RDP dengan DPR, Pakar Pemilu Sebut E-Voting Rawan Diretas

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Selasa, 03 Februari 2026
RDP dengan DPR, Pakar Pemilu Sebut E-Voting Rawan Diretas

Gedung DPR RI. (Foto: MerahPutih.com/Dicke Prasetia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Akademisi Universitas Brawijaya, George Towar Ikbal Tawakkal, menilai Indonesia belum siap menerapkan sistem pemungutan suara elektronik (electronic voting atau e-voting) dalam pelaksanaan pemilihan umum (pemilu).

Pandangan tersebut disampaikannya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2).

George menyatakan dirinya cenderung tidak sepakat dengan penerapan e-voting, baik menggunakan model direct recording electronic (DRE), e-voting murni, maupun sistem hibrida. Menurutnya, meskipun terdapat berbagai varian sistem e-voting, seluruhnya masih menyisakan persoalan serius terkait kesiapan dan keamanan.

“Saya masih melihat kita belum siap, karena rawan untuk diretas. Keamanan siber itu ngeri. Kejahatan siber bisa datang dari mana saja, entah dari lawan politik atau pihak iseng,” ujar George dalam rapat tersebut.

Baca juga:

Hasil Rakernas, PDIP Dorong E-Voting Solusi Hemat Biaya Pilkada Langsung

Selain aspek keamanan, George juga menyoroti persoalan kepercayaan publik terhadap hasil pemilu berbasis digital. Ia mengutip hasil penelitian Riera dan Brown di kawasan Amerika Latin yang menunjukkan bahwa penerapan e-voting justru memicu krisis kepercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu.

“Masalahnya bukan hanya teknis, tapi juga kepercayaan publik. Dalam banyak kasus, masyarakat tidak percaya dengan hasil e-voting. Instrumen digitalnya juga sering kali tidak siap,” katanya.

Baca juga:

Istana Respons Usulan E-Voting Pilkada, Sebut Perlu Kajian Mendalam

George menambahkan, pengalaman sejumlah negara maju dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia. Ia menyebut negara-negara seperti Jerman dan Belanda pernah menerapkan sistem e-voting, namun pada akhirnya menghentikan praktik tersebut.

“Negara-negara besar itu pernah memakai e-voting, tetapi kemudian dibatalkan. Sekarang mereka tidak mau lagi karena isu kepercayaan terus dipersoalkan,” ucapnya.

Oleh karena itu, George meminta pemerintah dan DPR untuk berhati-hati sebelum mendorong digitalisasi penuh dalam penyelenggaraan pemilu. Ia menegaskan bahwa legitimasi hasil pemilu jauh lebih penting dibandingkan efisiensi teknologi semata. (Pon)

#E-Voting #Komisi II DPR #Pemilu #Rapat Dengar Pendapat
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Komisi II DPR Mulai Kaji Putusan MK yang Persoalkan Syarat Pendidikan Wapres Gibran
Komisi yang membidangi urusan kepemiluan itu menghormati putusan MK.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
Komisi II DPR Mulai Kaji Putusan MK yang Persoalkan Syarat Pendidikan Wapres Gibran
Berita Foto
DPR Tunjuk Bahtra Banong Menjadi Ketua Panja Penyusunan RUU Pemilu
Penetapan ketua Panitia Kerja Penyusunan RUU Pemilu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 08 Oktober 2026
DPR Tunjuk Bahtra Banong Menjadi Ketua Panja Penyusunan RUU Pemilu
Indonesia
10 Isu Strategis Dalam Rancangan Undang-Undang Pemilu
Isu-isu strategis yang akan dibahas itu menjadi dasar bagi panja untuk mengundang pihak-pihak terkait guna menyampaikan saran dan masukannya terhadap sistem Pemilu.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 05 Oktober 2026
10 Isu Strategis Dalam Rancangan Undang-Undang Pemilu
Dunia
Pilpres Brazil 2 Putaran, Petahana Dikalahkan Oposisi
Calon presiden Flavio Bolsonari memperoleh suara 47,23 persen. Kemudian, Lula da Silva memperoleh suara 44,93 persen.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 05 Oktober 2026
Pilpres Brazil 2 Putaran, Petahana Dikalahkan Oposisi
Indonesia
Legislator Golkar Komentari Usul Dapil Nasional: Menarik, tapi jangan Bikin Bingung
Sistem tersebut menarik karena partai politik memiliki peran dalam menentukan calon yang memperoleh mandat rakyat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Legislator Golkar Komentari Usul Dapil Nasional: Menarik, tapi jangan Bikin Bingung
Indonesia
Punya 2 Juta Suara Terbuang, Demokrat Usul Dapil Nasional
Pembahasan mengenai mekanisme tersebut, masih terus dilakukan id antara partai politik sebagai bagian dari penyusunan revisi Undang-Undang Pemilu.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Punya 2 Juta Suara Terbuang, Demokrat Usul Dapil Nasional
Indonesia
PDIP Buka Opsi Parliamentary Threshold 5-7 Persen untuk Efektivitas Kerja Parlemen
Penaikan PT diperlukan untuk mendorong efektivitas kerja parlemen.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
PDIP Buka Opsi Parliamentary Threshold 5-7 Persen untuk Efektivitas Kerja Parlemen
Indonesia
Demokrat Usul Dapil Nasional di Tengah Wacana Parliamentary Threshold 7 Persen
Demokrat lebih menyoroti potensi banyaknya suara rakyat yang hangus akibat penerapan PT.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
Demokrat Usul Dapil Nasional di Tengah Wacana Parliamentary Threshold 7 Persen
Indonesia
Ketum Partai Disebut Sepakat Ambang Batas Parlemen 4 Sampai 5 Persen.
Komisi II DPR juga tetap memperhatikan sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pemilu hingga masukan-masukan dari akademisi dan masyarakat sipil.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Ketum Partai Disebut Sepakat Ambang Batas Parlemen 4 Sampai 5 Persen.
Dunia
Partai Kanan Ekstrem Alternatif Jerman Menang Besar di Negara Bagian, Bersiap Tarung di Pemilu Federal
Seusai menang besar dalam pemilu di negara bagian Sachsen-Anhalt, Jerman bagian timur, partai kanan ekstrem Alternatif untuk Jerman (Alternative Fur Deutschland/AfD) kini mengincar kemenangan dalam pemilu federal.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 08 September 2026
Partai Kanan Ekstrem Alternatif Jerman Menang Besar di Negara Bagian, Bersiap Tarung di Pemilu Federal
Bagikan