Satu dari Tiga Orang dengan Diabetes Melitus Berisiko Buta Diabetes melitus bisa menyebabkan kebutaan (Foto: Pexels/PhotoMIX Ltd.)

SALAH satu penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan merupakan penyakit Diabetes Melitus. Penyakitnya dinamakan Diabetik Retinopati (DR). Penyakit ini merupakan salah satu komplikasi mikrovaskular diabetes melitus dengan angka prevalensi yang cukup tinggi.

Berdasarkan data penelitian di beberapa daerah Indonesia diperkirakan prevalensi retinopati diabetik sebesar 42,6%. Setidaknya akan ditemukan 24.600 orang dengan retinopati diabetik dan sekitar 10% dari jumlah tersebut mengalami kebutaan.

Baca juga:

Polusi Suara Menyebabkan Diabetes?

Jumlah ini diperkirakan akan meningkat pada tahun 2030 dengan estimasi 98.400 orang menderita diabetes dan sekitar 11.000 orang di antaranya mengalami kebutaan. Kondisi ini permanen dan tidak dapat diobati. Oleh karena itu, maka pencegahan dan pengobatan menjadi hal yang penting.

"Penting bagi pasien Diabetes Melitus, terutama yang mengidap Diabetes Melitus lebih dari lima tahun untuk memeriksakan retinanya," kata Prof. dr. Arief S Kartasasmita, SpM (K), M.Kes, MM, PhD sebagaimana tertulis di berita pers yang diterima merahputih.com.

Pengidap diabetes melitenus tahunan harus melakukan pemeriksaan retina mata (Foto: Pixabay/stevepb)

DR yang semakin berkembang akan mengakibatkan Diabetik Makular Edema (DME). Pada orang yang menderita DME, maka kualitas penglihatan akan semakin menurun seperti adanya titik hitam, buram dan melihat garis bergelombang.

DME yang tidak segera diobati sejak dini dan tidak terkendalinya kadar gula darah akan mempercepat proses terjadinya kebutaan. DME terjadi ketika kebocoran cairan ke pusat makula. Makula merupakan bagian peka cahaya dari retina yang bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan langsung.

Baca juga:

Tangani Diabetes dengan Sarapan Susu

Dalam suatu penelitian terhadap 1.184 orang berusia lebih dari 30 tahun dengan Diabetes Melitus tipe 2 di Yogyakarta menunjukkan prevelensi DR yang tinggi dan DR yang mengancam penglihatan (VTDR - Vision-Threatening Diabetic Retinopathy). Sekitar 1 dari 4 orang dewasa menderita VTDR. 1 dari 12 orang dengan VTDR akan mengalami kebutaan.

Pengobatan dini bisa mengurangi risiko kebutaan (Foto: Pixabay/blueberrykings111)

Pada pasien Diabetes Melitus menahun, perubahan tingkat gula darah dari waktu ke waktu dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil di dalam retina. Serta dapat menyebabkan komplikasi yang memiliki konsekuensi parah dalam hal morbiditas. "Komplikasi umum Diabetik Retinopati adalah Diabetik Makular Edema, biasa dikenal sebagai DME," tambahnya.

Untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas penglihatan, pasien DME untuk harus segera diberikan pengobatan yang tepat. Tanpa pengobatan, dengan menggunakan pemeriksaan ketajaman mata (ETDRS), pasien DME dapat kehilangan 2 baris dari penglihatannya dalam waktu 2 tahun pertama.

Dengan diagnosa dini dan pengobatan yang tepat, kemungkinan pasien kehilangan penglihatan dapat diminimalkan dan bahkan dipulihkan.

Saat ini juga ada pengobatan terbaru dengan terapi anti-VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor). Ini merupakan terapi Aflibercept yang membantu mengurangi gangguan penglihatan serta kebutaan pada pasien. Pengobatan ini juga membantu meningkatkan hasil terapi pada pasien usia produktif dan usia lanjut. (ikh)

Baca juga:

Awas, Merokok Bisa Sebabkan Kebutaan

Kredit : digdo


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH