RE Martadinata, Pejuang Angkatan Laut yang Tewas di Udara RE Martadinata bersama Pimpinan Angkatan Laut Amerika Frederick Kivette. (Foto: commons.wikimedia.org)

SEJAK kecil, Raden Eddy Martadinata memang sudah tertarik pada sektor kelautan. Lelaki yang lahir pada 29 Maret 1921 di Bandung itu, pada 1934 bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Lahat. Kemudian, pada 1938 melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO; setara SMP) di Bandung, dan sekolah pelayaran milik kolonial Hindia Belanda, Zeevaart Technische School, pada 1941.

Sayangnya, ia gagal melanjutkan dikarenakan pihak kolonial Belanda menyerah kepada kolonial Jepang pada 1942. Kemudian, ia mengikuti pendidikan pelayaran yang diselenggarakan oleh kolonial Jepang sampai pada akhirnya diangkat sebagai nakhoda kapal latih Dai28 Sakura Maru di Semarang.

Selama masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, RE Martadinata memiliki peranan cukup penting. Pada 1945, ia ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut Jawa Barat. Selain itu, ia merupakan salah satu penggagas dibentuknya Barisan Banteng Laut di Jakarta. Bersama para pemuda laut, Martadinata berhasil merebut kapal-kapal milik Jepang di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.

Dalam Barisan Banteng Laut, Martadinata merupakan tokoh sentral yang begitu intensif melakukan komunikasi dengan laskar-laskar pemuda guna mempersiapkan kemerdekaan, pasca-runtuhnya kedigdayaan kolonial Jepang di Perang Asia Timur-Raya.

Tak terhitung peran Martadinata dalam aksi militer untuk meredam berbagai pergolakan yang terjadi di Tanah Air selama masa mempertahankan kemerdekaan. Sosok yang dikenal dekat dengan Sukarno itu, pada Juli 1959 menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Laut Indonesia.

Pada 1965, seiring dengan meletusnya Gerakan 30 September, Martadinata menyeru kepada mahasiswa dan kalangan santri untuk mengganyang PKI yang diduga merupakan dalang dari peristiwa tersebut. Tindakan itu ternyata tidak berkenan di hati Sukarno. Pada 21 Februari 1966, Sukarno melakukan reshuffle Kabinet Dwikora. Nama RE Martadinata pun dicopot dari Menteri/Panglima Angkatan Laut.

Setelah digeser dari jabatan tersebut, RE Martadinata diberikan tugas menjadi perwakilan Indonesia di Pakistan. Tugas itu pun dilakukannya, hingga awal Oktober 1966 ia kembali ke tanah air. Saat kembali, Sukarno memberikan kenaikan pangkat menjadi Laksmana, dalam sebuah peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 1966.

Selain itu, Martadinata juga diminta untuk mendampingi tiga tamu kenegaraan dari Angkatan Laut Pakistan. Pada 6 Oktober 1966, Martadinata mengajak tiga tamunya berkunjung ke Puncak, Bogor, dengan menumpang helikopter yang dipiloti oleh Letnan Laut Charles Willy Kairupa.

Ketika akan kembali ke Jakarta, Martadinata mengambil-alih kemudi helikopter berjenis Alloute A IV 422 itu. Namun nahas, dalam perjalanan pulang cuaca tiba-tiba memburuk. Helikopter yang dikemudikan Martadinata hilang kendali dan menabrak tebing di Riung Gunung. Helikopter itu meledak, seluruh penumpang tewas, termasuk Martadinata. (*)


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH