Raden Saleh Bukan Anak Belanda Lukisan Srihadi menampilkan sosok Raden Saleh dan Diponegoro.

SUDJOJONO, pelukis sekaligus dedengkot Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pernah mengolok-olok Mooi Indie Raden Saleh seperti lukisan untuk pensiunan Belanda, seperti hidup di surga, dan tidak terikat dengan kondisi sosial. Raden Saleh bahkan dicap 'anak Belanda'.

Hampir seluruh seniman di masa awal kemerdekaan mengamini pendapat Sudjojono. Tak bisa dipungkiri, Raden Saleh memang mendapat berbagai previlege termasuk kucuran dana pihak Belanda untuk studi seni lukis di Eropa.

Meski telah merintis melukis menggunakan teknik Barat, Sujojono tetap menolak bila Raden Salah didapuk menjadi perintis seni rupa modern. Bagi Sudjojono bukan penerapan teknik, tapi keberpihakan terhadap penderitaan rakyat Indonesia.

"Dan memang secara sadar dia (Raden Saleh) tidak mau senasib dan sepenanggungan dengan rakyat Indonesia," ungkap Sudjojono pada S Sudjojono Cerita Tentang Saya dan Orang-Orang Sekitar Saya.

Sudjojono pun memberi komentar negatif terhadap karya Raden Saleh. Dia menilai Raden Saleh tak memiliki rasa kebangsaan dan keberpihakan terhadap tanah airnya sendiri, karena melukiskan kekalahan Pangeran Diponegoro pada karyanya bertajuk Penangkapan Pangeran Diponegoro.

“Saya tidak sependapat bila seorang pelukis pribumi yang berasal dari tanah Indonesia melukiskan pahlawannya pada saat ditangkap Belanda dalam keadaan pasrah, loyo, tidak bertenaga,” ungkap Sudjojono.

Ketidaksetujuan Sudjojono lebih lanjut dituangkan dalam sebidang kanvas. Berbeda nuansa dengan Raden Saleh, dia justru melukis Diponegoro dengan gagah berani saat pertempuran Kejiwan (letaknya di antara Kalasan dan Prambanan) melawan tentara Belanda pimpinan Mayor Sollewijn. Dalam pertempuran itu Diponegoro memperoleh kemenangan.

Beberapa pelukis di masa pergerakan hingga periode 1970-an masih menyimpan anggapan negatif terhadap Raden Saleh. “Anggapan miring tentang Raden Saleh terus diwarisi hingga masa sesudah Sudjojono. Kala itu ada pula pendapat berkembang bahwa seni lukis Indonesia dimulai dari Sudjojono, bukan dari masa sebelumnya, apalagi Raden Saleh” ungkap Jim Supangkat, pada dokumentasi pameran Aku Diponegoro.

Salah satu murid Sudjojono, Srihadi Soedarsono pun semula masih mewarisi pendapat Raden Saleh 'anak Belanda'.

Di tahun 1972, Srihadi membuat sebuah lukisan menampilkan Raden Saleh dengan berbagai lambang modernitas carut-marut. Lukisan berjudul Raden Saleh dalam Seragam Baru itu, menurut Jim, merupakan bentuk kritik Srihadi kepada pemerintahan Soeharto nan kebarat-baratan, feodalis, dan militeristik. Segala dosa Orde Baru ditampilkan Srihadi pada sosok Raden Saleh.

Hasil peneliti kajian seni dan periset lainnya tentang Raden Saleh, kemudian membantu mengubah cara pandang berbagai kalangan dalam mendudukan Raden Saleh.

Salah satu hasil penelitian yang komprehensif dikerjakan oleh sejarawan asal Jerman, Werner Kraus. Banyak pihak terperangah dengan hasil karya Werner. Ia berhasil merekonstruksi simbol-simbol anti-kolonial pada lukisan berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro, Kajian itu menjadi titik tolak berubahnya persepsi negatif berbagai kalangan terhadap Raden Saleh.

Srihadi lantas berubah pikiran setelah membaca hasil riset tersebut. Dia kemudian melukis sosok Raden Saleh bersanding dengan Diponegoro pada sebuah kanvas besar berukuran 200 x 260 cm. Srihadi lantas menyematkan bintang perang gerilya miliknya pada sosok Raden Saleh.

Srihadi menerima anugerah Bintang Gerilya RI, Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I & II, atas baktinya dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Ia menjadi anggota Tentara Pelajar. Di rentang 1945-1948 ia turut membuat poster-poster untuk Balai Penerangan Divisi IV BKR/TKR di Solo. Ia pernah merasakan dinginnya dinding bui, ketika patroli militer Belanda menangkapnya. Ia kemudian dilepaskan ketika Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 desember 1945.

Lukisan karya Srihadi menegaskan bahwa Raden Saleh bukanlah 'anak Belanda'. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH