Riset Panjang Dokter Syarief untuk Pasien dengan Kaki Bebek Dokter Syarief menunjukkan sepatu yang ia desain (FOTO: MP/IFTINAVIA PRADINANTIA)
TAK banyak ilmuwan Indonesia yang concern terhadap fisiologis telapak kaki manusia. Padahal, telapak kaki memiliki fungsi yang cukup krusial bagi kehidupan kita. Ruang gerak terasa lebih nyaman jika kondisi telapak kaki dalam keadaan prima. Sebaliknya, jika telapak kaki bermasalah, kita akan sulit berjalan. Ruang gerak kita pun tak bebas dan terbatas.
Namun, seorang dokter spesialis Fisik dan Rehabilitasi, Dr. dr Syarief Hasan Lutfie, Sp. KFR justru menaruh perhatian serius pada bentuk telapak kaki manusia. Menurutnya, bentuk telapak kaki manusia terbagi atas tiga. "Berdasarkan ilmu perkakian, kaki manusia terbagi atas tiga yakni kaki datar, kaki normal dan kaki sangat lengkung," ucapnya ditemui beberapa waktu lalu di Plataran Menteng, Jakarta Pusat.
Sepatu untuk kaki datar
Sepatu rancangan dokter Syarief (FOTO: MP/IFTINAVIA PRADINANTIA)
Ia berpendapat bahwa bentuk kaki yang tidak normal perlu mendapat perhatian serius karena dapat berpengaruh terhadap anatomi tubuh lainnya. "Untuk kaki datar atau dikenal dengan sebutan kaki bebek perlu dapat penanganan serius karena dapat menyebabkan fatigue muscle (lelah otot)," urainya.
Sebagai seorang dokter, ia tak hanya fokus pada pengobatan luar dan terapi. Ia juga merancang sebuah sepatu khusus bagi mereka yang memiliki kaki datar.
Perjalanannya dalam merancang sepatu tersebut cukup panjang. Hal ini bermula saat ia memulai kariernya sebagai pegawai Kementerian Kesehatan di sub Direktorat Haji. Ia melihat tingginya angka kesakitan kaki.
Dari data tersebut, Dokter Syarief pun mengetahui bahwa kaki manusia sangat beragam. "Ada orang yang tungkainya pendek sebelah, ada yang telapak kakinya datar dan laij sebagainya. Hal inilah yang kemudian menjadi fokusnya untuk meneliti kaki terutama untuk telapak kakinya.
Kaki Datar
Dokter Syarief dan sepatu rancangannya (FOTO: MP/IFTINAVIA PRADINANTIA)
Ia pun berhasil mengumpulkan data-data dan mengambil disertasi di Fakultas Kedokteran UI untuk melakukan penelitian kemampuan endurance pada jemaah haji yang mempunyai kaki datar itu 2008.
Untuk memperdalam pengetahuannya akan anatomi kaki manusia, ia pun hijrah ke Jepang. Disana ia mengambil post doctoral di Keio University Hospital di Tokyo, Jepang. Begitu banyak ilmu yang didapat selama mengenyam pendidikan di sana salah satunya koreksi insole untuk telapak kaki datar.
"Ilmuwan Jepang menggeneralisir berdasarkan arkusnya. Penelitian dilakukan pada kelompok bukan perindividu. Misalnya ketika 10 orang berjalan bisa langsung dimonitor dan itu diambil reratanya, lalu dibuatlah insole-insole yang sesuai," bebernya.
Sepulangnya ke Indonesia, ia pun mempublikasikan hasil penelitian itu. Tak hanya mempublikasikan jurnal ilmiahnya, dokter Syarief juga mulai membuat sepatu untuk pasien-pasiennya secara manual.
Sepatu untuk kaki datar
Dokter Syarief dan putrinya, Dokter Larisa Sabrina (FOTO: MP/IFTINAVIA PRADINANTIA)
"Saya lakukan quick print satu-satu kemudian saya koreksi sendiri. Saya pilih bahannya dan buat insolenya secara manual. Tentu saja ini sangat kasar, tapi secara fungsi betul," jelasnya. Kemudian ia pun bekerja sama dengan seorang tukang dengan latar belakang orthotic prosthetic.
Lalu ia bertemu dengan produsen sepatu lokal, Andre Valentino. Kolaborasi antara ia dan pakar persepatuan tentu membuat segalanya terasa mudah. Ia pun mulai menyosialisasikan insole buatannya untuk kasus-kasus kaki.
Kini sepatu-sepatu rancangannya banyak dimanfaatkan oleh jemaah haji, baik pemilik telapak kaki datar ataupun yang normal. Alasannya, insole yang ia buat di dalam sepatu membuat ruang gerak lebih mudah dan tidak gampang pegal.
Ia berharap ke depannya sepatu rancangannya bisa dijadikan alternatif bagi mereka yang ingin memperbaiki struktur telapak kaki. "Sepatu dengan insole di dalam, jika digunakan rutin bisa membantu anatomi tulang," tukasnya. (avia)
Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH