Puputan Klungkung, Ketika Raja dan Rakyat Bali Berperang sampai Mati Ilustrasi Perang Puputan Klungkung. (Foto: beritabali.com)

SELASA, 28 April 1908, Kerajaan Klungkung, Bali menjadi lautan darah. Ratusan orang berpakaian serbaputih tewas dalam perang yang dikenal dengan nama Puputan Klungkung. Tak hanya dari kalangan rakyat biasa, sang Raja Dewa Agung Jambe II (1903-1908) nan gagah berani pun gugur penuh luka.

Perang Puputan. (Foto: balisaja.com)

Sebelum perang berkecamuk, api perlawanan atas kolonial Belanda telah lebih dulu terjadi di Desa Gelgel. Pemantiknya berawal dari patroli keamanan kolonial di wilayah Kerajaan Klungkung sejak 13-16 April 1908. Para pembesar kerajaan dan rakyat tak terima. Sebab, hal tersebut dianggap melanggar kedaulatan kerajaan. Tak ayal penyerangan terhadap patroli Belanda terjadi di Desa Gelgel.

Made Sutaba dkk dalam buku "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali" menjelaskan, serangan mendadak itu menyebabkan 10 serdadu kolonial mati, termasuk seorang pemimpin serdadu mereka, Letnan Haremaker. "Mati setelah sampai di Gianyar," tulis Made Sutaba dkk.

Pihak kolonial kemudian murka, dan menuduh Kerajaan Klungkung telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Raja Dewa Agung Jambe II dan rakyat diminta untuk menyerah sampai 22 April 1908. Ancaman tersebut ternyata tak mengendurkan nyali raja dan rakyat. Justru semangat menjaga kedaulatan kerajaan semakin membesar.

Arkian, sehari sebelum ultimatum, Senin, 20 April 1908, pemerintah kolonial di Batavia mengirimkan pasukan tambahan untuk menyerang Kerajaan Klungkung.

Perang Puputan. (Foto: hariansejarah.id)

Bermodal tombak, laskar-laskar Klungkung nan gagah berani menghadapi serangan pasukan Belanda yang berbekal beberapa meriam kaliber 13 dan 15 cm. "Tapi serangan laskar Klungkung dapat dipatahkan," kata Made Sutaba dkk. Selasa, 21 April 1908, Istana Semarapura, Gelgel, dan Satria dibombardir serdadu kolonial selama 6 hari berturut-turut.

Celakanya, pada 27 April 1908, pasukan tambahan kolonial dari Batavia tiba di Desa Kusamba dan Jumpai. Kobaran perang semakin membesar. Perlawanan sengit diberikan rakyat kedua desa itu, meski persenjataan tak berimbang. Serdadu kolonial pun semakin merangsek menuju Klungkung. Istana Semarapura mulai terkepung.

Dari gempuran tersebut, Cokorda Gelgel, Dewa Agung Gde Semarabawa, Dewa Agung Muter, dan sang putra mahkota kerajaan gugur. Mengetahui kabar itu, tak membuat nyali Raja Dewa Agung Jambe II menciut. Sebaliknya, ia malah ingin segera menunaikan dharmaning ksatria, kewajiban tertinggi seorang kesatria sejati, yaitu tewas di medan perang.

Raja Dewa Agung Jambe II (tengah). (Foto: wikimedia.org)

Bersama 3.000 laskar Klungkung, Raja Dewa Agung Jambe maju menyerang kolonial. Tak lama kemudian, mereka pun gugur dalam berondongan peluru serdadu. Selasa, 28 April 1908, sore, Kerajaan Klungkung jatuh ke tangan kolonial Belanda.

Meskipun secara fisik kalah, namun Raja Dewa Agung Jambe dan rakyat menunjukkan sikap masyarakat Bali, yang menempatkan harga diri dan kehormatan di atas segala-galanya. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH