Puluhan Siswa Positif Corona di Yogyakarta Berasal dari Dua Pondok Pesantren Tes usap massal di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Foto: MP/Teresa Ika

MerahPutih.com - Gugus tugas penanganan COVID-19 Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengumumkan, adanya 47 siswa yang positif COVID-19. Seluruh siswa tersebut adalah santri dari dua pondok pesantren.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo menjelaskan, kedua pondok pesantren tersebut terletak di Kecamatan Ngaglik dan Kecamatan Prambanan.

"Laporan terbaru hingga Rabu (30/09), sebanyak 41 santri dari Ponpes di Ngaglik, sementara 6 lainnya santri di Ponpes Kecamatan Prambanan," ujar Joko dalam jumpa pers di Yogyakarta, Rabu (30/9) 2020.

Baca Juga

Update Kasus Corona DKI Rabu (30/9): 74.368 Positif, 60.320 Sembuh

Namun, Joko engga menyebutkan nama dan lokasi kedua ponpes tersebut. Ia menjelaskan sejumlah Ponpes di Kabupaten Sleman telah melakukan pembelajaran tatap muka sejak beberapa bulan lalu.

Kronologi diketahuinya santri positif COVID-19 di Ponpes Ngaglik bermula dari adanya seorang santri yang menunjukkan gejala corona pada akhir Agustus 2020. Gejala yang dirasakan yakni flu, batuk, pilek dan demam. Gejala tersebut hilang beberapa hari kemudian. Sayangnya, santri tersebut tidak melaporkan gejala tersebut kepada Satgas penanganan corona di Ponpes.

"Santri anggap itu flu biasa. Dia gak periksa ke klinik dan gak lapor ke Satgas Ponpes. Gak lama kemudian dia kembali merasakan gejala COVID-19. Indra penciuman dan pengecapannya berkurang," jelas Joko.

Saat mengalami gejala ke-2 sang santri segera memeriksakan diri ke klinik. Dokter klinik yang curiga sang santri terpapar Corona, kemudian melaporkan hal ini pada Puskesmas dan Tim Satgas penanganan Corona di Ponpes.

Tim Satgas segera bergerak cepat melakukan test usap dan test cepat sang santri dan semua pihak yang kontak erat dengan santri tersebut. Tim satgas juga segera melakukan test cepat seluruh santri yang mengalami gejala COVID-19.

"Hasilnya sang santri positif Corona. Lalu, dari 122 lainnya yang ikut rapid test, ada 45 yang reaktif. Dari 45 orang kami test swab, sebanyak 41 positif COVID-19," kata Joko.

Seluruh santri yang positif COVID-19 sudah dikarantina di tempat khusus yang disiapkan oleh pondok pesantren di kecamatan Ngaglik. Sementara itu pengelola ponpes sudah menutup dan menghentikan kegiatan belajar mengajar selama lima hari kedepan.

"Selama ditutup, pihak ponpes melakukan penyemprotan disinfektan Santri yang sehat melakukan isolasi mandiri di dalam Ponpes," terang Mantan Direktur RSUD Murangan ini.

Sedangkan, santri di Ponpes Kecamatan Prambanan diketahui positif COVID-19 usai melakukan pemeriksaan mandiri. Santri tersebut merasakan gejala COVID-19 usai berpegian keluar kota.

Tim Satgas penanganan COVID-19 Ponpes Prambanan kemudian melakukan tracing mandiri serta test cepat dan test usap kepada pihak-pihak yang kontak erat dengan Santri.

"Hasilnya lima santri lainnya positif COVID-19. Jadi, total ada 6 santri di Ponpes kecamatan Prambanan yang positif. Semua yang positif sudah di karantina di asrama haji,"kata Joko.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Sleman Hardo Kiswaya menegaskan pihaknya akan segera melakukan evaluasi dan pengecekan kembali protokol kesehatan di sejumlah pondok pesantren.

Baca Juga

Wagub DKI: Anies Minta Pembahasan Raperda COVID-19 Segera Ditetapkan

Selain itu, Pemkab Sleman akan lebih memperketat pemberian izin pembukaan pondok pesantren demi mencegah penyebaran virus COVID-19.

"Ke depan kami tidak akan berikan izin sementara waktu pembukaan Ponpes," tegas Harda.

Berdasarkan catatan dari Pemerintah Kabupaten Sleman hingga kini ada 145 ponpes yg mengajukan izin kegiatan belajar mengajar tatap muka. Dari jumlah tersebut baru 25 ponpes yang sudah mendapatkan izin. (Teresa Ika/Yogyakarta)

Kredit : patricia

Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH