Rusia Siap Berdialog Apa Saja dengan Amerika Termasuk Masalah Suriah Presiden Rusia Vladimir Putin (foto: screenshot presstv)

MerahPutih.Com - Kerap menjadi antagonis dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat di pelbagai belahan dunia, tidak membuat Rusia menutup pintu kerja sama dengan negeri Paman Sam.

Dalam wawancara televisi terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negaranya siap berbicara masalah apa pun dengan Amerika Serikat. Keterbukaan Rusia tersebut diiringi dengan desakan agar Washington juga bersikap yang sama.

"Kami siap membahas masalah apa saja, apakah yang terkait peluru kendali, perang dunia maya atau masalah kontraterorisme," kata Vladimir Putin dalam wawancara dengan NBC, yang diterbitkan Kremlin pada Sabtu (10/3) kemarin.

Putin engatakan Rusia dan Amerika Serikat harus duduk bersama dan membicarakan berbagai masalah agar posisinya jelas, kata traskrip wawancara itu, yang dibuat Kremlin.

"Saya mendapat kesan bahwa ini yang diinginkan presiden AS saat ini, tapi ia terhalang oleh beberapa kekuatan untuk dapat melakukannya," kata presiden Rusia itu.

Putin sebagaimana dilansir Antara dari Reuters mengatakan Rusia siap berunding kapan pun dan berharap Amerika Serikat juga siap melakukan hal yang sama.

"Akan datang waktunya ketika elit politik Amerika Serikat akan terdorong oleh pendapat umum untuk bergerak ke arah ini. Kami akan siap begitu mitra kami siap," pungkas Putin.

Salah satu pokok pembicaraan yang paling menyita perhatian dunia yakni kerja sama kedua negara adi daya itu dalam mengatasi konflik Suriah.

Sabtu kemarin untuk pertama kalinya gerilyawan pemberontak menyerahkan diri kepada pasukan pemerintah.

Dalam satu siaran langsung, stasiun televisi negara memperlihatkan gerilyawan yang duduk di dalam satu bus, kebanyakan dari mereka berjenggot dan banyak dari mereka kelihatan masih sangat muda, sementara seorang pembaca berita mengatakan sebagian gerilyawan itu berusia di bawah 18 tahun.

Kelompok lain gerilyawan diperkirakan pergi dalam waktu dekat, kata stasiun televisi tersebut, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu.

Pengungsian kelompok kecil itu menandai kepergian pertama gerilyawan dari Ghouta Timur sejak jeda kemanusiaan harian dukungan Rusia di Ghouta Timur berlaku pada 27 Februari, setelah pengesahan Resolusi 2401 Dewan Keamanan PBB, yang disahkan pada 24 Februari dan menyerukan gencatan senjata kemanusiaan selama 30 hari.

Peristiwa tersebut juga terjadi dua hari setelah militer Rusia menawarkan jalan ke luar yang aman, dan mengajukan usul untuk mengizinkan gerilyawan menyerahkan kubu utama terakhir mereka di pinggir timur Damaskus itu.

Sejak 27 Februari, jenda kemanusiaan lima-jam setiap hari telah disahkan tanpa ada warga sipil yang meninggalkan Ghouta Timur, kecuali untuk dua kondisi ketika satu pasangan Pakistan serta 15 perempuan dan anak kecil pergi.

Jeda kemanusiaan dukungan Rusia tersebut bertujuan semata-mata memungkinkan warga sipil meninggalkan Ghouta Timur, dan helikopter pemerintah suriah menjatuhkan selebaran setiap hari untuk membimbing warga ke jalur aman untuk sampai ke Daerah Wafidin.

Sehari sebelumnya, Pemerintah Suriah mengumumkan pembukaan koridor lain kemanusiaan di Daerah Mlaiha di sebelah tenggara Damaskus, yang berdekatan dengan Kota Kecil Jisreen --yang dikuasai gerilyawan di Ghouta Timur.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH