Saatnya NU dan Muhammadiyah Turun Gunung Ilustrasi pencucian otak oleh teroris. Foto: PixabayIlustrasi pencucian otak oleh teroris. Foto: Pixabay

MerahPutih.com - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria meminta Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah agar turut serta menekan penyebaran radikalisme.

Imbauan itu disampaikan Arif menyusul data yang didapat pemerintah terkait sejumlah perguruan tinggi yang mahasiswanya sudah terpapar radikalisme.

"Saya berharap ormas NU Muhammadiyah turun gunung sejak SMP, SMA dan mahasiswa. Karena itu sudah mulai sejak SMA mulai digarap. Maka ini tidak bisa menyelesaikan kampus saja selesai," kata Arif dalam diksusi di kawasan Jakarta Selatan, Senin (11/6).

NU

Arif mengaku telah membuka jalur baru dengan mengundang ketua OSIS untuk masuk ke IPB tanpa melalui tes. Pasalnya, Arif menghendaki para eks ketua osis tersebut menjadi calon pemimpin di kampus.

"Persoalan radikalisme ini persoalan eksklusivitas. karakteristik sains di universitas yang memang eksklusif. Sains yang positivistik. Mereka yang tidak mau lihat mazhab lain, ini yang di IPB mencoba mendobrak itu. Bagaimana memunculkan mazhab alternatif," ujarnya.

NU dan Muhammadiyah
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj (kiri) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Berpaling ke BIN

Sementara itu, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Badan Intelijen Negara (BIN) masuk ke kampus-kampus. "Saya mendorong komisi I menggerakkan BIN untuk menyebar ke kampus apakah informasi itu benar atau hanya isapan jempol," kata pria yang akrab disapa Bamsoet ini.

Bamsoet mengatakan pihaknya bakal mengkaji lagi data yang diberikan pemeritnah terkait mahasiswa yang terpapar radikalisme. DPR, kata dia akan mendorong komisi III untuk melakukan pendalaman.

"Kami pasti mendorong komisi III melakukan pendalaman dengan Kapolri untuk menggerakkan intelejennya ke kampus-kampus," tuturnya.

Radikalisme
Spanduk bahaya laten radikalisme di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5/2018). BNPT menyatakan, paham radikalisme sudah menyusupi banyak kampus di Indonesia. | Andreas Fitri Atmoko /Antara

Bamsoet juga meminta kepada organisasi ekstra kampus agar bisa menjaga persatuan dan kesatuan. Dia meminta semua pihak waspada atas paham radikal ini.

"Kita harus waspada banyak yang sudah percaya paham radikalisme ini. Kami juga berharap organ mahasiswa seperti HMI dan lain-lain segera mengamankan NKRI dari paham tersebut," pungkasnya.

Sebelumnya, BNPT membeberkan setidaknya ada tujuh kampus PTN yang terpapar radikalisme. Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) disebut BNPT sudah disusupi paham radikal. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH