Restu Papi Jadi Bekal Chrisye Nyusul Gipsy Chrisye sedang beraksi membetot bas. (Foto: Indorock)

SUHU tubuh Chrisye perlahan mulai menurun. Tak lagi menggigil. Sakitnya beranjak pulih, tapi beban pikirannya belum pergi. Dia masih belum berani membuka suara. Meminta restu pergi setahun penuh untuk manggung bersama Gipsy di New York, Amerika.

Entah siapa memberi tahu, rupanya sang papi mengerti penyebab anaknya gundah gulana hingga sakit keras. Dia lantas menghampirinya.

“Benar kamu ingin ke New York?” tanya Papi.

Chrisye mengangguk takut.

“Kuliah?”

“Saya enggak punya minat kuliah, pi,” ungkap anak kedua pasangan Laurens-Hanna Rahadi.

“Masa depan kamu?” papinya masih memburu.

“Musik.”

Sang papi memandang tajam Chrisye. Sebentar, lalu melenggang pergi tanpa keluar sepatah kata pun. Di situ, menurut Chrisye dinukil Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal, perang dingin antara dirinya dan papi sedang terjadi. “Situasinya sungguh tak enak,” kenangnya.

Berhari lamanya mereka berpunggungan. Saling mengunci mulut. Seisi rumah menyaksikan ketegangan antara keduanya. Tapi, di suatu siang kejadian tak terduga terjadi. Sang papi masuk kamar putranya nomor dua untuk membuka perbincangan.

“Chris, kalau kamu mantap, berangkatlah,” ujar papinya.

Chrisye terhenyak. Dia tak percaya sang papi melunak. Seolah masih seperti mimpi. Dia merasa perlu menegaskan maksud papinya.

“Papi mengizinkan saya?”

Papi mengangguk. Chrisye kontan memeluk erat papinya. Dia pun berjingkrak-jingkrak kesenangan. Seketika perang dingin berakhir. Meski begitu, perubahan sikap sang papi tetap meninggalkan misteri. Mengapa dia bisa berubah pikiran secepat itu?

Menurut maminya, lanjut Chrisye, belakangan papinya sering berdiskusi dengan beberapa temannya. Mereka berbincang sangat serius. “Barangkali kasus diri saya menjadi topik utama yang dibawa papi. Kasihan sebetulnya,” imbuhnya. Dari situ pikiran papi mulai terbuka.

Hari-hari setelah papi merestui, celetukan tentang jangan telat berangkat ke kampus, jangan lupa rajin belajar, kelulusan, harus sukses menjalani karir dengan modal ilmu kuliahan, dan sejenisnya tak lagi membising di telinga.

Pertentangan dengan papi menjadi masa transisi sangat penting bagi sejarah karir bermusik Chrisye. Sangat krusial. “Reli-reli emosi antara saya dan papi, pada akhirnya seperti sebuah pertarungan ‘elegan’ tentang prinsip”.

Masalah belum benar-benar berakhir. Chrisye harus mengontak teman-temannya di Amerika, terutama seorang dengan tugas mirip promotor, Pontjo Sutowo, untuk memastikan perjalanan, administrasi, dan kebutuhan band.

Akankah Chrisye menyusul teman-temannya ke Amerika? (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH