Riwayat Rumah Sakit Jiwa Pertama di Indonesia Salah satu bangsal Rumah Sakit Mental atau 'Krankzinnigengesticht' di Bogor. (ntvg.nl)

GEERLOF Wassink, seorang kepala medis Hindia Belanda beroleh titah pemerintah Hindia Belanda untuk menggelar sensus kesehatan mental. Pemerintah tak memiliki angka pasti berapa jumlah persis penderita gangguan mental.

Hasil sensus Wassink pada tahun 1862 mencatat 586 penduduk di pulau Jawa masuk ke dalam kategori ‘Gila dan Berbahaya’.

Sebagai tindak lanjut sensus, pemerintah lantas mencanangkan pembuatan rumah sakit mental. Dua dokter, FH Bauer dan WM Smit dikirim untuk melakukan studi banding tentang standar perawatan rumah sakit mental di beberapa negara Eropa.

Melalui surat rekomendasi kepada Inspektur Urusan Asylum di Belanda, September 1865, ancangan pembuatan rumah sakit mental diajukan dan diteruskan kepada Ratu Wilhelmina, kemudian tiga bulan berselang restu ratu didapat.

Bauer dan Smit telah membawa hasil studi bandingnya. Mereka tiba di Batavia pada 1867, dan langsung mencari lokasi untuk pembangunan rumah sakit mental. Buitenzorg (Bogor) lantas menjadi pilihan utama.

“Karena sejuk dan hijau serta strategis, dekat dengan jalan raya pos dan jalur kereta api. jarak tempuh dari pusat ibukota kolonial di Weltervreden tidak terlalu jauh, ketimbang kota lain seperti Surabaya dan Semarang yang sempat ditinjau sebagai pembanding,” tulis Denny Thong dalam Memanusiakan Manusia: Menata Jiwa Membangun Bangsa.

Tahun 1882, Rumah Sakit Mental di Buitenzorg atau Krankzinningengesticht te Buitenzorg resmi beroperasi. Para penghuni pertama sebagian besar laki-laki, pasien pindahan rumah sakit militer dan China.

Sekira 35 orang Eropa dan 95 pegawai bumiputera dan keturunan Tionghoa bekerja di rumah sakit mental tersebut. Seorang dokter bernama Sumeru menjadi satu-satunya dokter kejiwaan pribumi di rumah sakit mental pertama di Hindia Belanda.

Pada kurun 1942-1945, atau semasa pendudukan Jepang, fungsi rumah sakit mental berubah menjadi penampungan para tentara Jepang dan sebagai tempat digunakan sebagai karantina penyakit menular.

Perbaikan rumah sakit mental di Bogor baru nampak ketika masa Orde Baru. Pada tahun 1978, keluar Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 135/Menkes/SK/IV/1978, tertanggal 28 April 1978, diatur susunan organisasi dan tata kerja RSJP Bogor.

Pada peringatan 120 tahun pendirian rumah sakit mental, tepat pada 1 Juli 2002 silam, RSJP Bogor diresmikan menjadi Rumah Sakit Dr. Marzoeki Mahdi.(*) Achmad Sentot



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH