Mamet Prambors: Radio 'Teather of Mind' yang Enggak Bakal Mati Selama masih melihat macet, di situ juga peluang radio masih besar. (Foto: Pixabay/StockSnap)

DI era yang serba digital, siaran radio masih dinikmati oleh orang banyak. Berbeda dengan menonton atau membaca, mendengarkan siaran radio bisa dilakukan sembari melakukan kegiatan penting lainnya.

Siaran radio mampu memberikan informasi lalu lintas, berita terkini, hiburan lewat cerita dan pengalaman bersama, lagu-lagu yang tidak terprediksi sehingga mampu menghilangkan penat, serta memberikan canda tawa sambil menemani kamu berjuang di kemacetan ibu kota atau menjalani aktivitas lainnya.

Baca Juga:

Begini Etika Menanggapi Curhatan Pendengar Radio ala Iwa K

Membahas tentang radio, pastinya orang Indonesia akan sangat familiar dengan Prambors FM. Menjadi salah satu
stasiun radio terfavorit di Indonesia, Prambors FM telah menemani para kawula muda sejak tahun 1971.

Pada peringati Hari Radio Nasional yang jatuh pada tanggal 11 September, kali ini merahputih.com berkesempatan secara eksklusif berbincang dengan Achmad "Mamet" Reza, selaku Produser Program "Desta & Gina in The Morning" Prambors FM. Berikut petikannya:


Mulai denger radio di umur berapa?

View this post on Instagram

YAELAH SA AE LU JAENAB!!!! . Peace Love & Gaul pokoknya deh dari @missnyctagina !!!!! . #DGITM

A post shared by 99.2 fm Prambors Radio (@wadyabalapramborssolo) on

Gua denger radio itu kira-kira SMP. Jadi SMP itu gua udah sering banget dengerin radio, karena dulu di rumah gua juga ada boombox gitu yang bisa denger radio. Radio pertama yang gua dengerin dan gua bisa berkunjung ke tempatnya adalah radio Prambors.

Kebetulan SMP gua itu adalah SMP 1 Cikini, dan salah satu temen gua itu rumahnya ada yang di daerah Mendut. Mendut itu adalah kantor radio pertama Prambors, di deket lapangan Borobudur gitu. Jadi, misalnya setiap kali gua main ke rumah temen gua, gua melewati Prambors.

Di situ gua kayak, "gokil, ni kantor keren". Udah gitu dulu di depan kantor Prambors itu ada banyak motor gede, sama kantornya itu digrafiti gitu, banyak mural-mural lucu dan keren, terus gua bilang, "ih ini kantor apa ya kok keren banget."

Pada saat itu, gua belum tahu kalau itu namanya kantor radio, yang gua tahu itu kantor keren banget. Rumah keren banget, banyak anak muda nongkrong. Terus suka ada yang main skateboard juga di halamannya, pokoknya keren bangetlah. Tapi intinya gua mendengar radio itu sekitar kelas 1 atau 2 SMP.


2. Apa yang bikin jatuh cinta dengan radio?

prambors
Radio bisa menjadi teman baik buat kamu. (Foto: Pixabay/PublicDomainPictures)

Radio itu bagai teman buat gua. Jadi dari SMP gua dengerin radio, selain Prambors gua dengerin Trax FM juga. Terus gua dengerin juga MD Radio. Jadi sebelum tidur gua selalu ganti-ganti channel itu doang tuh, Prambors, Trax, sama MD Radio.

Yang bikin gua cinta adalah karena mereka menemani gua. Penyiar malamnya, yang gua inget tuh di Trax, gue dengerin zaman Jimi Buluk, terus di Prambors ada Yudha Perdana, ada Mas Oki juga dulu. Terus misalnya di MD Radio, ada siaran yang namanya Serigala Malam.

Yang bikin gua jatuh cinta sama radio adalah yang pertama, lagunya itu gak ketebak. Kalau misalnya lo ada playlist lagu, ya lo akan ketebak, sesuka hati aja mindahin lagu. Kalau misalnya denger radio, ada lagu yang gak lo tahu, tapi lo seneng banget nih.

Bahkan dulu gua punya di handphone gua yang lama, gua punya rekaman-rekaman lagu kaya, "ah, ni lagu keren banget nih gua suka banget nih", tapi gua ga tahu judul lagunya, jadinya gua rekam aja. Zaman dulu kan handphone bisa ngerekam audio record gitu ya, jadi gua rekam di handphone gua, jadi gua dengerin lagu itu lagi meskipun gak dari awal ya. Mungkin dari reff pertama.

Selain itu, yang bikin gua cinta sama radio juga karena gua merasa kaya ditemenin sebelum tidur. Biasa gua dengerin radio tuh malem abis belajar, sampe kebawa tidur. Itu yang bikin gua cinta radio karena bisa menemani.

Baca Juga:

'Radio Gaga', Proyeksi Queen lewat Lagu untuk Radio


3. Sudah berapa lama terjun di industri radio Indonesia?

prambors
Radio hingga kini masih digemari. (Foto: Pixabay/smorazanm)

Terjun di industri radio Indonesia udah mulai dari kuliah sih. Mulai kuliah gua ikut radio kampus, kebetulan di UI ada yang namanya RTC, Radio Telekomunikasi Cipta. Kemudian gua magang juga di industri radio, yaitu di Indiga FM jadi asisten produser pagi. Di Indiga cukup lama yaitu setahun. Setelah lulus, langsung pindah ke Prambors. Sekarang di Prambors kira-kira udah tiga tahun lebih lah. Jadi total hampir empat tahunan, dari tiga radio yaitu radio kampus, Indiga FM, lalu Prambors.

4. Kesan dan pesan di bidang hiburan terutama radio?

Prambors
Radio bisa berpengaruh besar terhadap kehidupan pendengar. (Foto: Pixabay/Pexels)

Kesan dan pesan ada banyak banget. Waktu gua di Indika, radio atau program gua itu kerja sama Jakarta Smart City. Jadi gua waktu itu yang gua segmen di mana kawula muda bisa ngirim keluhannya ke radio Indika, terus nanti gua catet keluhannya, gua mintain fotonya. Misalnya ada trotoar yang rusak, atau pun ada pemalakan atau premanisme di daerahnya, dilaporin ke radio gua, kita ajak on air, terus nanti laporannya kita proses langsung ke Jakarta Smart City. Jadi nanti Jakarta Smart City langsung menindaklanjuti keluhan pendengar.

Lalu pindah ke Prambors, sekarang gua megang Desta & Gina in The Morning. Dari Desta & Gina in The Morning ada segmen namanya Rejojum (Rekomendasi Jomblo Jumat).

Yang bikin gua senang karena dengan program yang tentang jomblo-jombloan gitu, gua bawa ke Prambors, dan ternyata hasilnya lumayan mengejutkan.

Gak disangka-sangka, ada kawula muda yang bisa sampe menikah karena program radio itu, karena segmen yang gak sengaja dibikin itu. Ada yang nikah, ada yang pacaran, terus ada segmen juga di Desta & Gina in The Morning itu ada Sapa Mantan, ada yang bahkan sampai balikan.

Jadi gua berusaha untuk mengangkat kejadian real di kehidupan itu biar orang lain juga merasakan pas on air, jadi ceritanya itu bisa diperdengarkan lebih luas ke khayalak. Mungkin kalau misalnya ada yang butuh bantuan, bisa kita bahas sama-sama. Kejadian yang mungkin bisa kita tertawakan, dan tidak dibawa terlalu serius, itu bisa kita tertawakan ramai-ramai ya akan lebih seru. Penyiar gua juga seru-seru dan lucu-lucu.

Pesannya, menurut gua adalah radio tidak akan pernah mati. Apalagi untuk kamu-kamu yang masih kuliah, pengen terjun di dunia radio, terus takut karena orang tuanya bilang "radio mau jadi apa, radio kan bentar lagi mau tutup, kita beralih ke Spotify, nonton Youtube, tapi gak denger radio".

Menurut gua, selama lu masih melihat macet, di situ juga peluang radio masih besar. Apalagi di Jakarta, macet di mana-mana, otomatis orang pengen banget ditemenin di jalan. Gak cuman dengerin musik doang, kayanya bosen ya. Bosen dan ngantuk.

Kalo denger radio, ada orang ngobrol, terus lu merasa relate dengan cerita yang dibawain sama penyiarnya, lo ketawa, lo sedih. Nah, itu yang membuat lo jadi lebih hidup di kendaraan. Jadi menurut gua, jangan pernah takut untuk berkarir di dunia radio.


5. Apa yang menjadi keunggulan radio dibanding media massa lain?

Prambors
Radio seperti teathre of mind. (Foto: Pixabay/jkebbie)

Menurut gua, radio sekarang sih harusnya berkolaborasi dengan media yang lain juga, jadi gak bisa radio berdiri sendiri aja, itu gak bisa, apalagi di zaman digital sekarang ya. Radio itu dituntut untuk 360, di mana lu bisa melihat penyiar lo siapa, yang ngomong siapa. Lo bisa merasakan penyiar lo siapa dengan acara off air, lo bisa dengerin suara mereka, dan itu adalah keunggulan radio.

Dua elemen itu lagi yaitu adalah melihat dan merasakan di zaman sekarang itu harus benar-benar di praktekkan ya. Dengan strategi 360 itu, radio itu tidak bisa berdiri sendiri karena lu pasti butuh media lain. Kalo misalnya berdiri sendiri, apa yang lu sampaikan itu tidak akan menyebar luas. Kalo misalnya radio doang, gak punya Instagram, Twitter, dan Youtube, Facebook, itu menurut gua sayang. Mau promoin sesuatu acara, mau bantu orang saat on-air jadi kurang luas jangkauannya. Kita berkolaborasi dengan media lain akan menambah jumlah luas pendengar lu.

Tapi keunggulan radio sebenarnya adalah lo teather of mind sih. Jadi lo membayangkan apa yang penyiar lo katakan, bahkan sesuatu yang gak pernah lu rasain sebenarnya ketika penyiar lu menceritakan sesuatu. Lu akan tahu oh Julio orangnya kaya gini, Desta orangnya kaya gini. Seolah-olah lu berada di situasi dia. Jadi dibandingkan media massa lainnya, keunggulan radio adalah teather of mind sih. (Shn)

Baca Juga:

Sandiwara Radio yang Pernah Hits, Kamu Sudah Lahir?


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH