SEBANGSA OLAHGAYA

Yudi Anugrah NugrohoYudi Anugrah Nugroho - Selasa, 04 Juli 2023
SEBANGSA OLAHGAYA
Ilustrasi Sebangsa Olah Gaya. (MP/Fauzan)

PEMIKIRAN gue nih. Lo punya duit, lo punya kuasa. Tapi buat gue enggak. Ibaratnya gue enggak bermateri lawan orang bermateri. Bisa jadi gue menang soal pemikiran gaya, gitu. Ingat bang, gaya! Bukan pemikiran. Mungkin Bang Bayem emang keren soal pemikiran tetapi kata warganet, “minimal mandi”. Kenapa? Ternyata modal utama kalau udah KO soal materi mending ngolah gaya, baru selanjutnya pemikiran, karena kesengsem itu kan kebanyakan dari "pandangan pertama" bukan ceban pemahaman pertama. Apalagi bergaya kan enggak tegak lurus dengan banyaknya fulus.

Keliru paham kalau bergaya itu harus ikut tren, dan tiap ada tren baru harus punya outfit baru memang sebaiknya jadi red flag. Pada 2019, seturut Laporan Bappenas, industri tekstil di Indonesia menyumbang limbah sebesar 2,3 juta ton, lalu diperkirakan meningkat 68 persen menjadi 3,5 juta ton pada tahun 2030. Bahkan, saat angkanya masih 2,3 juta, nyatanya hanya 300.000 ton saja bisa didaur ulang, sementara sisanya berakhir di tempat sampah. Nah, dari situ, kamu masih mau ikutan jadi penyumbang limbah fesyen dengan borong pakaian sampai selemari penuh tapi kalau di pakai pun cuma sekali seumur hidup.

Lagian tren fesyen sekarang justru ngedukung banget buat bongkar isi lemari untuk disulap jadi gaya kekinian. Misalnya, di lemari masih ada jersey lama klub bola, bisa banget dibuat Bloke Core style kayak pesepakbola Hector Bellerine. Gara-gara tren itu, sekarang harga jersey klasik justru jauh lebih mahal berkali lipat dibanding jersey baru. Nyesel banget enggak sih dulu pernah buang jersey lama karena dipikirnya udah ketinggalan zaman. Emang kenapa sih styling pake pakaian lama, kan vintage. Coba deh tampil lebih classy dari hasil bongkar isi lemari nokap-nyokap.

Ya, gaya Old Money atau Orang Kaya Lama memang fokus pada item luxury fesyen lama atau vintage supaya punya kesan si pengguna emang udah tajir melintir dari kakek moyangnya. Jadi, enggak perlu beli barang branded baru. Kan bukan kayak Orang Kaya Baru (OKB) maunya ikut semua tren fesyen, serba-branded dari ujung kepala sampai ujung kaki, meski enggak cocok mentok. Terus, satu hal lagi dan paling penting selain olah outfit, Old Money style itu tentu tentang attitude. Kadang ada orang pakaiannya sangat amat standar tapi dari attitudenya mencerminkan Old Money abis. Begitu memang fesyen bermakna, bukan sebatas ingin tampak tampil keren, tetapi tentang representasi diri.

Selain dua tren terbaru dengan barang lama itu, ada fenomena unik di antara Gen Z hingga Alpha tentang kegandrungan thrift atau second bagi Boomers dan Milenials. Di samping adanya pro-kontra tentang thrifting, paling tidak ada kesadaran pada anak muda untuk mengolah gaya mereka dari barang bekas layak guna hingga dianggap sebagai limbah fesyen. Setelah sadar olah busana, secara bertahap mereka mulai tergerak tentang literasi keuangan, lalu lingkungan, bahkan sampai wellness. Gerak perubahan memang bisa datang dari mana saja. Usaha kecil untuk tak jadi mata rantai fast fashion saja punya dampak besar terhadap lingkungan.

Langkah kecil atau sederhana menuju perubahan itu menjadi esensi Merahputih.com menaja tema OLAHGAYA sepanjang Juli 2023. Mungkin akan banyak orang buang muka dengan usaha “si melek fesyen” dalam memperbaiki keadaan sosial dan politik. Namun, bisa tengok sepak terjang Suara Ibu Peduli (SIP) di tengah arus Reformasi. Mereka memang tampak mencolok selain karena sebarisan berisi perempuan, juga bersolek. Tuntutannya enggak muluk-muluk. SIP memprotes tingginya harga bahan pokok, terutama susu. Pada aksinya pun para ibu-ibu membagikan bunga kepada para tentara jauh sebelum pecahnya bentrok antara mahasiswa dan polisi juga tentara. Para penggerak utama SIP pun sempat masuk bui karena dianggap gerakan mereka disusupi ideologi komunis. Ternyata, gerakan para ibu bersolek secara penampilan dan pemikiran mampu menyulut gelombang besar demonstrasi menuntut Soeharto mundur.

Apa masih malu buat bersolek, olahgaya? Memangnya ada orang tak sama sekali bersolek saat akan berkegiatan sebab memilih pakai baju apa saja sesungguhnya udah jadi bagian dari bersolek. Dan, sekali lagi, mengolah koleksi fesyen lama buat outfit bukan lagi momok. Aldi Taher aja bangga tetap pakai sneakers dilakban ketika pentas. INTINYA LOOK HOW THE SHINE FOR YOU. (*)

#JULI SEBANGSA OLAHGAYA
Bagikan
Bagikan