Seteru VOC Terhadap EIC di Puputan Bayu Lukisan yang mengisahkan Puputan Bayu. (Foto/jejaktapak.com)

PULUHAN ribu prajurit Blambangan bergerak menuju arena pertempuran. Mereka berseru-seru dengan semangat, membawa apa saja yang bisa digunakan sebagai senjata. Tekad mereka bulat, gugur di medan daripada menyerah kepada VOC.

Pertempuran ini kelak dikenal dengan Puputan Bayu atau perang habis-habisan membela tanah air. Sejarah mencatat kejadian terjadi pada 18 Desember 1771.

Pangeran Jagapati yang memimpin perang berada di barisan terdepan. Sesampainnya di area palagan, kedua pihak saling mengerahkan pasukan. Banyak korban berjatuhan di kedua pihak. Perang ini tercatat sebagai perseteruan paling banyak memakan korban selama VOC berada di Nusantara.

Courtesy film Puputan (Foto/Harianjambi.com)
Courtesy film Puputan (Foto/Harianjambi.com)

"Puputan Bayu di Banyuwangi adalah peperangan paling menegangkan, paling kejam, dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan VOC atau Belanda di Indonesia," tulis Cornelis Lekkerkerker dalam Balambangan, Indische Gids II.

Dalam perang tersebut, VOC menurunkan sekitar 10 ribu prajurit dengan senjata lengkap nan canggih. Diperkirakan, sekitar 8 ton emas dihabiskan pihak Belanda untuk mendanai perang tersebut. Pengucuran pasukan dan dana besar VOC tak sia-sia,. Mereka berhasih menumpas habis hampir semua prajurit Blambangan.

Tercatat, lebih dari 60 ribu prajurit Blambangan menjadi korban, baik tewas, melarikan diri, atau hilang tanpa jejak. Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java menyebut Blambangan yang dihuni lebih dari 80.000 orang menyusut menjadi 8.000 jiwa usai perang tersebut.

Pangkal Mula Puputan Bayu

Jauh sebelum perang ini pecah, sebenarnya belanda telah menguasai daerah ini lewat sebuah perjanjian dengan Kasunanan Kartasura. Sri Susuhunan Pakubuwana II yang menjadi raja terakhir membuat kesepakatan dengan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff.

Dalam perjanjiannya, Pakubuwana IIharus menyerahkan wilayah kekuasaan Mataram di Jawa bagian timur, dimulai dari Pasuruan hingga Blambangan, juga sebagian wilayah Madura. Sebagai kompensasi, VOC memberikan “uang sewa” kepada PB II sebesar 20 real setiap tahun.

Belanda yang mengetahui bahwa Blambangan sebenarnya bukan termasuk wilayah yang diprakasai Kasunanan Kartasura diam cuek. Hal ini terjadi karena mereka tak begitu tertarik dengan daerah itu. Blambangan sendiri sejatinya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi karena lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari Bali.

Matraman yang satu pulau dengan Blambangan dicap langsung milik mereka dan Kerajaan Mengwi tak banyak protes dengan hal itu.

Ulah Polisi Inggris

Seiring berjalannya waktu, Mengwi yang mendapat keuntungan besar dari wilayah itu mulai mengatur siasat untuk merebut kembali daerahnya. Melalui polisi Inggris mereka mulai menjalankan strateginnya.

Inggris di beri izin Mengwi untuk mendirikan kantor dagang di Ulu Pampang, kota pelabuhan yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan sebelum runtuh pada 1580. Kantor tersebut subur dan ramai pada masanya.

VOC yang sudah mengusai daerah itu lewat perjanjian merasa iri. Niat tak memprioritaskan Blambangan lampau berputar 180 derajat. Melihat keramaian dan dominasi Inggris, pada Agustus 1766 VOC melakukan patroli laut di Selat Bali dan sekitarnya guna menangkap kapal-kapal Inggris.

Akibat patroli tersebut daerah Blambangan menjadi kacau panik. VOC terpaksa mengirimkan ekspedisi militer ke Blambangan. "Pimpinan Erdwijn Blanke mengutus sebanyak 335 serdadu Eropa, 3000 laskar Madura dan Pasuruan, 25 kapal besar dan sejumlah yang kecil lainnya ke Blambanga," tulis Sudjana.

Kejadian berlanjut hingga VOC melancarkan serangan ke Blambangan. Pribumi yang sangat membenci orang asing itu melakukan banyak perlawanan. Belanda dengan digdayanya tak bisa dipukul mundur. Akhirnya masyarakat yang harus meninggalkan daerah tersebut.

Kebanyakan mereka berpindah ke Bayu, suatu daerah yang terletak di kaki Gunung Raung yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Dari sinilah nantinya prajurit Blambangan melakukan serangan habis-habisan yang dikenal dengan nama Puputan Bayu. (*)

Baca Juga: Sejarah Asal Mula Orang Osing Banyuwangi



Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH