Rambut Manusia dan Bulu Anjing Mampu Atasi Tumpahan Minyak Menjadi opsi yan glebih sustainable. (Foto: Unsplash/Mr Karl)

PENELITIAN terbaru dari University of Technology Sydney (UTS) menemukan bahwa bulu anjing dan rambut manusia bisa menjadi alternatif media untuk membersihkan tumpahan minyak mentah di darat.

Melansir laman Euro News, tim ini membuat tikar dari bulu anjing dan rambut manusia yang dibandingkan dengan dua produk penyerap minyak yang kebanyakan dijual di pasar. Seperti kain plastik (propilena) dan lumut gambut longgar. Peneliti mensimulasikannya pada tumpahan minyak di tiga jenis permukaan tanah: permukaan keras tidak berpori, permukaan semi-berpori, dan pasir.

Baca juga:

Proyek Ini Mengubah Emisi CO2 Menjadi Pakan Ternak

1
Rambut dan bulu dijadikan tikar sebagai prototip sustainbale. (Foto: Unsplash/Corina Rainer)

Pilihan yang lebih murah dan ramah lingkungan (bulu anjing dan rambut manusia) ternyata lebih berhasil membersihkan tumpahan. Ini pertama kali bahan-bahan alami telah dibandingkan untuk tumpahan minyak berbasis lahan.

"Bulu anjing khususnya sangat baik membersihkan tumpahan minyak. Tikar dari rambut dan bulu manusia sangat mudah diaplikasikan serta dihilangkan dari tumpahan," kata Mega Murray, yang memimpin penelitian ini.

Murray menambahkan, ini merupakan temuan yang sangat menarik bagi para pengelola lahan yang menanggapi tumpahan minyak dari truk, tangki penyimpanan, atau pipa minyak bocor. Semua skenario tanah ini dapat ditangani secara efektif dengan sorben-sorben asli yang berkelanjutan.

Baca juga:

Bakteri Pemakan Logam Tak Sengaja Ditemukan di Kaca Kotor

2
Bulu anjing secara khusus sangat baik membersihkan tumpahan minyak. (Foto: Unsplash/Asmund Gimre)

Tumpahan minyak bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan alam. Racun dalam minyak mencemari tanah dan air tanah, yang berarti efeknya terasa jauh melebihi bencana awal.

Saat ini bahan sorbent sintetis sebagian besar digunakan untuk menyerap minyak ketika tumpah di permukaan keras seperti trotoar, jalan raya, dan area beton. Bahan-bahan ini mahal, dan menghasilkan limbah plastik non-biodegradable dalam jumlah besar. Dengan lebih dari 8 juta ton limbah plastik yang diproduksi setiap tahun, sangat sedikit yang didaur ulang. Sangat penting untuk menemukan alternatif yang dapat terbiodegradasi. (lgi)

Baca juga:

Perbedaan Antara Green Tourism, Ecotourism dan Sustainable Tourism

Kredit : leonard

Tags Artikel Ini

Leonard

LAINNYA DARI MERAH PUTIH