Pulihkan Ekonomi, Indonesia Bergantung Pada Surat Berharga Negara Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Antara)

MerahPutih.com - Krisis saat ini dinilai berbeda dengan 1998 dan 2008 karena merupakan guncangan besar yang tidak pernah dialami negara-negara manapun di era modern. Pandemi COVID-19 ini, memukul perekonomian masyarakat secara luas termasuk rumah tangga dan pelaku usaha, terutama UMKM.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan untuk mengatasi krisis ini, pemerintah bergantung pada penerbitan surat berharga (surat utang) negara di dalam negeri dan memberikan kesempatan pada bank sentral untuk ikut terlibat di pasar primer.

Selain itu, diharapkan peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah.

Baca Juga:

Begini Kriteria Utang UMKM Yang Dijamin Pemerintah

Ia menegaskan, pemerintah bakal lebih berperan dalam masa-masa ketidakpastian karena hampir seluruh sektor publik hingga swasta terkena imbas wabah COVID-19.

Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi krisis pandemi ini adalah dengan menyiagakan stimulus fiskal hingga Rp695,2 triliun dan memperlebar defisit anggaran hingga 6,34 persen PDB.

"Krisis kali ini berbeda sekali karena kita harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus. Untuk membendung penyebaran virus, kita harus membatasi pergerakan manusia," ujar Sri Mulyani seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Baca Juga:

Kerusuhan di Madina, Enam Personel Kepolisian Luka-luka


Tags Artikel Ini

Alwan Ridha Ramdani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH