Santoso Ardiansyah, Dari Gagal Seleksi Persib U-21 Hingga Jadi Juara IBrC 2020 Santoso Ardiansyah, pemenang IBrC 2020 (Foto: side.id/Prassso)

SANTOSO Ardiansyah akhirnya bisa bernapas lega setelah selesai menjalani kompetisi Indonesia Brewers Cup Championship (IBrC) 2020 selama tiga hari. Santoso berhasil masuk ke babak final dalam bagian kompetisi kopi Indonesia Coffee Events (ICE) 2020 yang dihelat di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, pada 12-15 Februari 2020 lalu itu.

Santoso Ardiansyah bertanding di babak final IBrC di hari penutupan ICE 2020 bersama lima finalis lainnya. Saat juri mengumumkan para pemenang, Ardi, sapaan karibnya, mengaku begitu tegang. Dia sama sekali tidak pernah mengira dapat keluar menjadi juara pertama IBrC 2020.

Baca juga:

Selamat! Santoso Ardiansyah Siap Wakili Indonesia di WBrC 2020

"Ketika diumumin peringkat 6, 5, dan 4 saya mengira nama saya yang akan disebut," cerita Ardi kepada merahputih.com saat ditemui di kafe tempatnya bekerja, a tale of Two Coffee Beans, Gading Serpong, beberapa waktu lalu.

Pewara yang mengumumkan nama pemenang sama sekali tidak menyebut nama Ardi hingga masuk ke peringkat 2. Hanya sisa nama Ardi dan Harison Chandra, yang juga menjadi mentor brewer ardi. Namun, tanpa pernah disangka Ardi sebelumnya, sang pewara pun menyerukan nama Ardi sebagai juara pertama IBrC 2020.

Ardi mengaku sangat terkejut. Sang mentor, Harison Chandra pun tak kalah girangnya ketika mengetahui anak didiknya berhasil keluar jadi juara. "Target saya tahun ini top 6 sebenarnya," tutur Ardi.

Kompetisi IBrC 2020 merupakan kompetisi kopi keempat yang pernah diikuti pria 24 tahun itu. Namun, Ardi memang barista muda yang berbakat. Di kompetisi pertamanya Battle of Brewers (BOB) pada 2017 silam, di Clique, Gading Serpong, ia juga berhasil merebut gelar juara.

Ardi pernah mengikuti seleksi Persib U-21 (Foto: side.id/Prassso)

Dua tahun berikutnya, secara berturut-turut, ia tetap eksis mengikuti ajang kompetisi kopi. Pada tahun 2018 dan 2019, ia juga mengikuti IBrC. Sayang dia harus puasa gelar selama dua tahun. Barulah Ardi menjadi juara pertama IBrC 2020.

Meski sangat ahli sebagai brewers atau barista, rupanya Ardi benar-benar memulai karier di dunia kopi dari nol. Ardi sama sekali tidak memiliki pengalaman menjadi seorang barista sedikitpun.

Awalnya, pria asal Cirebon itu mencoba peruntungan sebagai seorang atlet. Pada 2014 silam, saat berusia 18 tahun, ia pernah mengikuti seleksi klub sepakbola Persib Junior. Posisi dia gelandang kanan kala itu.

Ardi sangat lihai bermain di atas lapangan hijau. Dia berhasil melewati setiap tes masuk Persib U-21. Hingga akhirnya, dia harus menerima kenyataan, dirinya tidak ditakdirkan menjadi seorang atlet. Ia gagal melewati tes tahap terakhir.

Baca juga:

'Fashion' dan Kopi, Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan

Bukan, tes tahap terakhir bukan menguji kemampuan Ardi memainkan si kulit bundar. Ia tidak diterima klub lantaran gagal melewati tes medis. "Otot tendon saya kata dokter terkikis, di umur 23 katanya saya bisa cedera parah," kenang Ardi.

Otot tendon Ardi terkikis karena sebelumnya ia aktif bermain futsal saat duduk di bangku SMK. Pemain futsal, kata Ardi, rentan memiliki masalah pada lutut. Penyebabnya karena lapangan futsal yang pendek, membuat pemain tidak bisa berhenti dengan benar usai berlari.

Gagal jadi pemain bola, Ardi pun melanjutkan perjalanan hidupnya di dunia desain grafis, hingga mencoba peruntungan menanam tanaman hidroponik. Keduanya tidak ditekuni olehnya.

Ardi sosok yang mau belajar (Foto: side.id/Prassso)

Hingga pada akhirnya pada tahun 2016, ia bergabung di a tale of Two Coffee Beans. Sang owner, Aang Sunadji, mengaku lebih tertarik merekrut barista baru yang mau belajar, bukan yang sudah berpengalaman. "Saya suka membentuk sih, bukan hijacked," tutur Aang kepada merahputih.com di a tale of Two Coffee Beans.

Menurut Aang, sosok Ardi sangat tidak biasa. Ardi memang anak bawang di dunia perkopian pada awalnya. Akan tetapi, karakter Ardi yang mau belajar merupakan modal berharga yang ia miliki. "Dia itu seperti spons, mau nerima banyak masukan," papar Aang.

Aang pun tidak pernah menyangka, anak didiknya itu dapat menjadi barista berbakat. Jangankan kompetisi sekelas IBrC. Aang juga tidak yakin Ardi bisa menjadi juara pertama di BOB 2017.

Namun, menariknya, kata Aang, Ardi bisa memikat hati hampir semua juri untuk menjadi juara pertama BOB. "Pas final BOB ada 11 juri, sembilan juri milih kopi dia, itu jarang terjadi," katanya.

Kini, Ardi pun tengah mempersiapkan dirinya di kompetisi World Brewers Cup Championship (WBrC) pada Mei 2020 mendatang di Melbourne Australia.

Ardi berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Indonesia di ajang kompetisi kopi dunia itu. "Persiapan saya memperdalam bahasa Inggris, dan bikin konsep (kopi) baru," tukas Ardi. (ikh)

Baca juga:

Bedanya Gaya Ngopi Orang Jakarta dan London

Kredit : digdo


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH