Rupiah Tembus Rp15.000 per Dolar AS, Rizal Ramli: Mohon Maaf, Ini Baru Permulaan Ekonom Senior Rizal Ramli saat ditemui di Car Free Day Jakarta, Minggu (1/7) (Foto: Ist)

MerahPutih.Com - Gejolak rupiah yang terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan terus berlanjut. Ekonom senior Rizal Ramli menyebut nilai tukar rupiah Rp15.000 per dolar AS baru permulaan.

Jika pemerintah dan bank sentral tidak mewaspadai anjloknya rupiah, kemungkinan gejolak ekonomi bisa terjadi.

"Apakah Rp15 ribu sudah merupakan akhir? kami mohon maaf, karena ini baru permulaan," kata Rizal dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu (3/10).

Rizal mengungkapkan alasan kemungkinan depresiasi rupiah akan berlanjut yaitu karena Bank Sentral AS (the Fed) masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga akhir tahun.

Kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS menimbulkan pembalikan modal dari negara berkembang dan membuat mata uang rupiah ikut mengalami pelemahan.

Ilusrtasi kurs rupiah
Ilustrasi Kurs rupiah. Foto: Net

Selain itu, indikator ekonomi negatif yang melanda negara-negara berkembang dan perang dagang antara AS dengan para mitra dagang utama juga bisa berdampak kepada pelemahan rupiah.

Untuk itu, Rizal Ramli sebagaimana dilansir Antara meminta adanya upaya lebih dari pemerintah guna memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan secara drastis.

Salah satunya dengan menekan impor, bukan hanya barang konsumsi, namun juga bahan baku atau modal yang selama ini membebani neraca perdagangan.

"Kenapa tidak fokus untuk menekan 10 bahan impor Indonesia yang besar, seperti baja? Kalau hanya barang konsumsi, efeknya kecil," katanya.

Rizal juga mengusulkan adanya revisi UU lintas devisa dan sistem nilai tukar untuk memaksa devisa hasil ekspor masuk ke Indonesia.

"Kalau mau badan kita sehat, seluruh 'revenue' ekspor harus masuk ke dalam. Indonesia masih rentan terhadap ini," kata mantan Menko Kemaritiman ini.

Dalam menghadapi tekanan mata uang, cadangan devisa dan surplur neraca transaksi berjalan menjadi kuncinya.

Rizal Ramli mencontohkan kondisi Thailand yang saat ini mata uangnya tidak rentan dari tekanan global, karena mempunyai kelebihan devisa dan surplus neraca transaksi berjalan.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Tim Koalisi Indonesia Kerja di Sumatera Selatan Rampung Terbentuk



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH