Rekam Jejak Cerita Arus Sungai Ciliwung Sungai Ciliwung, Depok. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

TENANGNYA arus Sungai Ciliwung yang sedikit beriak-riak, terang saja menyisakan rentetan sejarah yang hampir terlupakan. Kemajuan zaman seolah menyisihkan riwayat dari sungai itu sendiri. Gemercik air yang seperti alunan irama, tak ayal menawarkan kedamaian bagi siapa pun manusia yang berada di sekitar sungai.

Siang itu, beberapa waktu lalu, saat Merahputih.com diajak oleh beberapa rekan dari Komunitas Rebung (pegiat Sungai Ciliwung Depok) menikmati suasana pinggir sungai. Di antara rindang batang pohon bambu, desik dedaunan yang tertiup angin, tak pelak menyapu seluruh tubuh kami.

Sungai Ciliwung dengan latar belakang Gunung Salak, akhir abad ke-19. (Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam)

Sambil menyaksikan arus sungai sejauh mata memandang, Christanto (55) selaku penggawa Komunitas Rebung mendaraskan sedikit sejarah tentang sungai bersejarah itu. Katanya, pada zaman Belanda, Sungai Ciliwung merupakan jalur transportasi masyarakat luas sehingga menjadi sangat penting jalur tersebut ketika masa penjajahan.

Selain sejarah umum, pun dalam urusan mistis. Sungai yang hulunya terdapat di dataran tinggi Kabupaten Bogor itu memiliki kisah lain yang hingga kini terus terjaga oleh para generasi.

"Waktu zaman Belanda, bahkan orang yang jualan bambu tidak pernah melanggar petuah yang ada. Untuk perjalanannya sendiri, mereka yang bawa rakit akan berhenti di beberapa titik. Tidak boleh main langsung jalan saja. Ada tata cara yang harus dipatuhi," kata Christanto di tepi Ciliwung, Depok, Jawa Barat.

Selain petuah tersebut, tambah Christano, ada lagi hal yang menjadi pantangan sungai itu. Yakni Pantang Telur di Sungai Ciliwung. "Untuk telur, tidak boleh dari dulu. Pernah ada cerita, orang dulu coba ngelanggar itu. Dalam perjalanan waktu bawa rakit, dia bawa telur. Tiba-tiba ada wujud buaya yang naik di belakang rakitnya," tambah Christanto.

Senada dengan Christanto, Lucky Kandou (49) yang merupakan warga sekitar yang juga pegiat Komunitas Rebung menjelaskan hal lain mengenai Sungai Ciliwung.

Menurutnya, selain menyajikan ketenangan, di jalur sungai itu juga menyajikan beberapa tempat menarik yang bersinggungan dengan hal-hal mistis lainnya. "Kalau menelusuri Sungai Ciliwung, ada beberapa tempat yang menarik. Misalnya Kedung Putih dan Kedung Wangi," pungkas Lucky.

Sungai Ciliwung. (Koleksi foto Geheugen van Nederland)

Adapun maksud dari kedua tempat itu adalah yang pertama mengenai Kedung Wangi, merupakan tempat yang mempunyai karang dengan warna dominasi putih. Anehnya, karang tersebut hanya ada di daerah Utan Kayu, Citayam. "Selanjutnya, Kedung Bau yang di mana ada satu tempat selalu mengeluarkan bau bangkai," katanya.

"Jarak Kedung Putih sekitar 100 meter dari daerah Utan Kayu. Kedung Bau jaraknya 200 meter dari Utan Kayu. Anehnya, sebelum tempat tersebut, air sungai tidak akan mengeluarkan bau. Setelah melewati tempat itu, aroma baunya juga tidak ada. Hilang begitu saja. Seperti bau bangkai," paparnya.

Jejak Peradaban

Selain kisah mitos yang didaraskan oleh Christanto dan Lucky, Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Ali Akbar mengatakan bahwa hal lain yang jauh lebih penting daripada itu adalah terkait penemuan beberapa bukti peninggalan pada masa prasejarah di sepanjang Sungai Ciliwung.

"Berdasarkan survei dan ekskavasi arkeologi sejak tahun 1960-1995 diketahui terdapat belasan situs prasejarah di tepi Sungai Ciliwung. Namun, setelah itu atau hampir 20 tahun telah berlalu, praktis tidak ada lagi riset prasejarah di tepi Sungai Ciliwung," kata Ali Akbar.

Dalam tesisnya yang berjudul "Peninggalan Prasejarah di Jakarta dan Sekitarnya: Kajian tentang Permukiman Prasejarah Dalam Skala Makro", Ali Akbar menjelaskan bahwa ada 5 buah situs yang ditemukan di sepanjang Sungai Ciliwung.

Sungai Ciliwung. (Koleksi foto Geheugen van Nederland)

"Terdiri dari Pejaten, Kampung Kramat, Condet, Tanjung Barat, dan Kelapa Dua," tulis Abe, panggilan akrab Ali Akbar di dalam tesisnya tersebut.

Abe pun meyakini, temuan tersebut merupakan beberapa bukti jejak peradaban dan permukiman sejak masa lampau, ribuan tahun Sebelum Masehi.

"Pada periode di mana manusia belum mengenal huruf. Di sekitar Sungai Ciliwung, daerah Jakarta dan sekitarnya telah dihuni manusia sejak sekitar 4000 tahun yang lalu atau 2000 Sebelum Masehi," katanya. (*)


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH