Romahurmuziy Sebut Nama Khofifah di Kasus Suap Jabatan Kemenag Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama wakilnya Emil Dardak (Foto: Instagram/Khofifah IP)

MerahPutih.com - Tersangka Mantan Ketua Umum PPP M Romahurmuziy alias Romi mengaku hanya meneruskan aspirasi soal pengisian jabatan di lingkungan Kementerian Agama RI.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa satu nama yang disebut Romi turut merekomendasikan Haris Hasanuddin sebagai Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jatim, yang kini sama-sama berstatus tersangka di kasus suap pengisian jabatan Kemenag.

"Ibu Khofifah indar Parawansa, beliau gubernur terpilih yang jelas-jelas mengatakan, 'Mas Rommy, percayalah dengan Haris karena Haris ini orang yang pekerjaannya bagus.' Sebagai gubernur terpilih pada waktu itu beliau mengatakan 'kalau Mas Haris saya sudah kenal kinerjanya, sehingga ke depan sinergi dengan pemprov itu lebih baik," kata Romi, di gedung KPK, Jakarta, Jumat (22/3).

Romi juga mengaku menerima aspirasi dari Kiai Asep Saifuddin Halim yang merekomendasi sosok Haris. "Dari awal saya menerima aspirasi itu dari ulama seorang kiai, Kiai Asep Saifuddin Halim yang dia adalah seorang pimpinan ponpes besar di sana," tutur tersangka.

Romi PPP
Tersangka suap eks Ketum PPP M Romahurmuziy. MP/Ponco Sulaksono.

Namun, eks Ketum PPP itu menegaskan rekomendasi yang diteruskannya itu tidak bakal sampai mengintervensi atau pun menghilangkan proses seleksi internal di dalam tubuh Kemenag sendiri. Apalagi, lanjut dia, tim seleksi Kemenag melibatkan pakar dan tokoh yang berintegritas.

"Proses seleksinya itu tidak sama sekali saya intervensi, proses seleksinya itu dilakukan oleh sebuah panitia seleksi yang sangat profesional. Semuanya adalah guru-guru besar dari lingkungan Universitas Islam Negeri se-Indonesia," papar anggota DPR dari PPP itu.

Pentolan partai pendukung Jokowi itu juga mengakui meneruskan aspirasi dan rekomendasi itu tidak hanya dilakukan di Kemenag, tetapi juga institusi negara lain. Menurut dia, wajar dalam promosi jabatan di mana pun harus ada rekomendasi.

"Bukan hanya di Kementerian Agama, tentunya di lingkungan yang lain pun kalau menyampaikan kan biasa. Anda misalnya promosi jadi pemred pasti kan ditanya dulu referensinya siapa. Itu kan hal biasa di masyarakat kita, tetapi kan proses seleksinya kan tetap mengikuti koridor," tutup Romi. (Pon)

Kredit : ponco


Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH