Hey Djon! Mengenang Maestro Pelukis Penggila Sastra S. Sudjojono S. Sudjojono sedang melukis. (Foto/Dokumentasi S. Sudjojono Center)

HAMPARAN alam tampak tak beraturan. Rumah-rumah roboh, tiang listrik condong, pepohonan kering kerontang tanpa daun, hingga hamparan tanah lenyah terpapar. Di tengah suasana suram itu tampak sebuah piano klasik masih berdiri cantik.

Keanggunan piano tersebut tak lagi menjadi sorotan lantaran tergantikan tulisan putih besar "Hey Djon". Beberapa hadirin bertanya-tanya siapa Djon dan apa hubungan piano klasik dan hamparan alam kacau balau tersebut?

"Penamaan 'Hey Djon' karena keluarga dan para sahabat memanggil S. Sudjojono dengan panggilan akrab 'Djon' sehingga diharapkan acara ini menjadi lebih personal," kata Panitia Acara 'Hey Djon: When Poetry Meets Music', Dara Alexandra sekaligus cucu Djon kepada merahputih.com,(14/12).

S. Sudjono merupakan maestro seni pelukis, bahkan ditabalkan sebagai tokoh penting peletak seni rupa modern Indonesia. Bertempat di VIN+Kemang, S. Sudjojono Center menggelar beragam pertunjukan untuk mengenang perjalanan berkesenian Sang Maestro.

Penggila Sastra

S. Sudjojono bersama istri, Rose Pandanwangi. (Foto/Dokumentasi S. Sudjojono Center)
S. Sudjojono bersama istri, Rose Pandanwangi. (Foto/Dokumentasi S. Sudjojono Center)

Acara 'Hey Djon: When Poetry Meets Music' dikemas dengan gaya sangat kekinian, menampilkan pertunjukan musik, puisi, dan karya visual, namun tetap meninggalkan kesan intim dan hangat.

"Tema puisi dipilih karena sang maestro pelukis Indonesia itu juga sangat cinta terhadap karya sastra," kata Dara.

Meski seorang pelukis, Sang Maestro juga menggilai sastra. Tim S. Sudjojono Center sudah menemukan 30 puisi karya Djon, baik itu di dalam lukisan, surat kepada istri, hingga catatan pribadi.

"Kecintaan Mas Djon terhadap sastra sangat jelas. Bahkan, untuk mengirim surat kepada saya, beliau sering berkata-kata mutiara berbentuk puisi di dalamnya," kenang sang istri tercinta, Rose Pandanwangi.

Visible Soul

Laman Acara Hey Djon. (Dokumen S. Sudjojono Center)
Laman Acara Hey Djon. (Dokumen S. Sudjojono Center)

Tujuan S. Sudjojono Center mengadakan acara ini berangkat dari keinginan untuk berbagi kecintaan Djon terhadap seni, tidak hanya seni lukis, bahkan bidang kesenian lainnya, seperti sastra, seni suara, drama, tari, musik, dan trimatra.

Melalui acara ini, pihaknya berharap agar semangat Djon dalam berkarya juga menular kepada kaum muda untuk berkesenian. Kesenian, dengan proses begitu dalam dan bares (apa adanya) akan menghasilkan Jiwa Ketok (visible soul) sehingga diharapkan dapat memberi rasa damai dan menghaluskan hati nurani.

Kawan-Kawan Djon

Sapardi Djoko Damoni dan Rose Pandanwangi. (MP/Zaimul)
Sapardi Djoko Damoni dan Rose Pandanwangi. (MP/Zaimul)

Beberapa teman-teman Djon tampak hadir menghangatkan acara tersebut. Sastrawan Sapardi Djoko Damono mempersembahkan puisi untuk mengenang sahabatnya. Dari puisi ke puisi.

Sementara beberapa lainnya, seperti Putri Minangsari, Araa 2124 Masget, Portofolio Band, dan Mantratattva pembuat video mapping turut mengisi relung-relung kenangan.

Para tokoh seni pendukung acara ini merupakan pengagum karya dan pemikiran S. Sudjojono dan mempunyai visi serupa dengan S. Sudjojono Center untuk memajukan dunia seni di Indonesia. (zaim)

Baca Juga: 6 Sastrawan Indonesia dengan Karya Dahsyat yang Diakui Dunia

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH