Riwayat Silat Masuk Kopassus Seni Beladiri Kopassus. (merdeka.com)

KABAR penculikan gabungan tim peneliti gunung Lorentz di desa Mapenduma, Jayawijaya, Papua, sampai di telinga petinggi TNI, Jakarta.

Pihak Kodam VIII Trikora mengabarkan kelompok OPM pimpinan Kelly Kwalik berada di balik aksi penculikan Tim Ekspedisi Lorentz 95, meliputi 4 peneliti Biological Science Club (BScC) Universitas Nasional, seorang Antropolog Universitas Cendrawasih, Jayapura, dan 4 sarjana muda Jurusan Biologi Universitas Cambridge, Inggris, serta dua tim berbeda; 2 orang peneliti WWF, dan 1 peneliti Unesco, pada 8 Januari 1996.

Pimpinan TNI bergerak cepat. Mereka menginisiasi berbagai lini pasukan untuk bergabung. Operasi Gabungan melibatkan Batalyon 742 (Trikora), Kopassus dibantu Kostrad Yon 330, 328, dan 327 (Jawa Barat), Batalyon 514 (Brawijaya), Penerbad, dan TNI AU.

Tiga Perwira TNI asal Jakarta pun khusus hadir untuk memperlancar jalannya operasi. Mereka, Komandan Kopassus Brigadir Jendral Prabowo Subianto, Direktur A Badan Intelijen TNI Brigadir Jendral Zacky Anwar, dan Wakil Asisten Operasi Angkatan Darat Brigadir Jendral Suadi Marasabessy. “Mereka bertugas mendampingi panglima operasi (Mayjen Dunidja, Pandam VIII Trikora),” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jendral Suwono Adiwijoyo, sebagaimana dikutip Gatra, 27 Januari 1996.

Kopassus
Komandan Kopassus Prabowo S di dalam Helikopter pada Operasi Mapenduma Papua. (Hamzah Palalloli)

Selain perwira tinggi, nampak wajah-wajah sipil nan aktif membantu pihak TNI merancang operasi di markas komando, Wamena. Dua orang ahli navigasi Wanadri, dan tiga orang berpakaian serba-hitam Jawara asal Banten; H Tubagus Zaini, Tubagus Yuhyi Andawi, dan Sayid Ubaydillah Al-Mahdaly, berdiri di tengah pria-pria berbadan tegap berseragam loreng.

Ketiga Jawara Banten tersebut memiliki ilmu adikodrati. Mereka memliki misi khusus untuk menangkal serangan ilmu hitam pihak penculik di pedalam Jayawijaya. “Waktu itu kami diminta membantu. Tugas kami memberikan perlindungan spiritual para anggota pasukan. Termasuk menangkal ilmu gaib nan mungkin dipakai para penyandera,” kata Sayid Ubaydillah, salah seorang dari 3 Jawara Banten seturut laporan harian Kompas, 9 November 1998.

Selain menghalau ilmu gaib musuh, tiga pendekar tersebut dianggap perlu terlibat operasi pembebasan sandera penuh bahaya, karena memiliki ilmu kanuragan, dapat melihat, mengendus, dan meraba bahaya, di luar kemampuan pancaindera manusia pada umumnya.

Kolaborasi militer, terutama Kopassus dengan kelompok jawara asal Banten, menurut Ian Douglas Wilson asal Murdoch University pada buku The Politics of Inner Power: The Pratice of Pencak Silat in West Java, telah terjalin lama melalui kelompok pencak silat Satria Muda Indonesia (SMI) binaan Prabowo Subianto.

Kopassus
Dua WNA sandera OPM berhasil diselamatkan pasukan Kopasus pada Operasi Mapenduma, Papua, 1996. (Gatra)

Saat operasi Timor-Timur pada 1988-1989, Prabowo sebagai komandan Batalyon 328, menurut Douglas Wilson, telah aktif memperkenalkan SMI kepada para pemuda lokal. Seorang instruktur senior SMI bercerita pernah ada pelatihan anggota SMI di Timor-Timur.

Pada tahun 1993, lanjut Douglas Wilson, instruktur-instruktur SMI telah melatih anggota Grup III Kopassus di Batujajar, Bandung. Lantas dua tahun berselang memandu latihan Korps Marinir, Korps Brigade Mobil (Brimob), Paskhas AU, dan Batalyon 321, 315, 328, dan 330 Kostrad.

Prabowo menganggap pencak silat merupakan unsur strategis keamanan nasional antara sipil dan kehidupan militer. “Pendidikan Pencak Silat dapat menjadi aspek penting memperkenalkan pertahanan negara Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Melalui Pencak Silat, kita dapat membuat masyarakat bersiap menjadi pertahanan negara dan Sishankamrata,” ungkapnya.

Ide tersebut, kolaborasi grup Silat dan militer, kemudian diterapkan saat operasi pembebasan sandera Mapenduma, Papua. Tiga pendekar atau jawara asal Banten ikut pada operasi. “Prabowo beranggapan memperkuat antara grup Pencak Silat dan militer sangat penting untuk pertahanan negara,” tulis Douglas Wilson.

Banten merupakan tanah bagi seluruh pendekar silat. Tak heran bila sejarah sosial di Banten sering berisi kisah tentang para jawara dan para jago silat dari pelbagai aliran serta paguron atau perguruan.

Kopassus
Para peneliti Tim Ekspedisi Lorentz 1995. (Garudamiliter)

Di seantero Banten, tak kurang 50 perguruan silat tersebar, antara lain Gagak Lumayung, Pacar Putih, dan Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH). Meski dasar pencak sama, masing-masing kelompok telah mengembangkan kekhasan teknik silatnya.

Di Banten, anggota SMI mencapai 9000, banyak di antaranya juga merupakan anggota Persatuan Persilatan dan Seni Budaya Banten Indonesia (PPSBBI) Chasan Sochib. Ikatan kuat seni beladiri Silat dengan pasukan khusus militer di Indonesia terutama Kopassus mengundang decak kagum pemerhati juga anggota militer luar negeri.

Situs seni beladiri terkemuka di Eropa, martialtribes.com, merilis tiga beladiri militer paling mematikan di dunia. Pada rilisan pertengahan tahun 2017 tersebut, tersua seni beladiri khas Indonesia, Silat pada urutan bontot atau peringkat 3 beladiri untuk kebutuhan militer. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH