Raja Abdullah Tolak Upaya Gantikan Yerusalem dari Kota Suci Jadi Ibu Kota Raja Abdullah II, Pemimpin Yordania (Foto: Instagram @rhjco)

MerahPutih.Com - Raja Yordania Abdullah menolak upaya pihak-pihak tertentu yang ingin mengubah status Yerusalem dari tempat suci menjadi ibu kota negara. Penolakan Raja Abdullah itu sebagai protes dan reaksi atas pengakuan Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Raja Abdullah mengatakan bahwa perdamaian akan sulit terwujud di wilayah tersebut tanpa adanya resolusi konflik Israel-Palestina.

"Semua kekerasan ... adalah akibat dari kegagalan menemukan solusi damai untuk masalah Palestina," kata Raja Abdullah dalam pertemuan KTT Luar Biasa OKI di Istanbul, Turki, Rabu (13/12).

Sebagaimana diketahui dinasti Raja Abdullah Hashemite adalah penjaga tempat suci umat Islam di Yerusalem, sehingga Amman sangat sensitif terhadap perubahan status setelah keputusan pemerintahan Trump untuk mengakuinya sebagai ibu kota Israel.

Sementara itu negara-negara Arab dan masyarakat Muslim di seantero Timur Tengah mengecam pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Mereka menganggap pengakuan itu sebagai langkah yang memanas-manasi wilayah yang bergejolak.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dalam pidato yang direkam sebelumnya, mengatakan Yerusalem merupakan "ibu kota abadi Negara Palestina" dan bahwa langkah Trump itu sama saja dengan Amerika Serikat sedang melepaskan peranannya sebagai penengah perdamaian." Putaran terakhir perundingan perdamaian Israel-Palestina yang ditengahi Washington buyar pada 2014.

Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-bangsa menyuarakan kehawatiran atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan kedutaan besar AS di Israel ke Yerusalem. Mereka juga mengkhawatirkan akibat yang ditimbulkan Trump terhadap upaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Israel-Palestina.

Banyak negara sekutu AS juga menentang pembalikan kebijakan AS bertahun-tahun serta kebijakan luar negeri AS atas Yerusalem.

Inggris mengatakan langkah Trump itu tidak membantu upaya perdamaian dan bahwa Yerusalem pada akhirnya harus dibagi untuk Israel dan negara Palestina di masa depan. Jerman menyatakan bahwa status Yerusalem harus ditentukan melalui kerangka penyelesaian dua-negara.

Presiden Lebanon Michel Aoun sebagaimana dilansir Antara dari Reuters mengatakan pengakuan atas Yerusalem merupakan keputusan yang berbahaya dan mengancam kredibilitas Amerika Serikat sebagai mediator perdamaian Timur Tengah.

Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Trump menunjukkan bahwa ia tidak peduli dengan peringatan yang berdatangan dari seluruh dunia bahwa pengakuan itu berisiko menimbulkan konflik memburuk terhadap situasi di Timur Tengah, yang sudah ricuh.

Yerusalem merupakan tempat suci bagi para penganut Islam, Yahudi dan Kristen. Wilayah timur kota itu direbut oleh Israel dalam perang 1967 dan dinyatakan oleh Palestina sebagai ibu kota negara independen mereka kelak.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH