Fenomena Suhu Tinggi di Timteng Bisa Bikin Indonesia Lebihi 50  Derajat Celcius? Ilustrasi: Warga mendinginkan tubuhnya di air mancur di Paris, Prancis, Selasa (25/6). ANTARA FOTO/REUTERS/Eric Gaillard/pras.

Merahputih.com - Negara-negara di timur tengah mengalami fenomena suhu tinggi. Apakah kejadian itu berpengaruh pada Indonesia?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai fenomena suhu tinggi di Timur Tengah (Timteng) diperkirakan tidak akan berdampak pada wilayah Indonesia.

"Sistem sirkulasi udara yang menyebabkan gelombang panas di Timur Tengah berbeda dan tidak mengarah atau menuju ke Indonesia," ujar Deputi Klimatologi BMKG Herizal, Senin (1/7).

Selain itu, sangat kecil peluang suhu panas yang mencapai lebih dari 50 derajat Celcius terjadi di Indonesia. Berdasarkan catatan BMKG, suhu maksimum di Indonesia tidak pernah mencapai 40 derajat Celcius.

BACA JUGA: Penjelasan BMKG Embun di Dataran Tinggi Dieng Membeku

Di Indonesia sendiri, suhu udara tertinggi yang pernah tercatat adalah 39,5 derajat Celcius pada 27 Oktober 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Menurut Herizal, suhu panas yang dirasakan di Timur Tengah akibat dari perluasan gelombang panas yang menyerang India sejak beberapa pekan sebelumnya.

Ilustrasi: Petugas tengah mengamati monitor prakiraan cuaca di gedung pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (MP/Rizki Fitrianto)

Gelombang panas terjadi di India, Pakistan, Afghanistan, Turkmenistan, Iran, dan Arab Saudi. "Suhu permukaan di wilayah-wilayah yang terpapar gelombang panas terukur bervariasi antara 34 derajat hingga 51 derajat Celcius," jelas dia.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Dunia (WMO), suhu tertinggi tercatat di Stasium Basrah-Hussein (Irak) sebesar 50,4 derajat Celcius dan Stasiun Mitribah (Kuwait) sebesar 51,4 derajat Celcius pada 10 Juni 2019.

BACA JUGA: Daerah Ini Bakal Dihantam Gelombang Laut Hingga 4 Meter, BMKG Minta Masyarakat Waspada

Suhu panas juga terjadi di Paris dan Lyon di Prancis yang mencapai 34 derajat Celcius. "Berdasarkan pola klimatologis, wilayah Timur Tengah memang memiliki suhu tinggi pada periode Juni, Juli, dan Agustus akibat posisi gerak semu tahunan matahari yang berada di belahan bumi utara," jelas dia dikutip Antara.

Kondisi itu juga didukung faktor geografis wilayah yang terletak pada lintang 20 hingga 30 dan umumnya memiliki iklim gurun sehingga memiliki kandungan uap air yang relatif lebih sedikit dibandingkan wilayah pada lintang lainnya, demikian Herizal. (*)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH