Relasi Kuasa Bikin Mahasiswa Rentan Alami Kekerasan Seksual di Kampus Demo anti kekerasan seksual di Kampus. (Foto: Antara)

MerahPutih.com - Pelecehan seksual yang terjadi di dunia pendidikan, baik pada jenjang pendidikan tinggi, menengah sampai dasar telah mencoreng dan memalukan dunia pendidikan.

"Ini sering terjadi mulai dari tingkat dasar hingga jenjang pendidikan tinggi. Akan tetapi banyak yang tidak mau mengungkapkan dengan berbagai alasan," ujar Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo di Jakarta, Selasa (9/11).

Baca Juga:

Permen Nadiem Batasi Pertemuan Mahasiswa dan Pendidik di Luar Jam Kampus

Pihaknya mengapresiasi seorang mahasiswi Universitas Riau yang berani berbicara terkait kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Seorang mahasiswi berinisial LBH melaporkan adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan dosen pembimbingnya yang juga menjabat sebagai dekan di kampus itu.

Ia menegaskan, selama ini, perempuan yang menjadi korban tidak mau menyampaikan ke publik. Untuk itu perempuan harus berani ke luar dari lingkaran setan tersebut.

"Jika terus diam, sampai kapan pelecehan seksual pada perempuan ini terus terjadi," terang dia.

Pelecehan seksual pada perempuan di perguruan tinggi terjadi, karena berada pada posisi yang lemah. Pelaku memanfaatkan relasi kuasa yang dimilikinya.

Pendidikan, seharusnya menjadi tempat interaksi belajar-mengajar bukan tempat untuk mengeksploitasi mahasiswa dengan dimanfaatkan untuk keperluan pelanggaran seksual.

"Ini perbuatan yang memalukan dunia pendidikan. Kok ada pelanggaran dari norma. Apalagi terjadi di dunia pendidikan," ujarnya dikutip Antara.

Dia berharap, pihak kampus segera melakukan pengusutan terhadap kasus tersebut. Bahkan perlu adanya tim dari pihak luar yang independen agar proses tersebut dilakukan secara transparan dan kika terbukti bersalah, harus ada sanksi administratif dan juga pada pelaku.

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mengeluarkan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Permen PPKS) di lingkungan perguruan tinggi sejalan dengan tujuan pendidikan.

Unjuk rasa mendesak penuntasan hukum kasus kekerasan seksual. (Foto Antara/Wahyu Putro A) (Foto Antara/Wahyu Putro A)
Unjuk rasa mendesak penuntasan hukum kasus kekerasan seksual. (Foto Antara/Wahyu Putro A) (Foto Antara/Wahyu Putro A)

Peraturan yang terdiri atas 58 pasal tersebut, disebutkan sejumlah kewajiban perguruan tinggi dalam melakukan pencegahan kekerasan seksual melalui pembelajaran, penguatan tata kelola, dan penguatan budaya komunitas mahasiswa, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Pada pasal 6 dijelaskan pencegahan melalui pembelajaran, yakni pemimpin perguruan tinggi mewajibkan mahasiswa, pendidik, dan tenaga kependidikan untuk mempelajari modul pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang ditetapkan oleh kementerian.

Sementara pada tata kelola, perguruan tinggi perlu merumuskan kebijakan yang mendukung pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi, membentuk satuan tugas, menyusun pedoman pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Selain itu juga, membatasi pertemuan antara mahasiswa dengan pendidik dan atau tenaga kependidikan di luar jam operasional kampus, dan atau di luar area kampus. (Knu)

Baca Juga:

Alasan Muhammadiyah Tuding Permen Menteri Nadiem Dukung Seksual Bebas di Kampus

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Polisi Segel Shamrock Kitchen & Bar karena Diduga Langgar PPKM
Indonesia
Polisi Segel Shamrock Kitchen & Bar karena Diduga Langgar PPKM

Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Metro Jaya merazia Shamrock Kitchen & Bar.

Ketua DPD Ingatkan Pentingnya Toleransi dan Solidaritas Hadapi Pandemi
Indonesia
Ketua DPD Ingatkan Pentingnya Toleransi dan Solidaritas Hadapi Pandemi

Ketua DPD La Nyalla Mattalitti menyebut Bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai tradisi yang baik, yaitu toleransi dan solidaritas.

Komjen Listyo Sigit Dihadapkan Tugas Berat Berantas Kelompok Radikal
Indonesia
Komjen Listyo Sigit Dihadapkan Tugas Berat Berantas Kelompok Radikal

Listyo perlu memperkuat jajaran di bawahnya demi konsistensi memberantas kelompok radikal.

Anggota Kopassus Jadi Korban Pengeroyokan, Kasad Andika: Ngapain Mereka di Kafe?
Indonesia
Anggota Kopassus Jadi Korban Pengeroyokan, Kasad Andika: Ngapain Mereka di Kafe?

"Kita harus jujur, prajurit kita ngapain di situ kok berada di situ, ngapain? Itu yang sedang kita dalami," kata Andika.

KPK Jebloskan Eks Anggota BPK Rizal Djalil ke Lapas Cibinong
Indonesia
KPK Jebloskan Eks Anggota BPK Rizal Djalil ke Lapas Cibinong

Rizal Djalil dinilai terbukti menerima suap senilai SGD 100 ribu

Bawa Pemudik, Puluhan Pengemudi Travel Diciduk Polisi
Indonesia
Bawa Pemudik, Puluhan Pengemudi Travel Diciduk Polisi

para pengemudi akan dijerat Pasal 308 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan ancaman hukuman pidana maksimal dua bulan atau denda maksimal Rp500.000.

Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia, Ridwan Kamil Traktir Pengunjung Kafe di Aceh
Indonesia
Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia, Ridwan Kamil Traktir Pengunjung Kafe di Aceh

Usai pertandingan yang diwarnai tiga kartu merah, sebagai ekspresi kebahagiaan, Ridwan Kamil mentraktir semua pesanan makan warga yang ikut nobar bersamanya.

Pemerintah Diminta Fasilitasi Pengobatan Mantan Atlet Nasional Verawaty Fajrin
Indonesia
Pemerintah Diminta Fasilitasi Pengobatan Mantan Atlet Nasional Verawaty Fajrin

Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti memberikan perhatian serius kepada legenda bulu tangkis Indonesia Verawaty Fajrin.

Eks Mentan Amran Sulaiman Mangkir dari Panggilan KPK
Indonesia
Eks Mentan Amran Sulaiman Mangkir dari Panggilan KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) batal memeriksa mantan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman.

PDIP Minta Anies Segera Relokasi Korban Banjir Rob Muara Angke
Indonesia
PDIP Minta Anies Segera Relokasi Korban Banjir Rob Muara Angke

Relokasi warga korban banjir rob di Muara Angke, Jakarta Utara ke rumah susun (Rusun) harus secepatnya dilaksanakan.