Rupiah Tembus Rp15.183 per Dolar AS, Darmin Cemaskan Dampak Perang Dagang Ilustrasi Kurs rupiah. Foto: Net

MerahPutih.Com - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan. Dalam transaksi antarbank di Jakarta rupiah tembus Rp15.183 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan dolar AS masih berada dalam area positif terhadap mayoritas mata uang dunia menjelang perilisan data gaji nonpertanian Amerika Serikat untuk periode September.

"Data itu akan memberikan indikasi baru terhadap pertumbuhan upah dan kekuatan di pasar kerja, sekaligus akan memberikan petunjuk pada seberapa besar The Fed menaikkan suku bunga," kata Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat (5/10).

Pelaku pasar uang, lanjut dia, juga sedang menantikan sinyal dari data inflasi di Amerika Serikat di tengah kenaikan upah minimum perusahaan-perusahaan.

Analis senior CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan akumulasi sentimen eksternal itu memicu aliran dana keluar sehingga rupiah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir ini.

Menko Perekonomian Darmin Nasution
Menko Perekonomian Darmin Nasution (MP/Yohanes Abimanyu)

"Harga minyak dunia yang cenderung meningkat menambah beban bagi rupiah karena dapat mempengaruhi neraca perdagangan," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (5/10), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp15.182 dibanding sebelumnya (4/10) di posisi Rp15.133 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terdampak perang dagang AS dan China. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan perang dagang, yang menimbulkan ketidakstabilan perekonomian global, masih akan berlanjut.

"Ketidakstabilan global itu tidak bisa dihindari, akan jalan terus. Malahan kalau tadinya dibilang paling hanya sampai kuartal pertama tahun depan, sepertinya tidak," katanya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu sebagaimana dilansir Antara menjelaskan bahwa situasi perang dagang yang sedang mengemuka saat ini tidak bisa direm, sehingga turut membuat ketidakpastian berlanjut makin lama.

Negara-negara yang terlibat mulai mengembangkan strategi yang semakin bercabang-cabang, sehingga untuk menghentikannya akan susah dan memerlukan waktu lebih lama.

"Perang dagangnya bukan makin reda, namun makin variatif dan makin dikembangkan macam-macam cara sehingga tidak sekadar mengenakan tarif akan barang," kata Darmin.

Untuk menghadapi kondisi semacam itu, Darmin menyebutkan bahwa pemerintah dan otoritas terkait akan menyiapkan langkah-langkah yang lebih bersifat jangka menengah.

"Kami harus menyiapkan langkah-langkah untuk jangka menengah, tidak lagi sekadar jangka pendek. Apa saja itu? Ya tunggu saja kami akan jelaskan," terang Darmin Nasution.

Selain itu, Darmin juga menyoroti mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh positif dan lebih baik dibandingkan negara-negara ekonomi utama dunia.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Liverpool Sumbang Jersey Mohamed Salah cs untuk Bantu Korban Gempa Sulteng



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH