Sayang Anak Tanam Pohon! Tradisi Menanam Pohon Ketika Anak Lahir Ilustrasi pohon kehidupan Wayang Beber. (Foto, KITLV)

SUNARTI Sri Hadiah mengajak putrinya ke halaman belakang rumah keluarga di Magelang. Mereka berkeliling menikmati rimbun pepohonan, sahutan kicau burung, dan harum perdu. Langkah Sunarti terhenti begitu mendapati pohon kelapa besar di hadapannya.

"Ani, itu pohon ibu," katanya menunjuk pohon kelapa. "Dan itu punya pamanmu. Yang di sana punya pakde kamu".

Di tengah anggukan penuh kebingungan putri nomor tiga itu, Sunarti mencoba menjelaskan hubungan pohon-pohon itu dan keluarga besarnya.

Keluarga besar Kartowilogo, lanjut Sunarti, punya tradisi setiap mengandung atau anak lahir harus menanam pohon. Kelak pohon itu akan menjadi bekal si anak. Tiap bagian pohon bisa dimanfaatkan untuk bahan sandang, pangan, dan papan.

Penjelasan itu tentu membekas bagi Ani. Ia memang tak langsung mengerti tentang kebiasaan menanam pohon keluarganya. Pengetahuan itu mengendap selama puluhan tahun. Memorinya tentang tradisi itu kembali mencuat ketika Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB tahun 2007.

Ia, sebagai ibu negara, mencoba mengadaptasi tradisi di keluarganya untuk diterapkan sebagai gerakan nasional "Satu Anak Satu Pohon". "Konsep ini kuadaptasi dari kebiasaan leluhur di Magelang," ungkap Ani Yudhoyono pada Alberthiene Endah dalam Kepak Sayap Putri Prajurit.

Ani Yudhoyono kemudian berkeliling mengampanyekan agar setiap orang tua menanam minimal satu pohon saat melahirkan anak.

Kebiasaan keluarga besar Ani Yudhoyono di masa lalu bukan kegiatan asing. Di banyak daerah di Nusantara tradisi menanam pohon tiap akan lahir anak telah berlangsung turun-temurun.

Pohon merupakan unsur terpenting semesta. Orang Jawa mengenal Pohon Hayat sebagai sumber kehidupan. "Hayat" berarti "hidup" atau "kehidupan". Pohon hayat dilekatkan pula pada "Kayon" atau gunung pada pewayangan. Gunungan berisi gambaran asal mula kehidupan.

"Gambar-gambar di dalam Kayon mengabarkan alam semesta lengkap dengan isinya," tulis Ciptowardoyo pada Wayang sebagai Media Pendidikan Ditinjau dari Makna dan Filosofinya.

Tak heran bila pohon dianggap begitu penting bagi masyarakat Jawa. Meski begitu, di masa kini tradisi menanam pohon kala melahirkan anak tak lagi lestari. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH