Refleksi 20 Tahun Reformasi di Mata Musisi Reggae Aksi Tony Q Rastafara. Foto: Nabilla Syafa

MerahPutih.com - Musisi atau seniman bebas berkreasi untuk menghasilkan karya-karya terbaik di era reformasi karena demokrasi memberikan ruang kebebasan kepada siapapun untuk berkarya. Setidaknya itu yang dirasakan dua musisi reggae Ali Priambodo dan Tony Q Rastafara.

"Gimana 20 tahun reformasi, saya pikir kita tidak diarahkan untuk membuat apa yang mau kita buat sebagai seniman. Kita tidak dilarang untuk mengkritik rezim," kata Ali Priambodo, ex vokalis Band Day Afternoon dalam diskusi bertajuk "Refleksi 20 Tahun Reformasi dari Mata Pegiat Seni" di Graha PENA 98, Kemang Timur, Jakarta Selatan, semalam.

Foto 4 Pahlawan Reformasi. Foto: Merah Putih

Di era reformasi, lanjut musisi yang akrab disapa Dodo ini, seniman atau musisi lebih dihadapkan bukan lagi takut kepada rezim, namun bagaimana bisa mempertanggungjawabkan karya yang dibuatnya.

"Dua puluh tahun reformasi memang memberikan ruang luas bagi siapapun untuk berkarya. Ditambah lagi dengan adanya konsep digital. Kita sekarang bebas, ada YouTube, facebook dan lain-lain. Seniman bisa mendorong kontrol sosial," ujar musisi beraliran reggae itu.

Musikus reggae lainnya, Tony Waluyo Sukmoasih yang lebih dikenal dengan Tony Q Rastafara, menyampaikan reformasi 98 lalu bukan hanya bagaimana membangun sistem pemerintahan, tetapi lebih bagaimana menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjadi lebih baik. "Jadi reformasi itu sebenarnya lebih kepada bagaimana manusia-manusianya ini untuk membangun kesadaran, untuk membuat reformasi yang sebenarnya," ujar dia.

Seorang pengunjung menyimak karya pewarta Antara, Saptono. Karya itu menjadi ikon omega pergerakan Reformasi. (foto: ANTARA/Wahyu Putro)

Disinggung soal bagaimana peran musikus untuk mencegah maraknya aksi radikal dan terorisme yang marak belakangan ini, Tony berpendapat, bahwa tidak menutup kemungkinan akibat adanya konspirasi global.

"Bicara teroris ini kita tidak bisa hanya bicara hari ini, saya pikir mungkin ada kepentingan global sebenarnya. Contohnya, kalau runut-runut, kalau kebijakan negara tidak ikut dengan si A, B, lalu ada ini ada itu," ujarnya.

Senada dengan Tony, Dodo menimpali adanya kemungkinan konspirasi global tidak bisa dikesampingkan karena kejadiannya berurutan dan bersamaan dan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa tempat. Menurut dia, semua pihak harus ambil bagian untuk mencegah diri masing-masing, kemudian keluarga dan lingkungan agar tidak terbawa bujuk rayu para teroris dan pihak-pihak yang tidak toleransi.

Sebagai informasi, Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98) menggelar pameran foto refleksi 20 tahun gerakan reformasi di Graha Pena 98, Kemang, Jakarta Selatan, untuk mengenang, merefleksikan sekaligus menjaga semangat gerakan Reformasi 1998. Pameran yang berlangsung 26 April-21 Mei 2018 ini menampilkan 536 karya foto dari para mahasiswa lintas organisasi yang terlibat perjuangan gerakan reformasi 1998 serta wartawan pada saat itu. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH