi ini. Bagaimana yang muda akan mempersilakan terlebih dulu para orangtua untuk mengambil nasi, sembari menyiapkan piring dan air minumnya.

Sebagai penutup, biasanya yang empu rumah akan mengeluarkan kuliner khas Palembang berasa manis seperti kue serikaya hijau. Saat ini biasanya dimanfaatkan para undangan untuk saling bersenda gurau.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: 50 Kota Paling Banyak Dikunjungi Seluruh Dunia, Paris Menduduki Urutan Atas

5. Ngidang mulai tergeser dengan hidangan prasmanan

 Ngidang kini mulai tergeser dengan hidangan prasmanan. (Foto: instagram.com/eva_wahyu)
Ngidang kini mulai tergeser dengan hidangan prasmanan. (Foto: instagram.com/eva_wahyu)

Sebenarnya, eksistensi tradisi ini masih sangat terasa pada era tahun 80-90-an, namun seiring dengan perkembangan zaman mulai luntur. Meski rumah-rumah adat Palembang yang bisa menampung hingga 10 hidangan masih ada, tapi masyarakat mulai beralih pada cara yang lebih praktis ala “prancisan”.

Padahal menyantap hidangan secara bersama-sama ala "ngobeng" ini dinyakini warga keturanan asli Palembang lebih berkat jika dibandingkan cara prasmanan yang mulai akrab pada kehidupan masyarakat modern.

"Justru lebih hemat dan tidak mubazir karena undangan mengambil seperlunya saja, mengingat hidangan dibagi dalam piring-piring kecil. Jadi dinyakini lebih berkat," kata Khadijah, salah seorang warga keturunan asli Palembang seusai menghadiri acara perayaan akikah di kawasan sekitar tempat tinggalnya di 2 Ilir, seperti dikutip Antara. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Fakta Menarik Pasar Tanah Abang, Peninggalan Belanda yang Masih Bertahan


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH