Ritual Suci Wayang Potehi Adegan perang pada pertunjukan Wayang Potehi. (Foto; Yusuf R, Wayang Potehi, Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia)

SUARA tabuhan dong ko atau kendang bergema. Disusul kemudian riuh bunyi piak ko kentongan kecil, erhu (sejenis rebab), hian na (rebab kecil), dan toa loo (gembreng besar) menandai Lauw Tay atau permulaan pertunjukan Wayang Potehi.

Musik surut, tak lama empat tokoh dewa Potehi, Bie Tjo (dewa panjang umur), Gong Kiem Liong (dewa terkaya), Tjho Kok Kioe (dewa pangkat), dan Tjhai Tjoe (dewa anak pintar), pun muncul.

Dalang kemudian merapal mantra pembuka dan mengucap doa ritual kepada para dewa, “luan si luan-luan ing jong diauw, tetju singsim kiu tjok hok, eng hwa hu kwie thian te kiuw, sekwie beng gwat i lankan, (rejeki bersama dipikul, hamba bersungguh hati mengajukan permohonan rejeki, kemewahan di seluruh dunia, di dalam satu tahun semua terkabul)”.

Potehi, menurut Dwi Woro Retno Mastuti, peneliti budaya Tionghoa-Jawa, semula merupakan tontonan penghilang rasa rindu terhadap kampung halaman selama para orang Tionghoa berada di Jawa, namun ketika menyajika cerita tentang kepahlawanan, sejarah kerajaan, dan peri kehidupan dewa-dewa maka berubah menjadi ritual suci.

“Maka tak heran bila Potehi sering dipentaskan di klenteng-klenteng untuk puji-pujian kepada para leluhur dan dewa,” ungkap Woro Mastuti.

Sebelum dialog pembuka terucap, sesaji berupa buah-buahan, kue-kue, air putih, teh, dan kopi di dalam piring atau nampan kecil dipersiapkan. Dilengkapi pula nyala dupa atau hio perlambang penghantar doa. Si pelaku kaul lantas melemparkan angpao kepada grup pertunjukan Potehi.

Pertunjukan pun berlangsung. Dimulai monolog tokoh pembuka, dialog, adegan perang, dan penutupan.

Dalang memainkan boneka Potehi selam lebih kurang 1 hingga 2 jam dengan lakon sesuai permintaan si pelaku kaul. Pada babak akhir pertunjukan, dalang lalu membaca kalimat penutup, “djia sian sing we hu, teng di geng ho, pai sai hong thian, (mohon para penonton kami persilakan pulang, selamat tidur sampai jumpa kembali, selamat beristirahat)”.

“Bahasa Hokkian pada suluk pertunjukan terkadang susah dipahami karena para dalang orang Jawa mendapat doa tersebut secara lisan turun-temurun tanpa pernah membaca aksaranya,” ungkap Woro Mastuti.

Pertunjukan Wayang Potehi, lanjut Woro Mastuti, ketika dipergelarkan di klenteng menjadi ritual tak selalu memperhatikan apa penonton ada atau tidak. Mereka akan terus memainkan lakon, biasa dilakukan pada siang atau sore dan malam selama tiga bulan penuh, meski tanpa kehadiran penonton.(*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH