Resensi Novel: "Kemolekan Landak", Pertarungan Kelas Sosial Prancis dalam Apartemen Novel "Kemolekan Landak" merupakan terjemahan novel Prancis "L'Elegance du Herisson" (Foto: LiveLife)

MENGANGKAT tema filsafat, buku "Kemolekan Landak" bercerita tentang kesadaran kelas sosial dalam masyarakat Prancis dengan sejumlah konflik pribadi di dalamnya. Novel ini merupakan terjemahan dari "L'Elegance du Herisson" karya penulis Prancis, Muriel Barbery. Menjadi international best-seller di Italia, Jerman, Spanyol, dan Korea Selatan, novel ini juga mendapat apresiasi dari para kritikus sastra dan berbagai penghargaan, seperti Prix des Libraries 2007.

Dalam karya sastra kontemporer ini, Barbery memperlihatkan pertarungan kelas sosial di Prancis tidak secara umum, dengan lingkup gedung apartemen. Renee, penjaga gedung apartemen mewah di Paris, menjadi tokoh utama dalam novel ini. Meskipun tampak tidak berpendidikan dan penampilannya tidak menarik, namun ternyata ia seorang intelektual penikmat seni dan budaya. Ia sengaja menampilkan kesan tersebut di mata para penghuni.

Kesenjangan sosial antara Renee dan para keluarga borjuis penghuni apartemen tersebut sangatlah jauh. Hampir semua penghuni memiliki posisi tertinggi di Prancis, seperti penasihat negara, bangsawan, dan diplomat.

Beberapa lantai di atas kamar Renee, tinggallah Paloma Josse, gadis berusia 12 tahun. Tidak suka dengan masa depan borjuis yang telah ditakdirkan dalam keluarganya, ia berencana bunuh diri pada usianya yang ke-13. Meski masih kecil, mulut Paloma cukup pedas. Ia sering menyindir ayah, ibu, dan kakaknya, yang dianggapnya "kaum borjuis hampa".

Pada suatu titik, Renee dan Paloma bertemu. Mereka mendominasi sebagian besar kisah novel "Kemolekan Landak" sebelum seorang lelaki Jepang bernama Ozu muncul dan mengambil bagian dalam cerita.

Pola pikir kaum terdidik dan termasuk dalam kalangan atas Prancis dapat dengan mudah dipahami dalam buku ini. Namun, unsur elitis itu pulalah yang menjadi kelemahan karya yang telah diadaptasi dalam film "Le Herisson" (2009) oleh penulis skenario Mona Achache ini.

novel kemolekan landak
Novel "Kemolekan Landak" karya Muriel Barbery bisa Anda dapatkan dengan harga normal Rp 75 ribu (Sumber: Gramedia)

Opini

Jean Couteau

Jean Couteau, pria kelahiran Prancis yang menjadi kolumnis sekaligus salah satu penerjemah novel ini, memberi penuturannya. Menurutnya, lapisan masyarakat Prancis yang dianggap unggul adalah mereka yang tampil cerdas dan berpengetahuan. Demikian halnya novel ini, yang sepanjang isinya seolah-olah menguji pengetahuan pembaca.

"Sebagai orang yang berpuluh tahun bekerja dan menikmati karya seni budaya, saya bahkan tidak pernah mendengar tentang seorang pelukis Belanda abad 17 yang disebut dalam novel ini. Itu sesuatu yang memukau sekaligus menjengkelkan," ujar Jean.

Ia menilai novel ini sebagai sarkasme. Barbery menunjukkan kehampaan hidup kaum borjuis di Prancis. Di sisi lain, ia menabrakkannya dengan intelektualitas kaum jelata yang tidak hanya pintar dalam pengetahuan, tetapi juga rasa dan seni.

Eka Kurniawan

Novelis Indonesia, Eka Kurniawan, justru melihat humor dalam karakter Renee. Tokoh ini tidak hanya menyukai hal-hal "elit" seperti filsafat dan lukisan, tetapi juga budaya pop seperti film-film blockbuster.

"Problemnya adalah dia tidak mau orang-orang tahu kalau seleranya bagus. Karena, dalam tatanan sosial di apartemen tersebut, Renee hanya penjaga gedung yang stereotipnya tidak mengerti apa-apa. Padahal, secara intelektual dia jauh lebih superior daripada para penghuni apartemen itu," kata penulis buku "Lelaki Harimau" ini.

Eka menganggap novel tersebut sebagai jawaban atas pandangan bahwa karya sastra kontemporer Prancis nyaris tidak berkembang. Sebabnya, para penulis Prancis dibebani hal-hal berat seperti telaah filosofis, sehingga mereka tidak lagi menulis untuk masyarakat awam, melainkan para kritikus. (*)

Sumber: ANTARA

Baca artikel ulasan lainnya di sini: Ulasan Film: "Spider-Man: Homecoming".


Tags Artikel Ini

Asty TC

YOU MAY ALSO LIKE