Sambut 1 Suro, Keraton Yogyakarta Gelar Prosesi Mubeng Benteng Salah satu ritual jelang 1 Suro (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

MerahPutih.Com - Memperingati tahun baru Jawa 1 Suro 1951 Dal / 1439 H, Keraton Yogyakarta akan mengadakan ritual budaya "Lampah Mubeng Benteng".

Mubeng Benteng adalah sebuah kegiatan memutari reruntuhan benteng yang melingkari wilayah Keraton Yogyakarta. Ritual ini akan digelar tepat pada malam satu Suro atau Malam Jumat Kliwon pada Kamis 21 September 2017. Mubeng Benteng akan dimulai sekitar pukul 22.00 WIB.

Ketua Penyelenggara acara KRT Gondohadiningrat menjelaskan tradisi Lampah Mubeng Benteng bermula dari kebiasaan meronda warga dijaman dulu. Saat ronda selain ada yang berkeliling menjaga keamanan, ada beberapa warga yang berdoa. Lama kelamaan tradisi ini berubah menjadi ritual mengelilingi benteng.

"Kami tetap lakukan sampai saat ini agar warisan budaya ini tetap terjaga,"melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Rabu (20/10).

Selama memutari benteng, para Abdi dalem dan peserta akan tapa bisu (membisu tanpa suara) tanpa menggunakan alas kaki. Para abdi dalem akan berpakaian tradisional tanpa membawa keris.

"Semua peserta yang ikut juga harus Topo bisu. Kenapa harus membisu, manusia dilatih mawas diri supaya bisa lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa," jelasnya.

Prosesi ritual ini akan dimulai jam 20.00 wib dengan pembacaan Macapatan atau tembang bahasa Jawa. Dilanjutkan dengan kata sambutan dan pertunjukan seni. Ritual Mubeng Benteng sendiri baru akan dimulai sekitar pukul 22.00 WIB.

Rute yang akan diambil bermula dari Keben Bangsal Ponconiti di Keraton Yogyakarta - Alun-alun utara- Pojok benteng Ngabean- Pojok benteng selatan dekat gereja pugeran- Plengkug Gading - Pojok benteng timur di persimpangan jalan Paris- dijalan Brigjen Katamso - Jalan Ibu Ruswo - Alun- alun utara- finnish di Keben Bangsal Ponconiti.

"Kurang lebih menempuh jarak sekitar 3-5 km," jelasnya.

Gondhohadiningrat menjelaskan acara ini terbuka untuk umum. Warga yang mau ikut tak perlu pakai baju adat. Cukup memakai baju sopan saja. "Kumpulnya di Keben Bangsal Ponconiti yang berada di Pintu masuk Keraton Yogyakarta bagian selatan,"pungkasnya.

Selama prosesi berlangsung warga turut membisu agar bisa merasakan sensasi menyatu dengan alam dan tuhan. Pihaknya sudah menyiapkan tim keamanan untuk berjaga-jaga selama prosesi.

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Teresa Ika, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Simak berita menarik lainnya dari Yogyakarta dalam artikel: Raja Yogyakarta Beberkan Strategi Tangkal Hoax Dan Radikalisme



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH