Sampah di Pantai Kuta kian Parah, Hamish Daud dan Eka Rock Turun Tangan Hamish Daud bersama aktivis lingkungan bersihkan sampah di Pantai Kuta (Foto: Instagram/@hamishdw)

MerahPutih.Com - Masalah sampah di sejumlah kawasan pantai wisata Bali sudah jadi rahasia umum. Banyak wisatawan yang mulai risih dengan tumpukan sampah tapi sedikit sekali yang berani bicara.

Banyaknya sampah yang berserakan di Pantai Kuta contohnya, kerap menjadi sorotan pemerhati wisata. Tapi sayang, sedikit yang mau beraksi turun tangan pungut sampah. Masyarakat Bali bukannya acuh tak acuh dengan masalah sampah, hampir tiap minggu selalu ada kegiatan bersama membersihkan sampah di sejumlah pantai di Bali namun hasilnya belum maksimal.

Terdorong dengan keprihatinan terhadap sampah, Hamish Daud dan Eka Rock dari Superman Is Dead ikut berpartisipasi dalam kegiatan memungut sampah di Pantai Kuta. Dengan menggunakan kapit dari kayu, kedua selebritas tersebut rela menjadi pemulung.

Selain selebritis, beberapa aktivis lingkungan hidup juga tampak sibuk, capit sana capit sini, memunguti sampah. Mereka adalah Melati Wijsen dan adiknya Isabela Wijsen, pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) "Bye Bye Plastic Bag" dan Suzy Hutomo, Aktivis Lingkungan Founder SustainableSuzy.com dan Presdir The Body Shop Indonesia, sibuk menggali-gali pasir untuk mencapit sampah organik dan non organik yang dibuang sembarangan oleh para turis.

"Pagi ini, beberapa selebritis dan aktivis lingkungan hidup serta pejabat menjadi pemulung sampah dadakan," kata Safri Burhanuddin, Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Kemaritiman), sambil tertawa.

Bangsa Indonesia mendapat tamparan keras dari hasil penelitian Dr Jenna Jambeck, pengajar Universitas Georgia. Hasil penelitian Jambeck tahun 2015 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang tercatat sebesar 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton, kata Safri.

Bebas Sampah Pemerintah Indonesia bertekad dan telah mendeklarasikan negara ini bebas dari sampah pada tahun 2025. "Aksi para selebritis, aktivis lingkungan hidup dan pejabat pemerintah memunguti sampah sampai di Pantai Kuta adalah wujud nyata dan bagian promosi stop pencemaran sampah di laut," kata Safri Burhanuddin, Deputi IV Kemenko Kemaritiman.

"Kegiatan pagi ini merupakan prakarsa Melati Wijsen, remaja putri yang peduli terhadap stop pencemaran sampah plastik. Dalam mewujudkan Indonesia bebas sampah tahun 2025, bukan hanya tugas pemerintah, tapi harus didukung oleh partisipasi masyarakat," katanya.

Melati Wijsen dan Isabela Wijsen, remaja putri, yang masih berumur 17 tahun dan 15 tahun. Keduanya adalah pendiri LSM "Bye Bye Plastic Bags" dan "Satu Pulau Satu Suara" yang sangat peduli terhadap aksi dan promosi stop pencemaran sampah plastik.

Tahun lalu, tepatnya pertengahan Juni 2017, kedua remaja putri asal Bali itu, diundang ke kantor PBB di New York, Amerika, untuk berpidato pada acara World Ocean Day 2017 menjelaskan aksi genderang perang terhadap sampah plastik melalui LSM nya "Bye Bye Plastic Bag". Dan, menargetkan Bali bebas sampah plastic.

Tak lama kemudian, tepatnya pertengahan November 2017, Melati dan Isabel Wijsen meraih penghargaan "Bambi" di Jerman atas aksi dan upayanya memerangi sampah.

"Kampanye Satu Pulau Satu Suara (One Island One Voice) tahun ini semakin diperluas di lebih dari 100 lokasi di Bali dari 55 lokasi pada 2017, dengan mengajak lebih kurang 25.000 orang partisipan dibandingkan 12.000 partisipan tahun 2017," kata Melati Wijsen.

"Kampanye kali ini tidak hanya berpusat di Bali, namun juga mengajak partisipasi masyarakat di seluruh penjuru Indonesia untuk bersama-sama melakukan kegiatan bersih-bersih," tambah Melati.

Aksi bersih-bersih sampah di Pantai Kuta itu merupakan prakarsa komunitas "Satu Pulau Satu Suara" yang dimulai dari darat, pinggiran sungai, hingga sepanjang pesisir pantai di wilayah tempat tinggal mereka masing-masing.

"Kampanye Satu Pulau Satu Suara ingin melakukan sesuatu yang lebih dari hanya meningkatkan kesadaran mengenai masalah sampah plastik tetapi kami juga ingin memberikan contoh bahwa organisasi, dunia usaha, desa dan individu menciptakan solusi masing-masing untuk mengurangi sampah plastik sehingga yang lain bisa melakukan hal yang sama," tutur Melati Wijsen.

Upaya Sederhana Sangat mudah untuk menjadikan Indonesia bebas dari sampah seperti yang dilakukan oleh Hamisd Daud, suami dari penyanyi kondang Raisa, dan Suzy Hutomo, Presdir The Body Shop Indonesia. Asal ada kemauan maka ada jalan.

Hamish sebagaimana dilansir Antara Sabtu (4/3) mengatakan, "Sebagai orang yang tumbuh besar di Bali, laut seakan menjadi rumah kedua. Kedekatan dengan laut yang membuat saya menyadari bahwa kondisi laut semakin hari semakin memburuk. Salah satu penyebabnya adalah sampah plastik. Langkah sederhana yang saya lakukan adalah mengurangi sampah plastik adalah dengan membawa botol isi ulang kemanapun ia berpergian dan tidak lagi minum menggunakan sedotan plastik.

"Pemakaian sedotan plastik sekarang telah menjadi lifestyle. Semenjak melihat dokumentasi dari pemakaian sedotan plastik yang berimbas buruk bagi lingkungan dan species laut, maka saya tidak pernah lagi memakai sedotan, apalagi jika sedang traveling. Tidak menjadi masalah tanpa sedotan, cobalah jadi kreatif dari pada menggunakan sampah plasik," kata Hamish.

Aktivis lingkungan hidup, Suzy Hutomo Presdir The Body Shop Indonesia yang ikut jadi pemulung dadakan di Kuta, mengatakan, sejak tahun 2008 perusahaan produk kecantikannya peduli terhadap sampah plastik dari kemasan produknya.

"Kami mengeluarkan program 'Back Our Bottle' (BBOB) kembalikan botol kami merupakan gagasan untuk mengelola sampah kemasan. Program ini sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun dan berhasil mendapatkan penghargaan. Berdasarkan data selama tahun 2017, sekitar 1,2 juta kemasan kosong The Body Shop dikembalikan oleh pelanggan," pungkas Suzy Hutomo.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH