Saksi Sebut Keponakan Setnov Pernah Bicarakan Pembagian Uang e-KTP untuk Anggota DPR Terdakwa kasus korupsi pengadaan KTP elektronik Setya Novanto menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (26/2).ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

MerahPutih.com - Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, pihak swasta selaku anggota tim Fatmawati menjadi saksi dalam sidang perkara korupsi proyek pengadaan e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

Dalam kesaksiannya, Bobby mengungkapkan, bahwa keponakan Setnov yang juga merupakan Direktur PT Murakabi Sejahtera, Irvanto Hendra Pambudi pernah membicarakan rencana pembagian fee ke Senayan, yang diduga untuk anggota DPR RI.

Bobby menuturkan, pembicaraan itu berlangsung di ruang kerja Irvanto di Menara Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan. Ketika itu, Bobby dan Irvanto sedang menunggu dokumen prakualifikasi lelang yang harus ditandatangani.

"Sewaktu sedang bicara tentang pekerjaan kami yang berat, tiba-tiba dia bilang 'Abot. Sing kono njaluk pitu'," ungkap Bobby saat bersaksi di Pengadilan Tindak Piada Korupsi Jakarta, Senin (26/2).

Menurut Bobby, kata-kata itu dapat diartikan bahwa Irvanto merasa keberatan lantaran ada bagian 7 persen yang harus diberikan. Saat mengucapkan kalimat itu, kata Bobby, Irvanto sambil menunjuk ke luar jendela.

"Lalu saya tanya apa maksudnya nunjuk ke jendela, dia bilang Senayan," ujar Bobby.

Dalam persidangan e-KTP beberapa waktu lalu, yang menghadirkan saksi seorang pegawai money changer bernama Rizwan,
Irvanto diketahui pernah memakai jasa money changer untuk menerima uang US$ 2,6 juta dari luar negeri.

Dalam keterangannya, Rizwan mengatakan Irvanto saat itu menggunakan jasanya untuk menukar uang tersebut.

"Dia (Irvanto) bilang ada dolar di luar negeri, cuma dia mau terima dolar di Jakarta, jadi barter," kata Rizwan di Pengadilan Tipikor, Kamis, ( 11/1).

Manajer Inti Valuta Money Changer itu kemudian menyanggupi permintaan Irvanto. Namun, karena dia tidak memiliki rekening di Singapura, Rizwan meminta bantuan pengusaha money changer yang punya rekening di negara tersebut. Pengusaha itu bernama Yuli Ira yang juga menjadi saksi di persidangan saat itu.

Uang yang dibarter Irvanto bernilai US$ 2,6 juta. Dari setiap dolar yang dikirim, Rizwan mengambil keuntungan Rp 100 yang kemudian Rp 40-nya diserahkan kepada Yuli atas bantuan penyediaan rekening.

Sebagai informasi, Irvanto Hendra Pambudi merupakan mantan PT Murakabi Sejahtera. Diketahui, PT Murakabi Sejahtera merupakan salah satu konsorsium yang sengaja dibentuk oleh terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong. Konsorsium Murakabi dibentuk untuk mendampingi Konsorsium PNRI dalam proses lelang.

Meski kalah dalam proses lelang, Murakabi tetap diberikan pekerjaan dalam menggarap proyek e-KTP oleh Andi Agustinus. Konsorsium Murakabi terdiri atas beberapa perusahaan, antara lain PT Murakabi Sejahtera, PT Java Trade, PT Aria Multi Graphia, dan PT Stacopa. (Pon)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4