Punya Banyak Buku Tapi Tak Pernah Dibaca? Mungkin Kamu Mengalami Tsundoku Tsundoko, kebiasaan membeli buku yang tidak pernah dibaca. (Foto: Unsplash/@Darwin Vegher).

PERNAH enggak pergi ke toko buku dan lapar mata? Semua sampul terlihat sangat menawan dan menggiurkan. Tanpa pikir panjang kamu membawanya ke kasir dan membayar. Namun, bukannya langsung dibaca kamu malah hanya menyimpannya dan membiarkannya tergeletak begitu saja.

Tak berapa lama, kamu kembali melangkahkan kaki ke dalam toko. Melihat lagi buku baru yang sepertinya seru, membelinya, dan tidak membacanya lagi. Lucunya, siklus ini terjadi terus menerus. Kalau kamu salah satu pelakunya, artinya kamu mengalami fenonema Tsundoku.

Baca juga:

Perpustakaan Bukan Cuma Tongkrongan Si Kutu Buku

Punya Banyak Buku Tapi Tak Pernah Dibaca? Mungkin Kamu Mengalami Tsundoku
Istilah ini digunakan untuk mereka yang selalu membeli buku namun malah membiarkannya menumpuk dan tidak dibaca. (Foto: Unsplash/@Florencia Viadana)

Tsundoku, melansir laman Open Culture, merupakan istilah untuk menggambarkan kebiasaan membeli banyak buku yang pada akhirnya tidak dibaca. Kata tersebut berasal dari awal Jepang modern, tepatnya era Meiji dari tahun 1868 hingga 1912.

Awalnya diambil dari permainan kata-kata. Secara harafiah, Tsundoku berarti tumpukan bacaan. Sedangkan dalam penulisan bahasa Jepangnya ditulis sebagai Tsunde oku yang berarti membiarkan sesuatu menumpuk.

Seiring waktu, mereka menukar kata oku di tsude oku menjadi doku. Akan tetapi karena tsundo doku sulit untuk diucapkan, akhirnya digabungkan menjadi Tsundoku.

Biasanya semua bermula dari kegiatan menundu-nunda. Berjanji akan membacanya, namun tak ada kesempatan. Ditambah dengan keinginan kuat untuk selalu membeli buku baru akhirnya membuat semuanya jadi menumpuk. Sampai-sampai kewalahan sendiri menghadapi banyaknya buku yang belum dihabiskan.

Baca juga:

Manfaat Rutin Bacakan Buku kepada Bayi

Pertanyaannya, apakah Tsundoku merupakan sebuah kesalahan? Kalau melihat tujuan awalnya, sebenarnya jawabanya tidak karena pelakunya memang mempunyai keinginan untuk membaca.

Selain itu, Tsundoku juga memberi motivasi yang mendorong seseorang untuk kembali merobek plastik pembungkus dan mulai membalik halaman-halaman baru.

Apalagi buku adalah jendela dunia, jadi membeli buku seharusnya bukanlah sebuah kejahatan. Keuntungan berikutnya, Tsundoku ini memungkinkan seseorang untuk membaca kapanpun dimanapun karena tempat mereka sudah seperti perpustakaan.

Punya Banyak Buku Tapi Tak Pernah Dibaca? Mungkin Kamu Mengalami Tsundoku
Kebiasan Tsundoku akan membuatmu kewalahan karena merasa tertekan harus menghabiskan buku yang sudah dibeli. (Fotoz; Pexels/@Andrea Piacquadio)

Sayangnya, ada pula dampak buruk dari kebiasaan ini. Mereka jadi memiliki perasaan depresi untuk menmpuknya. Motivasi dan rasa ingin tahu di awal akhirnya dibajak oleh perasaan tertekan. Mau tidak mau harus dibaca agar tidak rugi karena sudah mengeluarkan banyak uang.

Lebih lanjut, semakin lama kebiasaan ini dipelihara, maka seseorang akan jadi lelah sendiri karena secara tak langsung harus bertanggung jawab dengan semua buku yang belum disentuh. Belum lagi tempatmu akan terlihat sangat berantakan penuh dengan buku-buku yang bertebaran.

Lantas, bagaimana cara terbaik untuk menghentikan kebiasaan ini? Laman Medium membagikan setidaknya lima cara mudah untuk membantumu yang sering Tsundoku. Pertama dengan membatasi jumlah pembelian buku.

Misalnya hanya boleh tiga buku selama satu bulan. Kemudian tips berikutnya masih berkaitan yaitu cari buku yang memang benar-benar membuatmu tertarik. Kenali dulu kesukaanmu dan jangan membeli buku secara asal.

Ketiga, jangan biarkan buku menumpuk dalam waktu yang terlalu lama. Melihat buku-buku dalam tumpukan akan membuatmu semakin terdorong untuk melakukannya lagi dan lagi.

Selanjutnya, jual atau donasi buku-buku Tsundoku. Lebih baik memberikannya pada orang yang benar-benar membaca daripada dibiarkan begitu saja menjadi sarang debu.

Terakhir, berhenti membaca kapanpun. Jangan jadikan kegiatan membaca sebuah kewajiban. Jalankan dengan santai agar tidak tertekan dan depresi. Dengan demikian kegiatan ini akan jadi sebuah hal yang menyenangkan sehingga kamu bisa lanjut membaca buku di tumpukan berikutnya. (sam)

Baca juga:

Perut Mulas di Toko Buku? Mungkin Kamu Mengalami Fenomena Mariko Aoki

Tag
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Sandiaga Uno Yakin Produk Lokal Tidak Kalah Bersaing
Fun
Sandiaga Uno Yakin Produk Lokal Tidak Kalah Bersaing

Produk-produk lokal tidak kalah bersaing ketika memiliki tekad yang kuat.

Catsuit Sampai Chain Belt, Intip 4 Tren Pakaian dan Aksesoris Pada 2022
Fashion
Catsuit Sampai Chain Belt, Intip 4 Tren Pakaian dan Aksesoris Pada 2022

Mana gaya berpakaian yang paling cocok dengan seleramu?

Tips Masak Sehat ala Chef Renatta
Hiburan & Gaya Hidup
Tips Masak Sehat ala Chef Renatta

Tubuh perlu makanan bernutirsi di masa pandemi ini.

Rayakan Valentine dengan Mencintai Diri Sendiri
Fun
Rayakan Valentine dengan Mencintai Diri Sendiri

Cintai diri sendiri sebelum mulai mencintai orang lain.

 Michelle Joan Curhat Sulitnya Move On di Single 'Susah Payah'
ShowBiz
Michelle Joan Curhat Sulitnya Move On di Single 'Susah Payah'

Pembuktian pelebaran sayap ke dunia tarik suara.

Fakta Menarik Penyanyi Anggun C. Sasmi
ShowBiz
Fakta Menarik Penyanyi Anggun C. Sasmi

Anggun C. Sasmi menorehkan banyak prestasi, baik dalam maupun luar negeri.

Dior Tunjuk Kylian Mbappe Jadi Global Ambassador
ShowBiz
Dior Tunjuk Kylian Mbappe Jadi Global Ambassador

Bakal muncul memamerkan Sauvage Fragrance dan men’s collection.

 Pendukung Trump Bikin Freedom Phone, Apa Itu?
Hiburan & Gaya Hidup
Pendukung Trump Bikin Freedom Phone, Apa Itu?

Diklaim dapat membebaskan penggunanya dari pengaruh big tech.

Jin BTS Pakai Sweater Made in Negeri Aing, ARMY Heboh Minta Restock
Fashion
Jin BTS Pakai Sweater Made in Negeri Aing, ARMY Heboh Minta Restock

Deva States akhirnya memproduksi kembali sweater itu.

Panduan Buat Kamu Ketika Masih Bingung Datang ke Hajatan Mantan
Hiburan & Gaya Hidup
Panduan Buat Kamu Ketika Masih Bingung Datang ke Hajatan Mantan

Pertimbangkan beberapa hal sebelum datang ke hajatan mantan.