berita-singlepost-banner-1
Rawan Rusak, Ribuan Manuskrip Kuno Koleksi Kerajaan Mangkunegaran Digitalisasi Petugas PT Unibless Indo Multi melakukan digitalisasi terhadap buku kuno milik koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka, Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Kamis (13/2). (MP/Ismail)
berita-singlepost-banner-2
berita-singlepost-mobile-banner-7

MerahPutih.com - Perpustakaan Reksa Pustaka di Kerajaan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, melakukan digitalisasi terhadap koleksi-koleksi buku kuno yang sebagian besar berusia ratusan tahun. Dari 11.000 buku koleksi Perpustakaan Reksa Pustaka, baru 3.132 buku yang telah selesai dilakukan digitalisasi.

Pengelola Reksa Pustaka Darweni mengungkapkan, hampir 30 persen koleksi buku kuno Perpustakaan Reksa Pustaka selesai dilakukan digitalisasi. Dari banyaknya buku koleksi, sebanyak 60 persen buku di perpustakaan kompleks Pura Mangkunegaran itu rusak.

Baca Juga:

Demi Tumbuhkan Literasi di Masyarakat, Anies Bakal Buat Perpustakaan di MRT

"Dengan digitalisasi ini, usia buku akan lebih panjang. Masyarakat juga bisa membacanya lewat komputer," ujar Darweni kepada merahputih.com, Kamis.(13/2).

Ia mengungkapkan, usia kertas bisa mencapai 500 tahun. Koleksi Reksa Pusata mencapai 11.000 buku yang 700 di antaranya merupakan manuskrip kuno. Saat ini, baru 3.132 koleksi yang sudah didigitalisasi. Usia Perpustakaan Reksa Pustaka sendiri mencapai 152 tahun.

  Penari berlatih di Pendapi Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah. (MP/Ismail)
Penari berlatih di Pendapi Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah. (MP/Ismail)

"Buku koleksi yang dirusak sebagian besar merupakan buku yang laris dibaca, di antaranya buku Mangkunegara I, Babad Nitik, tahun 1780, isinya kisah beliau (Raja Mangkunegaran) yang masih relevan di masa kini," kata dia.

Meski sudah didigitalisasi, koleksi buku kuno Mangkunegaran tidak dapat diakses secara online. Pengunjung harus datang ke Mangkunegaran dan mengaksesnya lewat komputer yang disediakan.

Baca Juga:

Catat! Ini Lokasi Stasiun MRT yang Akan Dibangun Perpustakaan

"Kami melibatkan pihak ketiga dalam melakukan digitalisasi, yakni PT Unibless Indo Multi melalui program tanggung jawab sosial PT Epson Indonesia. Digitalisasi 3.000 koleksi itu berlangsung selama enam bulan," kata dia.

Direktur PT Unibless Indo Multi Sylvie Selyn Sembiring mengaku, tidak mudah dalam melakukan digitalisasi ini. Kendala selama proses digitalisasi adalah kondisi buku yang sudah rapuh dan buku-bukunya sangat tebal.

"Kalau menemukan buku itu (buku rapuh) kami harus berhati-hati karena isinya dokumen penting," kata dia. (Ism)

Baca Juga:

Catat! Ini Lokasi Stasiun MRT yang Akan Dibangun Perpustakaan


berita-singlepost-mobile-banner-3
Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4
berita-singlepost-banner-5
berita-singlepost-banner-6