Ragam Tradisi Unik Menyambut Bulan Suci Ramadan Banyak tradisi jelang Ramadan masih bertahan hingga kini. (Foto: Pixabay/ziatee)

DI berbagai daerah Indonesia ada beragam tradisi menyambut bulan suci Ramadan. Perayaan sebagai bentuk suka cita bertemu kembali bulan puasa dan ajang silaturahmi antarmasyarakat.

Seperti di Kota Yogyakarta, masyarakat di beberapa wilayah masih mempertahankan adat, budaya dan tradisi yang rutin digelar sebelum memasuki bulan puasa, seperti ruwahan yaitu mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Terkadang, warga juga membawa beraneka rupa makanan yang memiliki makna filosofis tertentu.

1. Apeman bermakna saling memaafkan

Tradisi apeman bermakna saling memaafkan. (Foto: Pixabay/agoengadryirawan76)
Tradisi apeman bermakna saling memaafkan. (Foto: Pixabay/agoengadryirawan76)

Salah satu makanan yang kerap muncul menjelang Ramadan adalah apem. Warga pun mengenal tradisi membuat kue apem sebagai "apeman".

Selain memasak apem secara bersama-sama dalam jumlah banyak, apem kemudian diarak atau dibagikan ke warga yang lain. Bagi masyarakat Jawa, tradisi tersebut memiliki makna untuk saling memaafkan karena apem menjadi simbol maaf.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Puasa Sebentar Lagi, Yuk Baca Aturan Makan Kolak bagi Penderita Diabetes

2. Apeman dilakukan seminggu sebelum Ramadan

Apeman dilansungkan seminggu sebelum bulan Ramadan. (Foto: Pixabay/CreaPark)
Apeman dilansungkan seminggu sebelum bulan Ramadan. (Foto: Pixabay/CreaPark)

Salah satu kampung yang rutin menggelar tradisi "apeman" adalah Kampung Sosromenduran. Tradisi tersebut biasanya dilakukan satu pekan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Warga kampung bersama-sama membuat kue apem di sepanjang Jalan Sosromenduran.

Ribuan apem tersebut kemudian dinikmati oleh masyarakat maupun wisatawan, bahkan apem juga diarak keliling kampung. Kebetulan, lokasi Kampung Sosromenduran tidak berada terlalu jauh dari Jalan Malioboro yang menjadi jantung wisata di Kota Yogyakarta.

3. Ribuan kue apem diarak keliling kampung

Kue apem diarak keliling kampung dengan pakaian tradisional. (Foto: Pixabay/la_petite_ouioui)
Kue apem diarak keliling kampung dengan pakaian tradisional. (Foto: Pixabay/la_petite_ouioui)

Selain di Soromenduran, tradisi Apeman juga digelar di Kampung Tahunan. Warga bahkan menyiapkan dan mengemas acara tersebut secara khusus.

Sekitar 1.500 apem yang dimasak oleh warga diarak keliling kampung. Warga yang mengarak pun berdandan khusus dengan mengenakan pakaian tradisional khas Yogyakarta, bahkan pembawa gunungan apem mengenakan kostum layaknya prajurit.

“Tradisi seperti ini sudah rutin digelar dalam beberapa tahun terakhir. Selain untuk ‘nguri-uri’ kebudayaan dan menyambut Ramadhan, kegiatan ini juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengakrabkan warga dan sarana menarik wisatawan untuk berkunjung,” kata Lurah Tahunan Sugiarti, seperti dikutip Antara.


4. Tradisi lama yang masih terus dilestarikan

Banyak tradisi lama yang saat ini masih bertahan. (Foto: Pixabay/xusenru)
Banyak tradisi lama yang saat ini masih bertahan. (Foto: Pixabay/xusenru)

Di sekitar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tradisi "apeman" juga masih tetap dipertahankan, seperti yang digelar di "Ndalem Benawan" yang berada di Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kraton.

Ndalem Benawan dulunya adalah tempat tinggal GBPH Benowo, putra ke-36 Sri Sultan HB VIII dari BRAy Retnohadiningrum dan kini masih ditempati oleh ahli waris.

“Kegiatan budaya dan tradisi memang perlu untuk tetap dipertahankan. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah melestarikan budaya di Yogyakarta,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Berada di Persimpangan Eropa-Asia, Ini 5 Tempat Ziarah Islam di Azerbaijan


5. Merti kampung sebagai wujud syukur

Merti kampung sebagai wujud syukur. (Foto: Pixabay/ambroo)
Merti kampung sebagai wujud syukur. (Foto: Pixabay/ambroo)

Kemeriahan kegiatan menjelang Ramadhan tidak hanya berhenti pada kegiatan ruwahan maupun apeman, tetapi warga juga melakukan kegiatan membersihkan atau merawat lingkungan yang lebih dikenal dengan istilah merti kampung.

Warga Kelurahan Karangwaru Kota Yogyakarta bahkan menggelar kegiatan kirab budaya merti dusun untuk pertama kali pada tahun ini. Kirab yang digelar pada pekan terakhir April tersebut digelar dari Lapangan Karangwaru dan melintas di Jalan Magelang yang menjadi salah satu jalan utama di Kota Yogyakarta.

Kegiatan tersebut menampilkan beraga budaya seperti bregodo prajurit Keraton Yogyakarta, kesenian barongsai, hingga gunungan sayuran. Merti dapat dimaknai sebagai salah satu wujud syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Karena Sudah Terbiasa, 5 Cara Cuci Tangan yang Kita Lakukan Ternyata Salah



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH