Redam Ketegangan di Semenanjung Korea, Paus Fransiskus Serukan Dialog Paus Fransiskus dalam sebuah acara di Vatikan (Foto: Twitter @vatican_en)

MerahPutih.Com - Ketegangan di Semenanjung Korea yang melibatkan Korea Utara dengan Korea Selatan bersama para sekutunya membuat Paus Fransiskus bersuara menyerukan dialog.

Paus Fransiskus dalam penyataan resmi Vatikan pada Senin (8/1) meminta semua pihak yang terlibat sengketa duduk bersama melakukan pembicaraan guna mengurangi ketegangan di kawasan Semenanjung Korea.

Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un sebelumnya sempat menghebohkan dunia dengan pernyataan bahwa tombol hulu ledak nuklir berada di mejanya dan kapan saja bisa ditekan. Pernyataan Kim Jong Un tersebut langsung mendapat tanggapan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang merupakan sekutu dekat Korea Selatan.

Paus Fransiskus meminta dukungan dunia agar melakukan pembicaraan terkait hukum pelarangan nuklir yang sudah disepakati negara-negara yang menyetujui proliferasi nuklir.

Dalam pidato tahunan untuk para diplomat, yang dikenal sebagai "Pernyataan kepada Dunia", Paus Fransiskus juga mengulangi seruan "status quo" Yerusalem untuk tetap utuh menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

"Ini sangat penting untuk mendukung setiap upaya dalam pembicaraan di semenanjung Korea, untuk menemukan cara baru guna mengatasi perselisihan, meningkatkan kepercayaan dan memastikan masa depan damai bagi rakyat Korea dan seluruh dunia," kata Paus Fransiskus.

Sebagaimana dilansir Antara, Paus berbicara kepada para diplomat sehari sebelum Korea Utara dan Korea Selatan dijadwalkan mengadakan pembicaraan yang diperkirakan akan membahas keikutsertaan Korea Utara di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang.

Pada awal bulan ini, setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan bahwa ia memiliki sebuah tombol nuklir yang selalu siap, Trump berkicau di Twitter-nya bahwa tombol Amerika Serikat milikinya lebih besar dan lebih kuat.

"Senjata nuklir harus dilarang," kata Paus Fransiskus, mengutip sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes XXIII pada puncak Perang Dingin dan menambahkan bahwa "tidak dapat disangkal bahwa perang dapat dimulai dengan suatu kebetulan dan keadaan yang tidak terduga".

Penguasa Tertinggi Gereja Katolik Roma itu mencatat bahwa Tahta Suci termasuk di antara 122 negara bagian yang tahun lalu menyetujui sebuah perjanjian Perserikatan Bangsa Bangsa untuk melarang senjata nuklir.

Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan lain-lain memboikot perundingan mengarah pada perjanjian tersebut, bukan berjanji mengikatkan diri pada Perjanjian Non-Proliferasi, yang berumur puluhan tahun.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH