Puluhan Terduga Teroris Ditangkap dan Tiga Tewas Pasca Bom Bunuh Diri Medan Densus 88 menggeledah rumah terduga teroris di Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (18/11). (MP/Ismail)

MerahPutih.com - Pasca insiden bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, polisi langsung melakukan penangkapan besar-besaran. Sebanyak 71 orang terduga teroris ditangkap dan tiga orang di antaranya meninggal dunia.

"Jadi yang lanjut penyidikan 68 orang karena meninggal dunia 3 orang," kata Kadiv Humas Polri Irjen Mochammad Iqbal kepada wartawan di Gedung Tri Brata, Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan, Selasa (19/11).

Baca Juga:

Densus 88 Tangkap Tiga Terduga Teroris di Solo, Semuanya Dibawa ke Jakarta

Penangkapan terbanyak dilakukan di Medan dengan jumlah 30 terduga teroris. Sedangkan di Aceh, dua orang yang sempat ditangkap akhirnya dilepaskan karena tak terbukti.

Sketsa wajah seorang pria yang diduga sebagai pelaku penyiraman cairan kimia terhadap dua siswi SMPN 229 Jakarta Barat. ANTARA/HO-Polda Metro Jaya
Sketsa wajah seorang pria yang diduga sebagai pelaku penyiraman cairan kimia terhadap dua siswi SMPN 229 Jakarta Barat. ANTARA/HO-Polda Metro Jaya

"Wilayah Pekanbaru total 5 orang, Jabodetabek 3 orang, Banten 5 orang, Jateng 11, Medan ini paling banyak 30 orang, Jawa Barat 11 orang, Kalimantan 1 orang, Aceh tadinya 4, tapi 2 dipulangkan karena tidak terbukti, Jatim 2 orang, Sulsel 1 orang," ungkap Iqbal.

Terduga teroris yang meninggal, pertama, yakni RMN, pelaku bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Rabu (13/11).

Kedua, NP dan K alias Khoir. Keduanya merupakan perakit bom bunuh diri yang digunakan RMN. Keduanya tewas saat penggerebekan.

Dari total 71 terduga teroris itu, Iqbal belum dapat memastikan secara spesifik berapa terduga teroris itu yang berkaitan dengan serangan bom bunuh diri di Maporestabes Medan.

"Belum. Saya janji, ketika sudah (selesai diselidiki), saya akan ekspose," ujar Iqbal.

Baca Juga:

Densus 88 Polri Ciduk 6 Terduga Teroris Jaringan JAD di Cirebon

Sementara, Menkopolhukam Mahfud MD mengapresiasi langkah cepat kepolisian.

Dokumentasi polisi berjaga saat  penggeledahan rumah terduga teroris di Desa Waringinrejo, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (16/10/2019). Di situ tim Densus 88 Antiteror Polri menggeledah dua rumah terduga teroris dan menyita sejumlah dokumen dan buku diduga terkait radikalisme. ANTARA FOTO/Ardi Kuncoro.
Dokumentasi polisi berjaga saat penggeledahan rumah terduga teroris di Desa Waringinrejo, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (16/10/2019). Di situ tim Densus 88 Antiteror Polri menggeledah dua rumah terduga teroris dan menyita sejumlah dokumen dan buku diduga terkait radikalisme. ANTARA FOTO/Ardi Kuncoro.

Menurut dia, tindakan radikal dikategorikan dalam tiga klasifikasi, yang pertama menganggap orang lain musuh, kedua pengeboman atau penyerangan, lalu yang ketiga adu wacana tentang ideologi.

"Nah ini sudah masuk yang kedua jihadis namanya," ucapnya.

Mahfud mengajak seluruh pihak untuk memberikan kesempatan pada aparat untuk melakukan upaya penanganan dan tindakan hukum terhadap aksi terorisme tersebut.

"Kepada masyarakat jangan selalu nyinyir, kalau pemerintah bertindak lalu dikatakan melanggar HAM, kalau tidak bertindak dibilang kecolongan, kita sama-sama dewasa menjaga negara ini," ujar Mahfud. (Knu)

Baca Juga:

Teror Air Keras di Jakarta Barat Diduga Bermula dari Kasus Novel?


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH