Salahnya Mucikari Vanessa Angel menjalani pemeriksaan di Polda Jatim. (foto: MP/Budi Lentera)

PENANGKAPAN aktris Vanessa Angel pada Sabtu (5/1) membuat geger publik Tanah Air. Ia tersangkut kasus prostitusi daring. Praktik prostitusi daring yang melibatkan selebritas ternama itu diungkap Polda Jawa Timur.

Media serentak riuh mengabarkan penangkapan aktris cantik itu. Segala hal tekait dengan kasus tersebut diulik. Mulai dari kronologi penangkapan hingga sosok Vanessa.

Polisi pun bergerak mengusut praktik prostitusi daring tersebut. Pihak-pihak yang terlibat dalam praktik itu diperiksa. Meskipun demikian, banyak yang mempertanyakan, pihak mana sih yang paling salah dalam kasus prostitusi daring ini?

1. Mucikari yang Salah

Seiring berjalannya pengusutan, media pun makin gencar memberitakan. Namun sayang, beberapa media membuat kesalahan dalam memberitakan. Bukan dalam hal fakta, melainkan dalam hal penulisan kata 'mucikari'.

Masyarakat awam memang lebih lekat dengan bunyi 'mucikari' yang mengacu pada germo, induk semang bagi perempuan lacur. Padahal, kata yang tepat sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah 'muncikari'.

Kata 'muncikari' berasal dari bahasa Jawa, yakni 'munci' yang berarti gundhik, sedangkan 'kari' berarti ora melu (tidak ikut). Secara bebas, kata itu bisa bermakna gundhik (simpanan) yang enggak tetap atau mengikat.

2. Lema Lain yang Juga Salah

dictionary
Beberapa lema juga salah ditulis. (foto: pixabay/tessakay)

Kesalahan penulisan kata 'mucikari' bukanlah satu-satunya. Beberapa lema kerap dituliskan media dengan ejaan yang salah. Berikut contohnya:

- Aktivitas bukan aktifitas

- Andal bukan handal

- Antre bukan antri

- Analisis bukan analisa

- Apotek bukan apotik

- Imbau bukan himbau

- Detail bukan detil

- Napas bukan nafas

- Elite bukan elit

- Embus bukan hembus

- Standardisasi bukan standarisasi

- Sistem bukan sistim

- Risiko bukan resiko

- Komoditas bukan komoditi

- Saraf bukan syaraf

- Ustaz bukan ustad

- Insaf bukan insyaf

- Masjid bukan mesjid

- Lembap bukan lembab

- Provinsi bukan propinsi

- Hafal bukan hapal

- Avokad bukan alpukat apalagi pokat

- Iktikad bukan itikad

- Jomlo bukan jomblo

- Kongko bukan kongkow

Lema tersebut hanya sebagian contoh yang kerap muncul. Masih banyak lema nonbaku lain yang justru lebih dikenal ketimbang yang baku.

3. Salah demi Google

google
Beberapa kata baku justru enggak 'ramah' Google. (foto: pixabay/firmbee)

Meskipun banyak media yang masih sering salah menuliskan lema, amat mungkin itu dilakukan secara sengaja. Pasalnya, beberapa lema baku sesuai dengan KBBI justru enggak 'ramah' di mesin pencari.

Seperti contoh kata 'Sumatera'. KBBI menuliskan kata yang tepat ialah 'Sumatra', tapi kata itu kurang 'dikenal' mesin pencari Google. Nasib yang sama juga terjadi pada kata 'mucikari'.

Coba deh, kamu ketik kata 'muncikari' di mesin pencari Google. Yang muncul kemudian justru saran untuk mencari kata 'mucikari' yang justru enggak baku. Hal yang sama juga terjadi pada kata 'gue'. Kata tersebut memiliki bentu baku 'gua' yang justru kurang dikenal Google.

Bagi media daring, kata 'ramah' Google akan terasa lebih penting ketimbang menuliskan lema baku sesuai dengan KBBI. Dengan media daring yang makin meluas, bukan enggak mungkin kata baku akan tergerus dan berbalik menjadi enggak baku hanya demi 'laku' di Google.

Terdengar seperti prostitusi bahasa dengan media daring berbahasa nonbaku yang jadi 'muncikarinya', ya kan?(dwi)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH