Samar-Samar Surat Asli Supersemar Ilustrasi Supersemar. (MerahPutih/Bayu Samudro)

MUKA beberapa muda-mudi tampak bingung begitu ditanya Supersemar. Mata mereka melirik, kanan-kiri, mencari petunjuk. Sementara mulut seakan terkunci, dan hanya mendengung. "Emmmm..," tukas seorang mudi pada video Supersemar merahputih.com. "Itu mungkin tokoh di pewayangan," lanjutnya coba menerka.

Umur muda-mudi di dalam video tersebut rerata 20-22 tahun. Mereka lahir tentu jauh hari setelah peristiwa keluarnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966. Meski jauh dari peristiwa, bukan berarti mereka tak pernah dengar sama sekali.

Paling tidak, Supersemar pernah disinggung di pelajaran sejarah SMA bab peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, meski sebagian besar guru masih tergagap-gagap menerangkan secara komprehensif.

Bukan cuma guru. Para peneliti sejarah pun sering mengernyitkan dahi ketika melakukan penelitian mengenai peralihan kekuasaan Sukarno-Soeharto. Mereka belum bisa memperoleh gambaran utuh tentang surat sakti penuh misteri tersebut lantaran hingga hari ini tak ada satu pun surat ontentik.

Bahkan, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyimpan tiga koleksi Supersemar berisi empat lembar naskah dari tiga instansi berbeda, meliputi sepucuk surat asal Pusat Penerangan (Puspen) TNI AD diperoleh tahun 1995, 2 lembar surat dari Sekretariat Negara (Setneg) berdasar reproduksi buku 30 Tahun Indonesia Merdeka Jilid 3: 1965-1973, dan satu lembar milik Akademi Kebangsaan.

Supersemar
Tiga versi dokumen Supersemar koleksi ANRI. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Dokumen Supersemar asal Puspen TNI AD berupa ketika dengan huruf lebih kecil, secara tegas menampilkan logo Garuda di sudut kanan atas, lalu di bagian tengah atas tersua tulisan "PRESIDEN" di bawahnya "REPUBLIK INDONESIA" bercetak tebal, kemudian "SURAT PERINTAH" menggunakan garis bawah tanpa logo bintang dan padi-kapas, dan di bagian kiri bawah tercetak nama Soekarno. Lembar milik Puspen TNI AD tersebut menjadi pijakan narasi sejarah di buku-buku pelajaran pada masa Orde Baru.

Pada dokumen milik Setneg, berisi dua lembar masing-masing terdiri dari satu lembar bagian kepala surat berlogo garuda di sudut kanan atas dan bagian isi, sementara satu lembar berikutnya merupakan bagian penutup berisi tanda tangan Sukarno. Berbeda dengan versi Puspen TNI AD, dua lembar surat tersebut memiliki jarak spasi antar-peragraf cukup besar, dengan ketikan huruf jauh lebih besar.

Sementara, dokumen dari Akademi Kebangsaan mudah dikenali karena kondisinya kurang baik, dengan sobekan cukup besar di bagian kanan. Dokumen tersebut menggunakan kertas agak panjang. Pada bagian kepala surat, tertera tulisan tak jauh berbeda dengan dua surat lainnya. Surat 'Supersemar' itu diserahkan Ketua Akademi Kebangsaan, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto kepada ANRI pada 2012.

Keempat lembat Supersemar tersebut lantas diuji pihak ANRI di Laboratorium Forensik Mabes Polri pada 31 Juli 2012. Hasilnya, tak ada satu pun dokumen otentik. "Kami telah melakukan pengujian terhadap empat naskah Supersemar, tapi keempat-empatnya belum ada yang asli," kata Binner Sitompul, Kepala Pusat Jasa Kearsipan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dikutip antaranews.com.

Supersemar
Ilustrasi Supersemar. (MerahPutih/Bayu Samudro)

Sesuai amanat UU Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan, ANRI selaku badan kearsipan nasional memiliki wewenang untuk menguji keotentikan arsip statis dengan dukungan pembuktian secara ilmiah. Pihak ANRI menganalisa lambang Garuda, isi dokumen, dan terpenting semua tanda tangan atas nama Soekarno merupakan hasil produk cetak.

Hingga kini naskah otentik Supersemar masih menjadi misteri. Tak jelas di mana rimbanya. Padahal surat sakti Supersemar menjadi legitimasi penting kekuasaan Soeharto. Setahun setelah penyerahan Supersemar, 12 Maret 1967, Soeharto lantas naik takhta sebagai Presiden tanpa proses pemilu.

Keberadaan Supersemar asli sempat menjadi desas-desus. Benedict Anderson, Profesor Emeritus asal Universitas Cornell, seturut Baskara T Wardaya dalam buku Membongkar Supersemar, Dari CIA Hingga Kudeta Merangkak Melawan Bung Karno, mengatakan Supersemar asli sengaja dihilangkan.

Supersemar
Soeharto di hadapan Bung Karno. (Foto koleksi Roso Daras)

Informasi tersebut didapatkan Ben Anderson dari pengakuan seorang tentara nan sehari-hari bertugas di Istana Bogor, tempat Supersemar dibuat. Tanpa menyebut nama dan pangkat tentara tersebut, menurut Anderson, Supersemar asli berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Bukan kop surat berlambang Garuda seperti koleksi ANRI.

Di tangan Soeharto, seturut Baskara T Wardaya, Supersemar dijadikan alat untuk memperlemah kekuasaan Sukarno. Supersemar menjadi penanda arus balik berbagai kebijakan dalam dan luar negeri.

"Bersamaan dengan itu terjadi pula arus balik arah perpolitikan Indonesia dari sipil ke militer, dari berorientasi kiri ke haluan kanan, dari arah kerakyatan menjadi berkiblat ke elit politik, dari anti-nekolim menjadi pro-modal asing, dsb," tulis Wardaya. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH