Regenerasi Politik Jangan Hanya Diisi Anak Pejabat Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin. Foto: Net

MerahPutih.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyebutkan bahwa 2024 bakal terjadi regenerasi elite politik.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komaruddin sepakat dengan pernyataan Megawati tersebut. Alasannya, memang jumlah pemilih kaum muda pada 2024 sementara 60% lebih pemilih milenial di situ.

Baca Juga

2024 Tahun Regenerasi, Megawati Minta Yang Tua Dorong Anak-anak Muda

"Potensi anak-anak muda, anak milenial untuk bisa bertarung di pilpres, pileg, pilkada sekarang sangat tinggi. Nah, itulah yang menjadi catatan mungkin bagi Megawati mengemukakan regenerasi itu,” kata Ujang kepada wartawan di Jakarta, Jumat (21/2).

Menurut Ujang, fenomena di dunia saat ini juga mulai banyak pemimpin-pemimpin muda. Dia mencontohkan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang saat ini berusia 42 tahun atau Perdana Menteri Finlandia Sanna Mirella Marin yang baru berusia 34 tahun.

”Sudah sewajarnyalah Indonesia mengarah ke situ, yang tua-tua itu king maker saja. Tapi memang persoalannya, saya merasa 2024 regenerasi kaum muda akan terjadi, tapi yang tua juga masih akan bersaing. Misalkan Prabowo, saya punya keyakinan masih ada kemungkinan tetap mencalonkan diri. Nggak semuanya menepi, tapi ada kombinasi tua-muda,” katanya.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Foto: Tim Media PDIP)
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Foto: Tim Media PDIP)

Namun, satu hal yang menjadi catatan, kata Ujang, jangan sampai regenerasi itu hanya diisi oleh tokoh-tokoh muda yang merupakan anaknya para pejabat juga, seperti anak politisi, ketua umum parpol, anaknya menteri, anak presiden dan wakil presiden.

”Kan oligarki itu, dinasti itu harus berkurang. Untuk apa juga bangsa ini terjadi regenerasi, tapi isinya keluarganya orang-orang itu saja. Anak-anaknya orang itu,” tuturnya.

Ujang mengatakan, dalam konteks Pemilu 2024, khususnya pilpres, jika syarat 20% minimal untuk presidential threshold dalam UU Pemilu tidak ada revisi maka maksimal hanya akan ada empat pasangan calon.

Mereka bisa berasal dari berbagai klaster. Pertama, klaster para menteri. Menurut Ujang, ada sejumlah nama yang berpotensi maju sebagai capres ataupun cawapres. Mereka di antaranya Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri BUMN Erick Thohir, Mendikbud Nadiem Makarim, Menko Polhukam Mahfud MD, dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Baca Juga

Pidato Megawati Jangan Paksa Anak Maju, Gibran: Sindiran Bukan Ditujukan ke Saya

Ada pula klaster ketua umum partai politik seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar serta Airlangga Hartarto masuk di dalamnya. Kemudian klaster DPR seperti Ketua Umum DPR Puan Maharani, dan selanjutnya klaster kepala daerah. Misalnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

”Tambahan lagi, klaster pengusaha yang punya uang kayak Sandi (Sandiaga Uno). Tapi Sandi kan masuk parpol karena dia kan Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra,” katanya. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH