Sambil Nunggu Vaksin COVID-19, Jangan Abaikan Imunisasi Anak Ilustrasi Vaksin. (Foto: Antara).

MerahPutih.com - Pandemi COVID-19 menganggu seluruh aktivitas kehidupan masyarakat. Termasuk munculnya gangguan terhadap jadwal rutin vaksinasi yang penting bagi anak, seperti BCG, polio, campak, cacar, difteri, tetanus dan lain-lain.

Padahal, imunisasi tersebut wajib agar anak terhindar dari wabah penyakit lain di luar COVID-19. Imunisasi merupakan intervensi terhadap kesehatan masyarakat.

Spesialis perubahan prilaku dari UNICEF Rizky Ika Syafitri mengingatkan, pemerintah maupun masyarakat agar tidak mengabaikan pentingnya imunisasi rutin tersebut.

Baca Juga:

Pemda Tidak Boleh Paksakan Sekolah Tatap Muka

Di sisi lain, imunisasi rutin juga sebagai bukti vaksin menjadi jalan keluar dari suatu wabah. Imunisasi rutin sekaligus untuk menangkal keraguan terhadap vaksin COVID-19 yang kini masih dalam penelitian.

Vaksin COVID menjadi harapan semua orang di dunia yang dirundung pandemi virus corona. Selama vaksinnya belum ada, orang dituntut menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti pakai masker, jaga jarak dan selalu mencuci tangan dengan sabun.

Saat ini, vaksin COVID-19 di dunia sedang dalam uji klinis, salah satunya di Bandung lewat penelitian yang dilakukan Bio Farma, dan Fakultas Kedokteran Unpad terhadap vaksin buatan Sinovac Biotech, Tiongkok.

Selagi menunggu selesainya uji klinis vaksin COVID, menurut Rizky, pemerintah dan masyarakat harus terus sosialisasikan pentingnya vaksin sebagai jalan keluar dari pandemi.

Ia menuturkan, vaksinasi bukan hal baru di dunia kesehatan masyarakat, meskipun imunisasi ini kerap menimbulkan pro kontra. Imunisasi sebagai intervensi public health sudah lama dilakukan.

"Terbukti kita tidak mendengar penyakit misalnya polio, tetanus, jadi sudah banyak sekali perkembangan,” tutur Rizky Ika Syafitri, dalam webinar yang digelar PBNU, baru-baru ini.

Lab Vaksin. (Foto: bumn.go.id)
Lab Vaksin. (Foto: bumn.go.id)

Saat ini, imunisasi dasar untuk penangkal polio dan lain-lain sudah digratiskan.

"Jangan sampai diabaikan. Karena kalau diabaikan bukan tidak menutup kemungkinan memunculkan wabah penyakit lain,” katanya.

Sejumlah kejadian luar biasa terkait penyakit yang sudah ada vaksinnya pernah terjadi di Indonesia. Misalnya wabah difteri pada 2017, yang menimbulkan korban jiwa puluhan orang. Kemudian ada kejadian luar biasa polio di Papua.

Kasus difteri dan polio disebut kejadian luar biasa karena penyakit tersebut semestinya sudah hilang mengingat sudah adanya vaksin. Namun kasus tersebut sewaktu-waktu bisa muncul jika kepesertaan program imunisasi menurun.

Ia menegaskan, penyebab turunnya kepesertaan imunisasi masyarakat antara lain karena terbatasnya petugas vaksinasi, keengganan orang tua melakukan vaksinasi, dan lainnya.

Pandemi saat ini membuka peluang terjadinya wabah penyakit lain karena terganggunya aktivitas layanan kesehatan rutin termasuk imunisasi masyarakat.

“Ini tidak kita inginkan apalagi di saat pandemi seperti ini jangan sampai kita mengalami beban ganda penyakit lain yang sebenarnya bisa dicegah,” katanya.

Rizky mewanti-wanti jangan mengabaikan vaksinasi rutin selain patuh menggunakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

“Jika ini dibiarkan bukan tidak mungkin muncul wabah lain,” katanya. (Iman Ha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Liga 1 Bergulir Sesudah Vaksin Beredar di Masyarakat

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Rekam Jejak Tujuh Kapolri Terakhir, Mayoritas Pernah Jabat Kapolda Tiga Wilayah Ini
Indonesia
Rekam Jejak Tujuh Kapolri Terakhir, Mayoritas Pernah Jabat Kapolda Tiga Wilayah Ini

Sejumlah nama jenderal bintang tiga bahkan dua pun ikut bersaing menjadi yang terbaik, meski akhirnya "selera" Presiden Joko Widodolah yang bakal menentukan.

ICW Pertanyakan Status Justice Collaborator Eks Penyidik KPK Raden Brotoseno
Indonesia
ICW Pertanyakan Status Justice Collaborator Eks Penyidik KPK Raden Brotoseno

JC tidak dapat diberikan kepada pelaku kejahatan yang digolongkan sebagai pelaku utama

39 Ribu Kepala Keluarga di Kabupaten Sleman Terima Bansos Tunai
Indonesia
39 Ribu Kepala Keluarga di Kabupaten Sleman Terima Bansos Tunai

Besaran BST Provinsi DIY adalah Rp400.000 per KK selama 3 bulan berturut-turut.

UU 18/2019 Lahir, Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pesantren
Indonesia
UU 18/2019 Lahir, Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pesantren

Perda ini akan menjadi landasan hukum yang bisa dirujuk pemerintah

Megawati Dikabarkan Restui Gibran di Pilwakot Solo, Purnomo: Saya tidak Kaget
Indonesia
Megawati Dikabarkan Restui Gibran di Pilwakot Solo, Purnomo: Saya tidak Kaget

Ia menegaskan sebagai putra Presiden Jokowi, Gibran lebih diuntungkan dibandingkan dirinya sebagai orang biasa.

Wujudkan Beragam Kebudayaan, 75 Peserta Upacara HUT RI PDIP Pakai Pakaian Adat
Indonesia
Wujudkan Beragam Kebudayaan, 75 Peserta Upacara HUT RI PDIP Pakai Pakaian Adat

Semangat dan energi pembebasan itulah yang seharusnya tetap kita warisi

Vaksin Corona Bukan untuk Mengobati Penyakit
Indonesia
Vaksin Corona Bukan untuk Mengobati Penyakit

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga menegaskan, vaksin COVID-19 hanya untuk mencegah.

Djoko Tjandra Divonis 2,5 Tahun Penjara Atas Kasus Surat Jalan Palsu
Indonesia
Djoko Tjandra Divonis 2,5 Tahun Penjara Atas Kasus Surat Jalan Palsu

Djoko Tjandra dinyatakan terbukti bersalah menyuruh melakukan tindak pidana memalsukan surat secara berlanjut.

Tolak Bahas RUU HIP, Pemerintah Minta DPR Dengarkan Aspirasi Rakyat
Indonesia
Tolak Bahas RUU HIP, Pemerintah Minta DPR Dengarkan Aspirasi Rakyat

“Dengan begini, masyarakat bisa kembali duduk tenang, untuk membetulkan dan melihat substansinya dengan baik,” ujar Yasonna Laoly

[HOAKS atau FAKTA]: PNS Boleh Pakai Batik Korpri Berbentuk Gamis
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: PNS Boleh Pakai Batik Korpri Berbentuk Gamis

Pria berbaju batik Korpri berbentuk gamis sedang berdiri di depan gedung Pusat Data dan Informasi Kementrian Pertahanan Republik Indonesia.