Rentetan Serangan Bom dan Dampak Terhadap Perekonomian dan Pariwisata Indonesia Ilustrasi pariwisata Indonesia. Foto: asn.ic

MerahPutih.com - Rentetan bom yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur, sejak Minggu (13/5) sampai Senin (14/5) membuat Indonesia menjadi pusat perhatian dunia.

Kejadian mengenaskan ini bisa berdampak pada perekonomian negara. Meskipun demikian, Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta pelaku usaha tidak perlu takut dan menjalankan aktifitasnya seperti biasa.

“Hipmi mengutuk keras aksi-aksi terorisme di Surabaya. Aksi ini merupakan perbuatan biadab dan tidak dibenarkan oleh agama manapun dimuka bumi ini,” ujar Ketua Umum BPP Hipmi, Bahlil, dalam keterangan persnya di Jakarta, hari ini.

Bahlil meminta agar aparat kepolisian menuntaskan sampai ke akar-akar masalah terorisme ini. Bahlil mengimbau agar pelaku usaha tidak perlu takut dan beraktifitas sebagaimana biasanya.

Sumber: BPS

"Tujuan dari teroris adalah menimbulkan rasa takut. Kalau kita takut dan berhenti aktifitas, tujuan dia tercapai. Sebab itu, kami himbau pelaku usaha tetap menjalankan aktifitasnya seperti biasa," tegasnya.

Oleh karena itu, Bahlil meminta pelaku usaha tetap waspada dan menjalankan usahanya seperti biasanya. Secara makro, ucap Bahlil, aksi terorisme di Surabaya kemarin, tidak mampu mengguncang perekonomian

“Fundamental ekonomi kita sangat kuat. Konsentrasi kegiatan ekonomi juga sudah tersebar dimana-mana,” ucap Bahlil.

Bahlil mengatakan, pengeboman rumah ibadah di Surabaya tak mampu mempengaruhi ekonomi secara signifikan. Sebab, konsentrasi kegiatan ekonomi dan industri tak lagi hanya terfokus di Surabaya dan Jakarta.
Dikatakannya, sebagai dampak dari pembangunan infrastruktur dimana-mana, konsentrasi pembangunan dan kegiatan ekonomi tak lagi terfokus di Surabaya dan Jakarta, melainkan sudah tersebar ke berbagai wilayah.

“Kita akui ini sebagai dampak dari pembangunan infrastruktur yang masif. Jadi, kita tidak usah takut,” pungkasnya.

Dampak Terhadap Pariwisata

Serangan bom dalam waktu dekat bukan hanya berdampak pada perekonomian tapi juga bisa berdampak pada kinerja parisiwisata nasional.

“Yang mesti diwaspadai kinerja industri pariwisata nasional bisa terkoreksi. Target-target mungkin berat tercapai,” ucap juru bicara Partai Solidaritas Indonesia Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis, Rizal Calvary Marimbo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

Rizal mengatakan, industri ini sangat sensitif terhadap masalah keamanan. Apalagi Surabaya dekat dengan destinasi-destinasi andalan pariwisata nasional seperti Bali, Lombok serta Banyuwangi.

“Tidak saja karena Surabaya kota terbesar kedua, tapi juga dekat dengan destinasi pariwisata andalan kita,” ucap dia.

Rizal mengatakan, bom Surabaya tak berpengaruh banyak kepada stabilitas perekonomian. Di dalam negeri, masyarakat sudah tidak terpengaruh lagi dengan isu-isu kegiatan terorisme. Sehingga aktifitas ekonomi akan berjalan seperti biasa.

Hanya saja yang mesti diantisipasi sektor pariwisata, sebab di luar negeri muncul persepsi rendahnya rasa aman didalam negeri. Sehingga untuk sementara waktu, wisatawan manca negara (wisman) dapat saja melakukan penangguhan kunjungan ke Indonesia.

“Ini yang harus kita waspadai dan antisipasi,” ucap dia.

Sumber: BPS

Rizal mengatakan, tahun ini, pemerintah menarget kunjungan turis asing sebesar 17 juta. Pada tahun 2017 kunjungan wisatawan asing sebanyak 15 juta. Sebanyak 6 juta ditargetkan di Bali. Sebanyak 18 destinasi wisata andalan yang tersebar di Sumatera (Medan/Danau Toba, Batam, Belitung, Padang, dan Palembang), Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Borobudur/Yogyakarta, Solo, Surabaya-Bromo-Tengger, dan Banyuwangi), Kalimantan (Balikpapan), Bali, Nusa Tenggara Barat (Lombok), Sulawesi (Makassar/Wakatobi dan Manado), dan Papua Barat (Raja Ampat).

Rizal mengatakan, sektor pariwisata sangat strategis ke depan sebab pariwisata akan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2019. Pariwisata akan menggusur sektor migas yang sumbangannya terus menurun dan CPO.

Pada 2019, pemerintah menargetkan 20 juta wisatawan asing dengan devisa sekitar Rp 280 triliun. Penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata mencapai 12,6 juta orang dan indeks daya saing pariwisata Indonesia bakal berada di peringkat ke-30 dunia. (*)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH