Rendahnya Minat Generasi Milenial pada Film Bertema Nasionalis Generasi milenial menjauhi film berbau nasionalisme. (Foto: istimewa)

KETIKA orang mendengar frasa “Piye Kabare? Enak Tho Zamanku,” seketika teringat sosok Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Frasa tersebut diciptakan oleh masyarakat yang merindukan pemerintahan era Soeharto.

Frasa tersebut lantas diadaptasi dalam sebuah film berjudul Enak Tho Zamanku – Piye Kabare. Nuansa politik tak hanya terasa dari penggunaan judul saja. Film ini sarat akan politik mulai dari isi film, dialog antartokoh, hingga momentum peluncuran film. Film ini mulai beredar di bioskop-bioskop Indonesia mulai 12 April 2018, di mana suasana tahun politik sangat terasa.

Meski peluncurannya bertepatan dengan tahun politik, sutradara sekaligus penulis skenario Enak Tho Zamanku-Piye Kabare, Akhlis Suryapati mengatakan bahwa film ini dibuat tanpa sengaja memanfaatkan momentum Pemilu. Kendati demikian, Akhlis menyampaikan jika masyarakat boleh menafsirkan pembuatan film ini berkaitan dengan situasi politik di Indonesia.

film enak jamanku
Pendidikan politik melalui film sangat efektif. (Foto: istimewa)

Walaupun judulnya terkesan mengangkat rezim Orde Baru, produser film tersebut, Sonny Pudjisasono menyampaikan jika film ini tidak mengangkat tokoh tertentu secara spesifik. “Judul yang dipilih memang menggelitik, namun film ini bisa berlaku untuk pemerintahan masa siapa saja. Bukan hanya pada zaman tertentu,” ungkap Sonny.

Film ini mendapat sambutan baik dari Laksamana TNI (purn) Tedjo Edhy Purdihanto. Menurutnya, film dapat dijadikan sebagai media untuk menggugah kesadaran politik generasi muda. “Pendidikan politik melalui film sangat efektif,” ujarnya.

Hal berbeda justru disampaikan oleh pengamat film, Yan Wijaya. Yan setuju bahwa film dapat dijadikan sebagai media propaganda. Namun ia menilai film bermuatan politik di masa kini tak mendapat sambutan baik dari audiens yang sebagian besar merupakan remaja.

Di era tahun 1950an hingga 1980an, film-film yang beredar di masyarakat sarat akan nilai politik. Para sutradara tak segan mengkritik pemerintahan di masa itu. Pada masa itu, Indonesia berada di masa transisi dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan. Jadi, nasionalisme masyarakat masih sangat berkobar-kobar. Hasilnya, film-film yang beredar pun kental dengan nuansa nasionalisme dan politik seperti film Antara Darah dan Doa, Lewat Djam Malam, Penghianatan G 30 S PKI dan lain sebagainya.

Berbeda dengan zaman dahulu, kini minat masyarakat akan film bermuatan politik sangat rendah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan penonton masa kini tak tertarik akan film bermuatan politik. Faktor pertama yakni sineas Indonesia kurang cakap dalam memproduksi film bernuansa nasionalis dan politik.

film enak jamanku
Film berbau nasionalisme tak menarik generasi milenial. (Foto: istimewa)

“Indonesia belum selihai Hollywood. Contoh film Hollywood yang menggugah nasionalisme rakyatnya adalah film Rambo. Sutradara membuat penonton percaya bahwa Amerika menang atas Vietnam. Padahal faktanya sebaliknya,” papar Yan.

Faktor kedua adalah kurangnya nasionalisme generasi muda. Derasnya arus globalisasi serta tak diperkuat dengan nasionalisme membuat generasi muda tak menaruh perhatian lebih terhadap karya-karya yang sarat akan politik atau nasionalisme.

“Anak muda masa kini umumnya cuek terhadap paham nasionalis, beda dengan generasi tempo doeloe,” imbuh Yan. Rendahnya minat masyarakat akan film bertema politik atau nasionalis membuat dialog atau adegan berbumbu politis tak efektif.

"Buat film tentang anak muda yang nasionalis sehingga bisa menjadi panutan," tukasnya. (avia)

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH