Redupnya Nike Roshe Run, Sneakers Sejuta Umat NIke Roshe Run pernah populer pada zamannya. (Foto: howtomakeit.com)

SATU dekade ini gaya berpakaian streetstyle semakin populer di kalangan pecinta fesyen. Streetstyle yang sedang hype ini biasanya diidentikan dengan item fesyen seperti hoodie dan sneakers. Barang-barang itu menampilkan look yang kasual, sporty, namun tetap berkelas. Ditambah lagi dengan berbagai produk dengan brand kategori kelas atas. Merespon fenomena tersebut, tidak jarang busana yang kamu kenakan maupun tampilkan di media sosial sering menjadi sorotan utama para hypebeast, terutama item fesyen sepatu.

Seperti Nike Roshe Run, menjadi salah satu jenis sneakers terpopuler yang digunakan segala kalangan sejak dirilis pertama kali tahun 2012 lalu. Dengan keunggulan harga yang terjangkau, kenyamanan yang ditawarkan, serta kemudahannya untuk dipakai, Nike Roshe Run ini sempat hype sampai tahun 2014.

1. Harga terjangkau dan desain simple

roshe run
NIke Roshe Run merupakan projek personal dari Dylan Raasch. (Foto: howtomakeit.com)

Nike Roshe Run awalnya merupakan proyek personal yang didesain oleh Dylan Raasch pada tahun 2010. Sayangnya desain Roshe Run tidak diterima dengan baik di Nike. Kemudian membuat Raasch mengembangkan gagasannya sendiri di waktu luangnya dengan berfokus pada nilai dari sepatu.

Karena tidak berniat menonjolkan performa yang kuat, Nike Roshe Run akhirnya didesain sesimple mungkin tanpa ada batasan bahan material. Sepatu ini didesain agar bisa digunakan tanpa kaos kaki, atau bisa juga digunakan dengan kaos kaki. Fungsinya untuk digunakan berjalan dan juga travelling. Tak hanya itu bahkan dapat digunakan di acara formal maupun informal.

Raasch mengatakan, bahwa gagasan dari Nike Roshe Run adalah semakin simple, semakin besar dampaknya. Ketika dirilis tahun 2012, tidak heran 'sepatu serbaguna' ini menjadi sorotan dan banyak diminati orang-orang karena harganya yang termasuk terjangkau, hanya US$70 atau sekitar Rp1 juta.

2. Tak ada kampanye pemasaran

roshe run
Roshe memiliki harga terjangkau dan model yang simple. (Foto: howtomakeit.com)

Sejak tahun 2012, Roshe telah menjadi model sepatu Nike yang sangat populer. Padahal sneakers ini dirilis tanpa ada kampanye pemasaran, atau endorse untuk unboxing dari para influencer berbagai media sosial platform. Penjualan sepatu ini terus meningkat dari tahun 2012 sampai tahun 2014. Selain model dan harganya, orang-orang banyak menggunakan Roshe karena berbagai toko serta website yang sering mereka baca mengatakan bahwa menggunakan Roshe bisa membuatmu tampil keren. Pada saat itu memang kenyataannya penggunaan Nike Roshe Run sangatlah keren dan trendi.

3. Nike Roshe overexposed

roshe run
Roshe menjadi sepatu sejuta umat (Foto: howtomakeit.com)

Harga yang terjangkau membuat Roshe Run digunakan oleh orang dari berbagai umur dan kalangan. Saking populernya, sepatu ini dianggap overexposed. "Sepatu ini dijadikan bahan candaan karena terlalu banyak digunakan orang. Kamu bisa berjalan kaki dan menemukan 20 pasang Roshe dalam waktu 20 menit," jelas Lawrence Schlossman, brand director Grailed dan editor laman complex.

4. Kalah dengan teknologi

roshe run
Teknologi ultra boost dari Adidas mengalahkan Roshe (Foto: fleuriste-vert-mousse)

Karena permintaan pasar yang tinggi, Nike memproduksi Roshe Run secara berlebihan sehingga sepatu ini akan terus terpampang di semua toko sepatu. Tampilannya tidak lagi baru, dan teknologi BOOST milik Adidas mengalahkan sepatu yang menawarkan simplisitas "Roshe merupakan sepatu yang bagus pada masanya. Tetapi teknologi bergeser maju dan meninggalkan Roshe di belakang," jelas Derek Curry selaku pemilik Sneaker Politics di Louisiana. (shn)


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH