Ramaikan 'Musim Demo', PA 212 & FPI Bakal Gelar Aksi Tuntut Pemulangan Habib Rizieq Habib Rizieq. (MP/Widi Hatmoko)

MerahPutih.com - Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Front Pembela Islam (FPI) serta beberapa ormas Islam lainnya bakal menggelar Parade Tauhid Indonesia di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (28/9) besok. Rute yang akan ditempuh yakni dari Senayan menuju Monas.

Acara tersebut bertajuk Tauhid untuk Selamatkan Negeri, Tausiyah, Pawai Bendera Tauhid dan Doa untuk Negeri. Parade akan dimulai pada pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.

Baca Juga:

Nasib FPI dan PA 212 Kini: Oposisi di Ujung Tanduk

Ketua PA 212 Slamet Maarif mengatakan bakal ada beberapa aspirasi yang akan disampaikan dalam acara parade tauhid nanti, antara lain menuntut kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab.

Juru bicara FPI itu, belum mau menduga-duga berapa banyak massa yang akan hadir dalam parade tauhid nanti. Dia hanya menargetkan peserta sebanyak 50 ribu peserta.

Seorang orator menyampaikan aspirasinya di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat
Massa 212 berunjuk rasa di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat jelang putusan MK terkait sengketa Pilpres (Foto: antaranews)

Sementara itu, Ketua Panitia Parade Tauhid, Edy Mulyadi menyampaikan atas perkembangan isu nasional yang dinamis membuat pihaknya merubah konsep acara dari Parade Tauhid menjadi Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI.

"Perubahan nama dan rute ini terjadi untuk menyesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi yang dinamis," kata Edy dalam siaran persnya kepada wartawan, Jumat (27/9).

Baca Juga:

FPI Bisa Dibubarkan

Menurut Edy, apa yang menjadi dasar pertimbangan perubahan tersebut antara lain adalah ada insiden represifitas aparat Kepolisian terhadap massa aksi di berbagai daerah, bahkan ada yang sampai menjadi korban jiwa.

"Pertama, aksi mahasiswa masih dihadapi oleh aparat dengan sikap represif hingga menimbulkan korban luka, hilang, bahkan ada yang meninggal dunia," ujarnya.

Baca Juga:

Perusuh Semalam Tak Gunakan Almamater, Mahasiswa: Kaya Om-Om Gitu Dech

Kedua, adalah munculnya aksi para pelajar sebagai sebuah fenomena yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam ekskalasi politik di negeri ini. Aksi yang berlangsung spontan dan tanpa komando yang jelas ini pun berakhir ricuh dan diamankannya ratusan pelajar oleh pihak aparat.

Ketiga, kerusuhan di Wamena, Papua, dengan korban puluhan jiwa dan eksodus warga pendatang keluar dari wilayah tersebut.

Keempat, bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tidak tertangani dengan cepat dan tepat oleh Pemerintah, telah menyebabkan ratusan ribu warga terkena pekatnya asap dan menderita sakit infeksi pernapasan (Ispa). Bencana asap juga telah merenggut korban jiwa.

"Berbagai kondisi ini menunjukkan negeri kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ada yang salah dalam mengelola dan mengurus negara yang kita cintai ini," tutup ketua panitia aksi itu. (Knu)

Baca Juga:

Kemendagri Buka-bukaan Alasan Belum Perpanjang Izin Ormas FPI



Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH