Ratusan Vapers Pamerkan Hasil Rontgent Paru-paru, Vape Lebih Bahaya dari Rokok? Pamer Foto Torax: Pamer 200 foto rontgen pengguna vape lebih dari satu tahun di Vape Movement Jatim yang diselenggarakan di Resto Kapin Surabaya. Minggu (24/11/2019). (APVI for MerahPutih.com)

MerahPutih.com - Pengguna rokok elektrik alias vape belakangan sedang was was. Sebab Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memunculkan wacana pelarangan penggunaan vape. Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Jatim pun menyikapi hal tersebut dengan menggelar Vape Movement Jatim.

Gerakan yang digelar di salah satu restoran Surabaya, Minggu (24/11) ini merupakan diskusi untuk mensosialiasikan seluk beluk vape.

APVI mengundang sejumlah narasumber untuk menjelaskan seluk beluk vape dan industri vape di tanah air. Selain itu sekitar 200 vapers dari berbagai daerah memamerkan foto toraks hasil rontgent secara mandiri untuk menunjukkan bahwa efek dari penggunaan vape.

Vapers

Pamer Foto Torax: Salah seoarang vapers Nining Licious saat melihat satu foto rontgen Vaper yang sudah lebih dari satu tahun menggunakan vape di Vape Movement Jatim yang diselenggarakan di Resto Kapin Surabaya. Minggu (24/11/2019). (APVI for MerahPutih.com)

Mereka pun mengklain hasil rontgent vapers lebih baik daripada perokok konvensional. "Tujuan utama dari acara ini adalah untuk menyikapi kabar simpang siur tentang vape yang terjadi sekitar dua bulan lalu di Amerika," kata Agung Subroto Humas APVI Jatim.

Baca Juga:

Vape atau Rokok, Mana yang Lebih Aman?

Menurut Agung, yang kerap jadi pertanyaan masyarakat apakah vape itu berbahaya? Nah, gerakan ini untuk menjawab pertanyaan publik melalui bukti-bukti foto toraks dan pengakuan dari vapers.

“Vapers yang sudah menggunakan vape selama bertahun-tahun masih baik-baik saja,” ujar dia.

Seperti diketahui, sekitar dua bulan lalu, beberapa media Amerika mengabarkan ada warganya yang meninggal dunia dan diduga karena menggunakan vape.

Kabar ini langsung menjadi sorotan publik di berbagai negara. Termasuk Indonesia. Apalagi vapers di Indonesia juga cukup banyak.

vape

Pamer Foto Torax: Dr Arifandi Sanjaya (kanan) saat menunjukkan foto rontgen di Vape Movement Jatim yang diselenggarakan di Resto Kapin Surabaya. Minggu (24/11). (APVI for MerahPutih.com)

Seorang dokter umum yang juga pengguna vape yakni dr Arifandi Sanjaya turut hadir sebagai narasumber. Dia menjelaskan berbagai bukti bahwa meninggalnya pengguna vape di Amerika, terbukti karena menggunakan cairan vape yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC/kandungan dalam ganja) ilegal.

Selain itu, lanjut dia, Badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat telah mengeluarkan hasil penelitiannya. Yakni tentang produk vape ilegal. Ternyata vape ilegal itu juga mengandung vitamin E asetat yang diduga menyebabkan cedera paru-paru.

Baca Juga:

Sah Berlaku Juli, Pajak Cukai Vape Lebih Tinggi dari Rokok Biasa

Menurut dr Arifandi, sejumlah penelitian telah membuktikan dampak vape lebih tidak berbahaya daripada rokok konvensional. "Jujur, vape ini memang adiktif (bikin kecanduan). Tapi kecanduan atau tidak kecanduannya seseorang juga ditentukan oleh kebiasaan (habbit),” ujar dr Arifandi seperti dilansir SuaraSurabaya.net.

Dalam diskusi tersebut APVI Jatim juga meminta pemerintah dalam mengambil sebuah kebijakan tidak didasarkan pada ketakutan dan kecurigaan tanpa adanya pembuktian. "Kami mendukung pemerintah untuk melakukan pembuktian-pembuktian secara ilmiah. Kami siap duduk bersama dengan pemerintah dalam mengambil kebijakan terbaik dalam membuat regulasi tentang vape ini," kata Eko Prio Ketua Bidang Produksi APVI.

APVI menekankan, sejak diresmikannya vape lewat aturan fiskal dengan mengenakan tarif cukai sebesar 57 persen, maka industri vape sebenarnya turut berkontribusi untuk memiliki membangun negeri.

"Laporan Bea dan Cukai, industri vape sudah menyumbang sebesar Rp 700 miliar sejak awal cukai berlaku," kata Eko. (*)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH